Saturday, 1 April 2017

saya seorang salafy tetapi tidak ta’ashub dengan manhaj, rek

Bismillaah

Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry hafizhahullah

Pertanyaan:
Ini adalah pertanyaan tentang sebuah ungkapan, - semoga Allah berbuat baik kepada anda-. Penanya mengatakan: Apa pendapat anda tentang ungkapan ini: “Saya salafi tetapi tidak ta’ashub (fanatik) dengan manhaj”?

Jawaban:
Ungkapan ini bisa karena jahil (bodoh) atau la’ab (suka bermain-main). Satu di antara dua perkara ini. Bisa jadi orang ini jahil, tidak tahu tentang manhaj salaf apa itu dan bisa jadi karena dia ini la’ab. Sama saja karena yang ini atau yang itu, tetap tidak pantas bagi seorangpun untuk mengambil ilmu darinya. Karena seorang salafi tidak memiliki sikap ta’ashub, yang ada hanyalah sikap tamassuk. Tamassuk (berpegang teguh) dengan manhaj yang diwarisi oleh para shahabat dari Nabi shallallahu ‘alaihi was salam dan para tabi’in dari para shahabat. Kemudian kaum muslimin senantiasa waris mewarisinya, generasi belakangan dari generasi dalafnya (pendahulunya). Ia berpegang teguh dengannya.

Ini artinya bahwa ia mengikuti setiap jalannya. Dan (tamassuk) ini diantara perkara yang menghempaskan kaedah al-ma’dzirah wat ta’awun. Kita saling bahu membahu dalam perkara yang kita sepakati dan saling memberikan udzur sebagian kita dengan sebagian lainnya dalam perkara yang kita perselisihkan. Kaedah ini telah kita jelaskan panjang lebar di banyak tempat dan majelis. Na’am.

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment