Monday, 16 February 2015

senantiasa takut keadaannya berubah, rek

Bismillaah

Asy Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhali حفظه اللهAisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berdoa,
يا مقلبَ القلوبِ ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan kalbu, kokohkan kalbuku untuk senantiasa berada di atas agama-Mu”
Aku pun berkata, “Ya Rasulullah, kami beriman kepadamu dan apa yang Anda bawa. Apakah Anda mengkhawatirkan kami?”.

Beliau berkata, “Iya, sesungguhnya kalbu-kalbu ini berada di antara dua jari Allah Azza wa Jalla dari jari-jemari-Nya, Dia bolak-balikkan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.”

Demi Allah, ini adalah pemahaman (yang tepat), setiap orang tidak merasa aman akan dirinya karena Syaithan mengalir pada diri anak Adam sepanjang peredaran darah.

Maka setiap orang hendaklah menjadi penjaga kalbu, akal, dan agamanya dengan penjagaan yang penuh dengan kehati-hatian.

Penjagaan yang lebih ketat daripada penjagaannya terhadap harta dan kehormatannya, serta orang yang ia urusi.

Wajib untuk serius dalam menjaga kalbu sebelum segala sesuatu:
{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ}
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau selewengkan kalbu kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami dan karuniakan kepada kami rahmat yang ada di sisi-Mu. Sesengguhnya Engkau Maha Memberi.”

Alih bahasa: Ustadz abu Bakar Jombang حفظه الله

Baarakallahufiikum

Sunday, 15 February 2015

kesalahan pada suami, part 1, rek

Bismillaah

Kurang Berbakti Kepada Orang Tua Setelah Menikah.

Diantara kesalahan yang dilakukan oleh sebagian orang apabila telah menikah lupa kepada orang tuanya. Berubah sikapnya, lalai terhadap hak-hak orang tuanya dan tidak menempatkan/menghormati keduanya sebagaimana semestinya.

Bahkan dia lebih mendahulukan ketaatan kepada istrinya dari pada kepada orangtuanya, atau bahkan menyakiti keduanya agar bisa menyenangkn istrinya. Tidak diragukan bahwasanya hal ini termasuk bentuk dari durhaka kepada orang tua.

Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda:
أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ
”Maukah aku kabarkan kepada kalian dosa besar yang paling besar (diucapkan 3 kali), para shahabat berkata: ‘Tentu wahai Rasulullah’, Rasulullah shallallaahu ‘alahi wa sallam bersabda: ‘ Menyekutukan Allah (berbuat syirik) dan durhaka kepada orang tua… ”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Agama kita memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua, bahkan hal tersebut termasuk amalan yang utama.

Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”
(An-Nisa:36)

Dalam sebuah hadits suatu ketika Ibnu Mas’ud bertanya kepada Rasulullah
أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ
Amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: “Shalat tepat pada waktunya” Aku bertanya lagi: Kemudian apalagi? Beliau menjawab: ‘Berbuat baik kepada kedua orang tua’. Aku bertanya lagi: kemudian apa lagi? Beliau menjawab: Jihad di jalan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai para suami berikut ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang untuk senantiasa berbakti setelah menikah.
Berdoa kepada Allah, memohon kepada Nya agar diberikan taufiq dan pertolongan untuk senantiasa berbakti kepada orang tua.
Berhati-hati dari perilaku yang dapat mengesankan bahwa dirinya berubah sikapnya kepada orang tuanya setelah menikah.
Semakin menambah perbuatan baik kepada orang tuanya.
Berusaha untuk mengharmoniskan hubungan istri dengan orangtua.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan pertolongan Nya kepada kita, untuk selalu berbakti kepada orang tua.

Baarakallahufiikum

Saturday, 14 February 2015

durhaka kepada orangtua, rek

Bismillaah

Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan -hafizhahullah-

Pertanyaan:
Wahai Fadhilatisy Syaikh Shalih…
Adakah kalimat arahan bagi orang yang durhaka kepada kedua orang tua terkhusus kepada ibu, di mana saya menderita akibat pembangkangan putriku sejak sepuluh tahun atau lebih, dia tidak pernah menghubungi dan sayapun tidak tahu bagaimana keadaannya sedikitpun?

Jawaban:
Durhaka kepada orang tua termasuk bagian dari dosa-dosa besar. Kedudukannya setelah syirik, karena hak kedua orang terletak setelah hak Allah.

Allah Ta’ala berfirman,
(وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً)
“Dan beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”

Ayat-ayat yang sangat banyak (berbicara tentang hal ini).
Durhaka kepada orang tua termasuk bagian dari dosa-dosa besar.
Maka wajib bagi seorang anak, baik laki-laki ataupun wanita, untuk bertaubat kepada Allah jika durhaka kepada kedua orang tuanya dan kembali berbakti kepada keduanya, serta meminta maaf terhadap apa yang telah terjadi berupa perbuatan durhaka tersebut.

Alihbahasa: Ustadz Abu Bakar Jombang حفظه الله

Baarakallahufiikum

Friday, 13 February 2015

hukum memberikan vaksinasi kepada bayi, rek

Bismilllah

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya:
"Apa hukumnya berobat sebelum terjadinya penyakit, seperti imunisasi atau vaksinasi?"

Beliau rahimahullah menjawab:
"Tidak mengapa berobat bila dikhawatirkan terjadinya penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab yang lain yang dikhawatirkan terjadinya penyakit karenanya. Maka tidak mengapa mengkonsumsi obat untuk mengantisipasi penyakit yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih:
من تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ مِنْ تَمْرِ الْمَدِيْنَةِ لَمْ يَضُرَّهُ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ
“Barangsiapa yang di waktu pagi memakan tujuh butir kurma Madinah, maka tidak akan mencelakakan dia sihir ataupun racun."

Ini termasuk dalam bab menghindari penyakit sebelum terjadinya. Demikian pula bila dikhawatirkan terjadi sebuah penyakit lalu dilakukan vaksinasi/imunisasi untuk melawan penyakit tersebut yang terdapat di suatu negeri atau di negeri manapun, tidak mengapa melakukan hal demikian dalam rangka menangkalnya. Sebagaimana penyakit yang telah menimpa itu diobati, maka diobati pula penyakit yang dikhawatirkan akan menimpa.

Akan tetapi tidak boleh memasang jimat-jimat dalam rangka menangkal penyakit, jin atau (bahaya) mata dengki. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang hal tersebut. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan bahwa hal itu termasuk syirik kecil, maka wajib berhati-hati darinya.

(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibni Baz, 6/21)

Baarakallahufiikum

Thursday, 12 February 2015

kehidupan dunia menurut generasi salaf, rek

Bismillaah

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia.

Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka.

Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).

Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42

Baarakallahufiikum

Wednesday, 11 February 2015

nasehat kepada anak kita, part 7, rek

Bismillaah

Engkau harus memiliki perhatian besar agar putra-putrimu mau MENGHAFAL al-Qur`an dan MEMAHAMI makna-maknanya.

Perintahkanlah mereka untuk MENGAMALKAN kandungan al-Qur`an, katakan kepada mereka bahwa ini (al-Qur`an) adalah Kalamullah maka janganlah kamu menyelisihi/menentangnya, karena itu akan membuatmu binasa.


asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum

Tuesday, 10 February 2015

pengaruh orangtua terhadap anak, rek

Bismillaah

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka.

Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya.

Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat.

Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.
(Tuhfatul Maudud hlm. 351)

Beliau rahimahullah menyatakan pula, kerusakan yang terjadi pada anak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.

Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. 

Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.”
(Tuhfatul Maudud hlm. 337)

Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9,
karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah
Baarakallahufiikum

Monday, 9 February 2015

nasehat kepada anak kita, part 6, rek

Bismillaah

Jangan lupa untuk menanamkan dalam hati putra-putrimu PRINSIP MENDENGAR dan TAAT kepada PEMERINTAH MUSLIMIN,  dan menjaga kedudukan dan kehormatan pemerintah tersebut.   

asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum

Sunday, 8 February 2015

hukum berdoa dalam shalat dengan bahasa selain bahasa arab, rek

Bismillah

Pertanyaan :
Apakah diperbolehkan bagi orang selain arab untuk berdoa di dalam sholat dengan selain bahasa arab?


Jawaban:
الحمدُ لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله اللهُ رحمةً للعالمين، وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:

Bagi yang mampu sholat dan berdoa dalam bahasa arab maka wajib baginya melafadzkannya dengan bahasa arab khususnya A lFatihah, tasyahud,dan semisalnya.

Adapun yang tidak bisa berbahasa arab dan tidak bisa melafadzkannya maka boleh baginya untuk sholat dengan bahasanya kecuali Al Fatihah karena Nabi -shalallahu 'alaihi wa salam- bersabda :
"Tidaklah sah sholat seseorang yang tidak membaca Al Fatihah"
(HR.Bukhori Muslim)

maka paling sedikitnya al Fatihah adalah sesuatu yang harus dibaca dari Alqur'an agar sholat sah. Apabila ia telah berupaya dan bersungguh-sungguh maka dia boleh mengganti bacaan Al Fatihah itu dengan ucapan subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wa laa haula wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adziim.

Berdasarkan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kepada seorang lelaki yang mengatakan: Aku benar-benar tidak mampu untuk menghafal sesuatu pun dari Al qur‘an,maka ajarkan kepadaku sesutu yang bisa mencukupiku darinya."
maka Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
ucapkanlah :
سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِّيِّ العَظِيمِ
(HR.Abu Daud,dipasangkan oleh Al Albani)

Dan karena orang yang tidak mampu tidak dituntut untuk melaksanakan perintah-perintah ilahi kecuali dalam batasan kesanggupannya.
Berdasarkan firman Allah Ta'ala :
﴿لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا﴾ [البقرة: ٢٨٦]
"Allah tidak akan membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya."

Dan firman Allah Ta'ala  :
﴿فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾ [التغابن: ١]
"Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan kalian."

dan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam:
"dan apabila aku memerintahkan sesuatu pada kalian maka kerjakanlah semampu kalian."
(HR.Bukhari Muslim)

Dan berjalan di atas kaidah "tidak ada pembebanan kecuali dengan kemampuan"
Dan berdoa juga tidak keluar dari makna (permasalahan) ini sehingga diperbolehkan berdoa dengan ungkapan apapun yang bisa mendekatkan seseorang  kepada Allah yang menunjukkan makna perendahan diri, rasa butuh dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,apa pun bahasa asing yang ia gunakan berdasarkan keumuman firman Allah Ta'ala:
﴿ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ﴾ [غافر: ٦٠]
"Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian."
﴿فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾ [البقرة: ١٨٦]
"Maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang  yang berdoa kepada-Ku apabila  ia memohon kepada-Ku."

Terlebih lagi bagi orang yang tidak bisa berbicara dengan bahasa Al Qur'an dan bahasa arab, atau menemukan kesulitan dalam melafalkannya.

Dan Allah Ta'ala akan mengabulkan doanya apabila terpenuhi persyaratan dan tidak ada penghalang,sama saja apakah dengan menyegerakan terkabulnya doa atau menyimpannya (untuk hari akhirat kelak) atau dialihkan dengan mencegahnya dari marabahaya dan musibah.

Baarakallahufiikum

Saturday, 7 February 2015

menjadi salafi yang kokoh, rek

Bismillaah

Pertanyaan:
Mohon nasehatnya agar kami bisa menjadi Salafy yang kokoh bukan yang lembek di zaman seperti ini?

Dijawab oleh: Al-Ustadz Qomar Su'aidi Lc Hafizhahullahu
Faedah: beberapa upaya untuk menjadi Salafy yang kokoh:
- Belajar agama secara utuh
- Berdo'a kepada Allah
- Memilih teman yg baik
- Rajin menghadiri majelis ilmu
- Mengikuti bimbingan ulama kibar dalam menghadapi berbagai fitnah yang ada

Baarakallahufiikum

Friday, 6 February 2015

makna ucapan jangan marah, rek

Bismillaah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:ْ Bahwasannya seorang laki laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
Berilah aku wasiat.

Beliau bersabda: “Jangan marah”. 

Orang tersebut meminta wasiat sampai beberapa kali. Beliau pun bersabda: “Jangan marah.”
(HR. Al Bukhariy nomor 6116)

Al-Khattabi berkata:
“Makna ucapan beliau “Jangan marah” adalah, jauhilah sebab-sebab kemarahan, dan jangan mendekati sesuatu yang dapat memunculkannya.”

Ibnu Tin berkata:
“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengumpulkan dalam ucapan beliau “Jangan marah” kebaikan dunia dan akhirat, karena  kemarahan itu menyebabkan terputusnya hubungan dan hilangnya sifat kelembutan, dan bisa jadi memunculkan perbuatan menyakiti orang yang dimarahi, maka berkuranglah agama seseorang karena perbuatan tersebut.”

Al-Baidhowi berkata:
“Bisa jadi karena Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam telah melihat bahwa seluruh kerusakan yang menimpa seseorang hanyalah disebabkan syahwatnya dan kemarahannya.” 
Fathul Bari Libni Hajar 10/520

Baarakallahufiikum

Thursday, 5 February 2015

membaca al quran dengan suara lirih, rek

Bismillaah

Dari ‘Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang membaca al-Qur’an dengan mengeraskan suaranya, seperti seseorang yang bersedekah dengan terang-terangan. Dan orang yang membaca al-Qur’an dengan suara yang lirih, seperti seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi.”
(HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasaai, berkata at-Tirmidzi: hadits ini hasan gharib. Dan dishahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam shahih Abu Dawud)

Al-Imam at-Tirmidzi berkata setelah menyebutkan hadits ini,
“Dan makna hadits ini adalah, bahwa seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suara lirih lebih afdhal dibandingkan dengan seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suara keras. Karena sedekah dengan sembunyi-sembunyi lebih utama menurut ahlul ilmi dibandingkan dengan sedekah dengan cara terang-terangan.

Dan maknanya menurut ahlul ilmi, agar seseorang selamat dari sikap ‘ujub (membanggakan dirinya), karena kekhawatiran adanya sikap ujub pada seseorang yang beramal secara sembunyi-sembunyi tidak sama dengan kekhawatiran adanya sikap ujub darinya ketika beramal secara terang-terangan.

Baarakallahufiikum


Wednesday, 4 February 2015

ketika ilmu menjadi bencana, rek

Bismillaah

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah berkata:

Sesungguhnya buah dari ilmu adalah beramal dan berdakwah kepada Allah. Oleh sebab itu barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmunya itu adalah bencana baginya.

Dan barangsiapa yang tidak berdakwah kepada manusia maka ilmunya hanya terbatas untuk dirinya sendiri.

Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu tentang apa-apa yang belum dia ketahui sebagaimana firman Allah 'azza wa jalla:
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﻫْﺘَﺪَﻭْﺍ ﺯَﺍﺩَﻫُﻢْ ﻫُﺪﻯً ﻭَﺁﺗَﺎﻫُﻢْ ﺗَﻘْﻮَﺍﻫُﻢ
"Orang-orang yang mengikuti petunjuk itu Allah akan tambahkan kepada mereka hidayah dan Allah berikan kepada mereka ketakwaan.”
(Muhammad : 17)

Dan barangsiapa tidak mengamalkan apa yang telah diketahuinya hampir saja ilmu itu lepas dari hatinya sebagaimana firman Allah ta'ala :
ﻓَﺒِﻤَﺎ ﻧَﻘْﻀِﻬِﻢْ ﻣِﻴﺜَﺎﻗَﻬُﻢْ ﻟَﻌَﻨَّﺎﻫُﻢْ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻗُﻠُﻮﺑَﻬُﻢْ ﻗَﺎﺳِﻴَﺔً ﻳُﺤَﺮِّﻓُﻮﻥَ ﺍﻟْﻜَﻠِﻢَ ﻋَﻦْ ﻣَﻮَﺍﺿِﻌِﻪِ ﻭَﻧَﺴُﻮﺍ ﺣَﻈّﺎً ﻣِﻤَّﺎ ﺫُﻛِّﺮُﻭﺍ ﺑِﻪ
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya."
(Al Maidah: 13)

Dan telah dikatakan:
ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﻬﺘﻒ ﺑﺎﻟﻌﻤﻞ ﻓﺈﻥ ﺃﺟﺎﺏ ﻭﺇﻻ ارتحل
"Ilmu akan bersorak bila diamalkan, namun bila tidak, maka ia akan pergi."

Dan dikatakan juga:
ﻗﻴِّﺪﻭﺍ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﻌﻤﻞ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﻴِّﺪﻭﻧﻪ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ‏
"Ikatlah ilmu dengan mengamalkannya sebagaimana engkau mengikatnya dengan tulisan."

Baarakallahufiikum

Tuesday, 3 February 2015

jatuh cinta pada pandangan pertama, rek

Bismillaah

Al Imam Ibnu Hazm Al Andalusi berkata :
وإني لأطيل العجب في كل من يدعي أنه يحب من نظرة واحدة .ولا أكاد أصدقه ولا أجعله إلا ضربا من الشهوة
Aku benar-benar heran dengan orang yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku hampir - hampir tak bisa mempercayainya. Kuanggap cintanya tersebut tak lebih dari sekedar dorongan syahwat semata.

Baarakallahufiikum

Monday, 2 February 2015

buruknya amarah, rek

Bismillaah

Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

Kemarahan dapat mengakibatkan perubahan zhahir dan batin, seperti perubahan warna (kulit wajah memerah), gemetar pada kaki dan tangan, kehilangan kendali dan perubahan diri, sehingga orang yang marah tersebut apabila ia menyadari keadaan dirinya ketika marah maka ia akan MALU karena KEJELEKAN RUPANYA dan perubahan dirinya, ini semuanya pada zhahir.

Adapun batin maka kejelekannya lebih parah daripada zhahir, karena kemarahan itu melahirkan kedongkolan di hati, hasad, merencanakan kejelekan dalam berbagai bentuknya, dan memang yang lebih jelek adalah keadaan batinnya, sebab perubahan zhahirnya adalah buah perubahan batinnya. Dan ini semuanya adalah pengaruh jelek kemarahan bagi tubuh.

Adapun pengaruh jeleknya bagi lisan, maka akan memunculkan cacian, ucapan keji yang malu diucapkan oleh seorang yang BERAKAL dan ia akan menyesalinya ketika kemarahannya telah mereda.

Dan juga nampak pengaruh jelek kemarahan dalam perbuatan, yaitu dengan memukul atau membunuh, namun apabila ia tidak dapat melakukannya karena orang yang ia marahi itu telah lari, maka ia akan menyakiti dirinya sendiri, yaitu dengan merobek pakaiannya, menampar pipinya, dan bisa jadi ia jatuh dalam keadaan kesurupan, bisa jadi pula ia jatuh pingsan, dan bisa pula ia memecahkan peralatan makan, bahkan memukul orang yang tidak bersalah."

Fathul Bari Libni Hajar 10/520

Baarakallahufiikum

Sunday, 1 February 2015

nasehat kepada anak kita, part 5, rek

Bismillaah

Tanamkanlah dalam hati putra-putrimu KECINTAAN KEPADA PARA SHAHABAT radhiyallahu 'anhum.

Ajarkanlah kepada mereka sirah para shahabat, dan segala perjuangan yang mereka tegakkan, berupa pembelaan terhadap agama, dan agungnya ilmu dan amal.
  
asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum