Monday, 22 June 2015

tentang tidur, part 7, rek

Bismillaah

Pada pertemuan pertama dari silsilah kita ini, padanya kami sebutkan perkataan al-'Ujaili tentang macam-macam tidur, yang mana tidur terbagi menjadi tujuh macam;

a. Tidurnya orang lalai, yaitu tidur ketika berada di majelis dzikir (ilmu),
b. tidurnya orang yang celaka, yaitu tidur di waktu shalat,
c. tidurnya orang yang dilaknat, yaitu tidur pada waktu shalat shubuh,
d. tidurnya orang yang mendapat hukuman, yaitu tidur seusai shalat shubuh,
e. tidurnya orang yang dalam keadaan lega, yaitu tidur sebelum dzuhur,
f. tidurnya orang yang mendapatkan rahmat, yaitu tidur setelah shalat isya,
g. tidurnya orang yang mendapatkan penyesalan, yaitu tidur pada malam hari jumat.
[Futuhat al-Wahhab, 1/274]

Bila kita perhatikan pembagian tujuh macam tidur diatas, ternyata tidak ada asalnya dari kitab dan as-Sunnah. Yang benar adalah barangsiapa yang tidur ketika shalat atau sampai terluputkan waktu shalat dengan sengaja, maka orang yang seperti inilah yang akan mendapatkan hukuman dari Allah dan dia berdosa atas perbuatannya. Adapun jika tidak sengaja, ia telah berusaha memasang jam weker/ alarm atau mewakilkan kepada seseorang untuk membangunkannya, namun ternyata terlelap tidak bangun sehingga terlewatkan waktu shalat, maka tidaklah mendapatkan dosa atas perbuatannya, sebagaimana hal ini disabdakan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam:

«أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى»

"Tidaklah dikatakan meremehkan shalat karena ketiduran, hanyalah dikatakan meremehkan (shalat) itu bagi orang yang tidak menunaikan shalat hingga tiba waktu shalat yang lain. "
[HR. Muslim, dari shahabat Abu Qatadah]

Baarakallahufiikum

2 comments: