Tuesday, 30 June 2015

hijrah kepada nama yang baik, rek

Bismillaah

Afwan ana mau tanya.
Bagaimanakah hukumnya orang yang semenjak lahir diberi nama oleh orang tuanya, nama yang banyak dpakai orang kafir, seperti misalnya nama ana "Mike".
Apakah ana berdosa kalau nama itu tidak ana ubah?
Apakah ana diwajibkan untuk mempunyai nama hijrah?
Dan bagaimana menghadapi orang diluar sana yang sudah mengenal nama ana sebelumnya?
Jazaakillahu khoiron

JAWABAN
Tentang nama anak, itu kewajiban orang tua untuk memberi nama yang baik untuk anaknya. Sehingga kalau tidak diberi nama baik, dosanya bukan dipikul anaknya. Dan sebagai wanita yang thalibul ilmi, sebaiknya anti hijrah kepada nama yang baik. Sebab pada yaumul hisab kita akan dipanggil dengan suara keras, nama kita lengkap dengan nama orang tua, maka kita bangga jika nama kita bagus.

Sebaliknya malu jika nama kita jelek apalagi seperti nama kuffar. Hijrahlah dengan nama yang bagus. Adapun orang lain, semampunya anti memberitahu ke orang lain tentang perubahan nama anti. Selanjutnya anti tidak dituntut semua orang harus tahu. Yang penting anti sudah niat dan ikhtiar hijrah nama.

oleh Ustadzah Ummu Abdillah Zainab

Baarakallahufiikum

Monday, 29 June 2015

apakah darurat buang angin saat shalat, rek

Bismillaah

Afwan ustadzah, apakah orang yang sakit kembung sehingga buang angin terus menerus dihukumi dharurah jika dalam sholat menahan angin sebab jika tidak, maka dia tidak bisa sholat karena batal terus.

JAWABAN
Hukum asalnya menahan hadats dan keluarnya angin ketika shalat TIDAK BOLEH, tapi jika itu karena was" dari godaan syetan, maka harus dilawan yakni ditahan sekuatnya.

Dan jika karena penyakit seperti yang anti tanyakan, maka berobatlah ke dokter. Kembung sehingga sering buang angin mungkin karena ada penyakit di lambung/maag, atau sebab-sebab lain. Kalau ingin mencoba obat herbal, minumlah madu + air, atau coba daun na'na'/daun mint yang disedu dengan air hangat, insyaallah dapat mengobati kembung.

Ana tidak mengetahui adanya dharury dalam hal ini. Allahu a'lam.

oleh Ustadzah Ummu Abdillah Zainab

Baarakallahufiikum

Sunday, 28 June 2015

pemberian zakat kepada orangtua yang melakukan kesyirikan, rek

Bismillaah

Apa boleh suami memberikan zakatnya untuk orang tua yang melakukan syirik yaitu datang ke dukun/paranormal dan juga melakukan kebid'ahan, tapi orang tua punya hutang banyak melebihi dari harta yang mereka miliki?

JAWABAN
Orang tua yang musyrik tidak boleh dibantu tapi justru harus dibaro', sebagaimana baro'nya nabi Ibrahim kepada bapaknya Azar.

oleh Ustadzah Ummu Abdillah Zainab

Baarakallahufiikum

Saturday, 27 June 2015

tentang tidur, part 12, rek

Bismillaah

MANFAAT AL-QAILULAH:

Al-Qailulah adalah istirahat sebentar di siang hari, hal ini telah menjadi kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabatnya. Ini merupakan sunnah yang telah banyak ditinggalkan oleh kebanyakan kaum muslimin, bahkan sebagian manusia menganggap bahwa istirahat siang itu seperti anak kecil atau tidurnya orang-orang yang malas bekerja. Ini adalah anggapan yang salah, karena syariat kita telah menuntun kita untuk istirahat siang. Setiap syariat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, pasti padanya suatu hikmah, baik hikmah tersebut kita ketahui maupun tidak. Bahkan di beberapa perusahaan asing, seperti Amerka dan Jepang telah menerapkan istirahat atau tidur siang untuk para karyawannya, karena mereka melihat dan membandingkan pada karyawan yang melakukan tidur siang ternyata lebih fokus, fresh (segar), semangat dan tidak mudah mengantuk serta tidak mudah sakit dalam hari-hari produktif bekerja.

Betapa indahnya ajaran Islam, sampai-sampai perkara tidur pun diatur dan dibimbing oleh syariat. Hal ini menunjukan kesempurnaan dan kemuliaan Islam yang sudah seyogyanya bagi setiap muslim untuk senantiasa semangat mengamalkan segala hal yang telah menjadi tuntunan syariat ini.

Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang kami sampaikan banyak memberikan faedah dan motivasi, agar kita lebih semangat dalam mengamalkan segala tuntunan yang telah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 14 Rabiul Awal 1436/ 5 Januari 2015_di kota Ambon Manise.

Baarakallahufiikum

Friday, 26 June 2015

tentang tidur, part 11, rek

Bismillaah

WAKTU AL-QAILULAH:

Al-Qailulah dilakukan sebelum matahari tergelincir ke barat atau sebelum masuk waktu dzuhur. Adapun jika tidak sempat istirahat sebelum dzuhur maka al-Qailulah bisa dilakukan setelah shalat dzuhur, hal ini sebagaimana ditunjukan dalam hadist Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَا كُنَّا نَقِيلُ، وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

"Biasanya kami tidaklah beristirahat siang dan tidak pula makan siang kecuali setelah menunaikan shalat Jum'at pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Berkata Ibnu Qutaibah rahimahullah:
Tidaklah dinamakan makan siang dan al-Qailulah jika dilakukan setelah matahari tergelincir."
[Nailul Authar: 3/309]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«كَانُوا يُجَمِّعُوْنَ ثُمَّ يَقِيْلُوْنَ»

Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang (qailulah).”
[HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dishahihakan asy-Syaikh al-Albani]

‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, belaiu mengatakan kepada mereka,:

قُوْمُوا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ. ثُمَّ لاَ يَمُرُّ عَلَى أَحَدٍ إِلاَّ أَقَامَهُ

Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang)! Yang tertinggal (pada waktu ini) hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.”
[HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, Berkata asy-Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1647: Sanadnya hasan]

Thursday, 25 June 2015

tentang tidur, part 10, rek

Bismillaah

Qailulah atau tidur siang

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN QAILULAH?

Berkata Ibnul Atsir rahimahullah:
Qailulah adalah istirahat di tengah hari, walaupun tidak disertai tidur.
[An-Nihayah fi Gharibil Hadits: 4/133]

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

«قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ»

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.”
[HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, Berkata asy-Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1647: Sanadnya hasan]

Baarakallahufiikum

Wednesday, 24 June 2015

tentang tidur, part 9, rek

Bismillaah

Waktu tidur yang disunnahkan

Tidur di awal malam

عَنِ الأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ؟ قَالَتْ: «كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ، فَيُصَلِّي، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ، فَإِذَا أَذَّنَ المُؤَذِّنُ وَثَبَ، فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ، اغْتَسَلَ وَإِلَّا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ»

Dari al-Aswad berkata; "Aku bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang cara Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam".
'Aisyah radhiyallahu 'anha menjawab: "Beliau tidur di awal malam dan bangun untuk shalat di akhir malam dan shalat, lalu beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila mu'adzin sudah mengumandangkan adzan, maka Beliau bersegera. Bila saat itu Beliau punya hajat (kepada isterinya), maka Beliau mandi. Bila tidak, maka Beliau hanya berwudhu' lalu keluar untuk shalat".
[Muttafaqun ‘alaihi]

Waktu tidur yang terbaik ialah di awal malam, hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, janganlah kalian terlewatkan tidur selepas isya kecuali jika ada keperluan, seperti musyawarah, menerima tamu atau urusan penting yang lainnya. Kebiasaan tidur terlalu malam bisa bermudarat bagi kesehatan, hal ini telah dibuktikan oleh para ahli kedokteran. Apa yang telah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah waktu tidur yang terbaik. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah tidur melampaui batas yang dibutuhkan tubuh, tidak juga menahan diri untuk beristirahat sesuai kebutuhan. Inilah prinsip pertengahan yang Beliau ajarkan kepada umatnya. Hal ini selaras dengan fitrah manusia, jauh dari sikap berlebih-lebihan ataupun mengurangi atau meremehkan.

Baarakallahufiikum

Tuesday, 23 June 2015

tentang tidur, part 8, rek

Bismillaah

Dan tidak ada larangan tidur di waktu tertentu dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali hadits Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhu;

«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَخِّرُ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ، وَيَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا» الحديث

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat isya` hingga sepertiga malam, dan beliau tidak menyukai tidur sebelum isya` dan berbincang-bincang sesudahnya."
[HR. al-Bukhari dan Muslim]

Adapun tidur setelah shubuh, maka para Salaf dahulu tidak menyukai hal tersebut, karena merupakan waktu yang terdapat padanya keutamaan-keutamaan, seperti turunnya barakah, waktu berdzikir, berdoa, membaca al-Quran dan menambah hafalan.

Baarakallahufiikum

Monday, 22 June 2015

tentang tidur, part 7, rek

Bismillaah

Pada pertemuan pertama dari silsilah kita ini, padanya kami sebutkan perkataan al-'Ujaili tentang macam-macam tidur, yang mana tidur terbagi menjadi tujuh macam;

a. Tidurnya orang lalai, yaitu tidur ketika berada di majelis dzikir (ilmu),
b. tidurnya orang yang celaka, yaitu tidur di waktu shalat,
c. tidurnya orang yang dilaknat, yaitu tidur pada waktu shalat shubuh,
d. tidurnya orang yang mendapat hukuman, yaitu tidur seusai shalat shubuh,
e. tidurnya orang yang dalam keadaan lega, yaitu tidur sebelum dzuhur,
f. tidurnya orang yang mendapatkan rahmat, yaitu tidur setelah shalat isya,
g. tidurnya orang yang mendapatkan penyesalan, yaitu tidur pada malam hari jumat.
[Futuhat al-Wahhab, 1/274]

Bila kita perhatikan pembagian tujuh macam tidur diatas, ternyata tidak ada asalnya dari kitab dan as-Sunnah. Yang benar adalah barangsiapa yang tidur ketika shalat atau sampai terluputkan waktu shalat dengan sengaja, maka orang yang seperti inilah yang akan mendapatkan hukuman dari Allah dan dia berdosa atas perbuatannya. Adapun jika tidak sengaja, ia telah berusaha memasang jam weker/ alarm atau mewakilkan kepada seseorang untuk membangunkannya, namun ternyata terlelap tidak bangun sehingga terlewatkan waktu shalat, maka tidaklah mendapatkan dosa atas perbuatannya, sebagaimana hal ini disabdakan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam:

«أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى»

"Tidaklah dikatakan meremehkan shalat karena ketiduran, hanyalah dikatakan meremehkan (shalat) itu bagi orang yang tidak menunaikan shalat hingga tiba waktu shalat yang lain. "
[HR. Muslim, dari shahabat Abu Qatadah]

Baarakallahufiikum

Sunday, 21 June 2015

nasehat kepada anak kita, part 9, rek

Bismillaah

Doronglah putra-putrimu untuk berpegang kepada al-Jama'ah di bawah kekuasaan pemerintahnya. Katakan kepada mereka, bahwa pada persatuan itu terdapat rahmat, sementara pada perpecahan terdapat adzab.

asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah


Baarakallahufiikum

Saturday, 20 June 2015

kesalahan pada istri, part 6, rek

Melakukan Nusyuz kepada suami.

Nusyuz adalah seorang istri mengangkat dirinya diatas suaminya, menyelisihi perintahnya, keluar dari ketaatan kepadanya.

Berkata Ibnu Qudamah:

معنى النشوز معصية الزوج فيما فرض الله عليها من طاعته

“Makna Nusyuz adalah bermaksiat kepada suami didalam perkara yang Allah wajibkan istri untuk taat kepada suaminya” (Mugni:10/259)

Nusyuz nya seorang istri kepada suaminya merupakan kesalahan yang sangat fatal yang dilakukan seorang istri kepada suami yang datang ancaman mengerikan tentangnya. Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda:

اثْنَانِ لا تُجَاوِزُ صَلاتُهُمَا رُءُوسَهُمَا : عَبْدٌ آبِقٌ مِنْ مَوَالِيهِ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَيْهِمْ ، وَامْرَأَةٌ عَصَتْ زَوْجَهَا حَتَّى تَرْجِعَ

Dua orang yang tidak lewat shalat mereka dari  kepala mereka: seorang budak  yang lari dari tuan (majikanya) sampai dia kembali, seorang istri yang bermaksiat (tidak taat) kepada suaminya sampai dia kembali (taat).” (HR Ath-Thabrani, al-Hakim dihasankan oleh syaikh al-Albani)

Nusyuz banyak bentuknya, diantaranya yang paling berbahaya
1. Enggan memenuhi ajakan suami untuk berhubungan suami istri
2. Mengkhianati suaminya dengan berhubungan dengan laki-laki asing (bukan mahram)
3. Lalai dalam melayani suami
4. Menyakiti suami dengan buruknya ucapan mencelanya atau mengumpatnya
5. Keluar rumah tanpa seidzin suami
6. Menyebarkan rahasianya.

Maka seorang istri shalihah yang menginginkan kebaikan untuk dunia dan akhiratnya dan kebaikkan untuk rumah tangganya  akan senantiasa melayani dan mentaati suaminya selama bukan perkara maksiat.

Baarakallahufiikum

Friday, 19 June 2015

kesalahan yang dilakukan istri, part 5, rek

Bismillaah

Membebani Suami dengan banyak tuntutan.
Sebagian istri ada yang membebani suaminya dengan banyak tuntutan tanpa melihat kondisi keuangan suami. Seorang istri seharusnya merasa cukup dengan apa yang ada dan melihat kebawah dalam urusan dunia.

Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah kepada orang yang berada dibawah darimu (dalam urusan dunia), dan janganlah  kalian melihat kepada orang yang berada diatasmu yang demikian itu akan lebih bisa bersyukur dan tidak meremehkan kenikmatan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Ibnu Jarir:
هذا حديث جامع لأنواع من الخير لأن الانسان اذا رأى من فضل عليه فى الدنيا طلبت نفسه مثل ذلك واستصغر ما عنده من نعمة الله تعالى وحرص على الازدياد ليلحق بذلك أو يقاربه هذا هو الموجود فى غالب الناس وأما اذا نظر فى أمور الدنيا إلى من هو دونه فيها ظهرت له نعمة الله تعالى عليه فشكرها وتواضع وفعل فيه الخير

“Hadits ini mengumpulkan macam" kebaikan; dikarenakan seseorang apabila melihat orang yang berada diatasnya dalam masalah dunia, jiwanya menuntut seperti itu, dan merasa kecil dengan nikmat Allah yang ada disisinya, dan bersemangat untuk menambah untuk seperti itu atau mendekatinya. Hal ini ada pada keumuman manusia. Adapun apabila dia melihat orang yang dibawahnya pada perkara dunia tampaklah baginya nikmat Allah Ta’aala atasnya, maka ia mensyukurinya, tawadhu dan melakukan kebaikkan.”
(Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi:6/97).

Baarakallahufiikum

Thursday, 18 June 2015

menjama' shalat jumat dan ashar, rek

Bismillaah

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

Penanya: Ada beberapa orang melakukan safar, lalu mereka menjama’ shalat Jum’at dengan shalat Ashar, kemudian mereka bertanya kepada salah seorang penuntut ilmu tentang hal tersebut, maka dia menjawab: “Saya tidak mengetahui ada yang melarang hal tersebut?” Maka hukum hal tersebut berkaitan dengannya dan dengan mereka? Apakah di sana ada pendapat sebagian ulama yang menyatakan bolehnya hal tersebut?

Asy-Syaikh: Ini merupakan pendapat yang lemah. Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak boleh menjama’ shalat Ashar dengan shalat Jum’at. Dan tidak ada riwayat dari Salaf satu huruf pun yang menyebutkan bahwa mereka menjama’ shalat Jum’at dengan Ashar, tidak ada riwayat semacam ini. Yang ada hanya pendapat yang lemah dari sebagian pengikut madzhab Asy-Syafi’iy. Adapun jumhur berpendapat sebaliknya. Bahkan siapa yang menjama’ shalat Ashar dengan shalat Zhuhur (mungkin maksudnya Jum’at –pent) maka dia wajib mengulang, wajib atasnya untuk mengulang shalat Ashar.

Penanya: Kalau telah lewat?

Asy-Syaikh: Walaupun telah berlalu 100 tahun dia harus mengulangi shalat Ashar.

Penanya: Kalau dia mengerjakan shalat Zhuhur dan tidak menghadiri shalat Jum’at?

Asy-Syaikh: Yang tidak ada adalah menjama’ dengan shalat Jum’at. Gambarannya seseorang mengerjakan shalat Jum’at bersama manusia, dan tatkala mereka selesai dari shalat Jum’at dia bangkit mengerjakan shalat Ashar.

Penanya: (Suara kurang jelas).

Asy-Syaikh: Tidak tepat, tidak boleh menjama’ dan waktunya belum datang. Shalat Ashar dikerjakan pada waktunya yaitu waktu Ashar.

Penanya: Bagaimana dengan orang yang tidak menghadiri shalat Jum’at apakah boleh mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan menjama’?

Asy-Syaikh: Jika dia mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar di … (suara kurang jelas –pent) hal ini mungkin, seperti seorang musafir yang tidak menghadiri shalat Jum’at bersama orang-orang yang mukim lalu dia mengerjakan shalat Zhuhur dan menjama’nya dengan shalat Ashar maka tidak mengapa. Karena pembicaraan kita berkaitan dengan menjama’ shalat Ashar dengan shalat Jum’at.

Sumber artikel:
http://www.alfawzan.af.org.sa/index.php?q=node/11646

Baarakallahufiikum

Wednesday, 17 June 2015

fusuq, zhalim, nifaq, rek

Bismillaah

Apa perbedaan antara fusuq, zhalim dan nifaq? Dan apakah bisa bersatu antara satu sama lainnya?

Jawaban:
Fusuq ialah keluar dari ketaatan kepada Alloh, dan dia terbagi 2:
Fusuq kufrin, dan fusuq maksiat, yaitu kefasikan yang tidak menjadikan fasiq pelakunya.

Nifaq juga demikian: nifaq akbar i'tiqodi: yaitu menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran,
sedangkan nifaq amali: ialah seseorang beriman namun padanya ada sebagian sifat-sifat munafikin seperti dusta dalam berbicara, menyelisihi janji, dan dusta dalam berbicara,
ini adalah nifaq amali bukan nifaq i'tiqodi, wajib bertaubat darinya dan dia tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Dan kekufuran ada 2 juga: kufur akbar (kekufuran yang besar) yang dapat mengeluarkan dari agama, dan kufur ashghor (kecil) tidak sampai mengeluarkan dari agama:
«لا ترجعوا كُفّاراً يضرب بعضكم  رقابَ بعض»

"Jangan kalian kembali menjadi kafir yang sebagian kalian memenggal leher sebagian lainnya."
Ini adalah kufur ashghor amali, bukan kufur i'tiqodi yang mengeluarkan dari agama karena membunuh jiwa sekalipun dosa besar akan tetapi tidak mengeluarkan dari agama."

Sumber artikel: 🔗http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14722

Baarakallahufiikum

Tuesday, 16 June 2015

tidak ada paksaan dalam beragama, rek

Bismillaah

Pertanyaan:
Apa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala:
(لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ)

"Tidak ada paksaan dalam agama." ?

Jawaban:
Tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam, tidak ada satu orang pun yang masuk kecuali di atas kesukaannya, jika dia tidak suka maka diambil darinya perjanjian sebagai dzimmi* dan dia serahkan jizyah** dan dibiarkan jika dia seorang ahli kitab, jika dia bukan ahli kitab maka boleh jadi dia masuk Islam, dan boleh jadi dia dibunuh atas kesyirikannya, adapun jika dia masuk ke dalam Islam dan menjadi murtad maka wajib baginya untuk dibunuh:
«مَن بَدَّلَ دِينَه فَاقْتُلُوه»
"Barangsiapa yang mengganti agamanya maka kalian bunuhlah dia".

Wajib baginya dibunuh karena dia telah mengenal kebenaran, dan mengakui bahwa Islam adalah benar dan juga orang ini akan menipu lainnya yang akan mencontoh kepadanya maka wajib dibunuh, jadilah agama sebagai permainan, tidak, agama tidak boleh dipermainkan:
(وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) [سورة آل عمران : 72]

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran)." [Qs. Ali Imron: 72]

Maka orang yang murtad akan menjadi percontohan bagi yang lainnya maka wajib dibunuh sebagai bentuk pencegahan bagi kejelekannya, adapun sebelum masuk ke dalam Islam maka dia tidaklah dipaksa; akan tetapi diterapkan padanya hukum syar'i selain bunuh, dan sebagian ulama ada yang berpendapat:

Jizyah diambil dari setiap orang kafir, sama saja apakah dia seorang ahli kitab atau bukan ahli kitab, dan ini adalah pendapat yang kuat.

Sumber:
http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14637

* Dzimmi yaitu orang kafir yang dibawah perjanjian hidup damai bersama muslim.
** Jizyah ialah sejumlah harta yang harus diserahkan oleh orang kafir kepada pemerintah muslim yang besarnya ditetapkan oleh penguasa muslimin.

Baarakallahufiikum

Monday, 15 June 2015

tentang tidur, part 6, rek

Bismillaah

Fatwa asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah:

“Hal tersebut tidaklah mengapa. Tidaklah perlu dianggap perkataan orang bahwa tidur di waktu Dhuha akan mewariskan kebinasaan kepada pemuda dan tidur di waktu asar akan mewariskan kegilaan. Hal tersebut janganlah dipercaya! Betapa banyak orang-orang yang tidur setelah asar bahkan (ada yang tidur) beberapa saat sebelum matahari terbenam, ternyata mereka termasuk orang-orang yang paling berakal.”
[Fatawa Nur ‘Alad Darbi: 24/2]

Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 7 Rabiul Awal 1436/ 29 Desember 2014 di kota Ambon Manise.

Baarakallahufiikum

Sunday, 14 June 2015

tentang tidur, part 5, rek

Bismillaah

Fatwa asy-Syaikh Bin Baz rahimahullah:

Beliau ditanya: Apakah ada dalan sunnah nabawiyah hadits-hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang larangan tidur setelah shalat asar atau sebelum maghrib?

Beliau menjawab: “Tidak ada larangan padanya sedikit pun, tidak mengapa tidur setelah shalat asar. Kami tidak mengetahui satu hadits pun yang melarangnya. Tidur setelah asar tidaklah dilarang, tidak ada satu hadits pun (yang shahih) yang melarang hal itu." [www.binbaz.org.sa/audio/noor/042710.mp3]

bersambung

Baarakallahufiikum

Saturday, 13 June 2015

tentang tidur, part 4, rek

Bismillaah

Berikut fatwa para ulama seputar pembahasan kita;

Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

“Tidur setelah shalat asar merupakan kebiasaan sebagian manusia, hal tersebut tidaklah mengapa. Hadits-hadits yang menyebutkan padanya larangan tidur setelah shalat asar tidaklah shahih. [Fatwa no. 17915]"

bersambung...

Baarakallahufiikum

Friday, 12 June 2015

tentang tidur, part 3, rek

Bismillaah

Setelah kita bahas hukum tidur setelah shalat shubuh dan telah kita sebutkan hukumnya, bahwa para Salaf tidak menyukai hal tersebut, karena pagi hari setelah shalat fajar adalah waktu yang penuh barakah, dibagikannya rizqi, waktu untuk berdzikir, waktu yang tepat untuk menambah hafalan al-Quran dan hafalan hadits dan amalan kebaikan yang lainnya. Akan tetapi jika benar-benar dia mengantuk dan butuh istirahat setelah shalat shubuh maka tidaklah mengapa, karena sepantasnya seseorang memperhatikan kebutuhan dirinya, sebab badan ini punya hak untuk beristirahat, namun jangan sampai istirahatnya menyebabkan dia meninggalkan kewajiban yang harus dia kerjakan. 

Pada kesempatan kali ini, kita akan memberikan faedah tentang hukum tidur di sore hari selepas shalat asar. Karena pernah suatu hari hari saya tidur-tiduran di suatu masjid, kemudian tiba-tiba ada yang datang menghampiri saya dan mengatakan, ‘wahai saudaraku, tidak boleh kamu tidur di sore hari, nanti kalau kamu tidur di waktu seperti ini maka kamu jadi gila!’. Wah wah ngeri juga ya, akibat dari tidur di waktu sore hari.

Apakah benar apa yang disampaikan bapak tadi, bahwa barangsiapa yang tidur di sore hari, maka ketika bangun tidur dia menjadi gila atau kehilangan akalnya?

Apa pedoman mereka yang melarang tidur di sore hari?

Pedoman mereka adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban rahimahullah dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ نَام بَعْدَ الْعَصْرِ فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ فَلا يَلُومَنَّ إِلا نَفْسَهُ»

“Barangsiapa tidur setelah shalat asar maka akan hilang ingatannya, oleh karena itu janganlah mencela kecuali (celalah) dirinya sendiri.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya “adh-Dhu’afa wa al-Majruhin 1/283. Berkata asy-Syaikh al-Albani rahimahulah dalam kitabnya adh-Dha’ifah 1/112: Hadits ini lemah.

bersambung...

Baarakallahufiikum

Thursday, 11 June 2015

iqamah pada shalat jamak dan sunnah, rek

Bismilllaah

Pertanyaan no. 197:

Jika seseorang menjamak dzuhur dengan ashar apakah disetiap keduanya ditegakkan iqamah?
Dan apakah untuk shalat" sunnah ditegakkan iqamah?

Jawab:
Untuk setiap keduanya (dhuhur & ashar yang dijamak tersebut) ditegakkan iqamah, sebagaimana dalam hadits Jabir radhiyallahu anhu dalam sifat haji Rasulullaah, dimana menyebutkan jamak beliau di Muzdalifah, dia berkata:
"Ditegakkan iqamah kemudian shalat magrib, kemudian ditegakkan iqamah kemudian shalat isya, dan tidak ditegakkan shalat sunnah antara keduanya." (Dikeluarkan oleh Muslim: Kitab haji, bab haji Nabi صلى الله عليه وسلم no. 1218.)

Adapun untuk shalat-shalat sunnah tidak ditegakkan iqamah.

Sumber:
"Fatawa  Arkanil Islam"
Asy Syaikh Al-Alamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullaah

Baarakallahufiikum

Wednesday, 10 June 2015

al quran kunci ilmu, rek

Bismillaah

Berkata Ibrohim bin 'Abdil Wahid berwasiat kepada Adh Dhiyaa` Al Maqdisiy tatkala ingin mengadakan perjalanan menuntut ilmu:

"Perbanyaklah membaca Al Qur`an dan jangan engkau meninggalkan Al Qur`an. Karena akan dipermudah bagimu apa yang engkau cari sesuai dengan kadar bacaanmu."

Adh Dhiyaa` berkata:
"Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al Qur`an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al Qur`an maka tidak dimudahkan bagiku."

Dzail Thobaqoot Al Hanaabilah libnu Rojab  3/205

Baarakallahufiikum

Tuesday, 9 June 2015

nasehat kepada anak kita, part 8, rek

Bismillaah 

(Pentingkanlah) Shalat, shalat. Perintahkan putra-putrimu mengerjakan shalat sejak usia 7 tahun, dan pukullah mereka pada usia 10 tahun (jika mereka tidak mau mengerjakannya). Jika tidak maka kamu (orang tua) menanggung dosa putra-putrimu yang meremehkan dan menyia-nyiakan shalat.

asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum