Wednesday, 7 January 2015

sikap suami dalam menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga, rek

Bismillaah

Tanya:
Ana orang awam, bagaimana sikap suami yang baik atau bijak dalam menyelesaikan masalah keluarga?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Usamah Faishol Mahri hafizhahullah

Kalau secara umum, seperti Umar bin Khattab radhiyallahu anhu' katakan: "Hendaknya seorang suami kepada istrinya seperti anak kecil kepada ibunya".

Minta dimanja, bermesraan, dimanja oleh istri kamu, ma'ruf antara suami istri tentang itu.
Tetapi kata Umar (radhiyallahu anhu') jika keluarganya dalam menghadapi masalah, mereka betul-betul dapati suaminya seorang pemimpin. 

Artinya ada waktunya dimana kamu mesra dengan istri kamu, manja, minta kasih sayang. Adapula waktunya kamu harus tegas dalam memimpin, terutama itu perkara-perkara yang haram, yang dilarang oleh syariat, kemunkaran, menyalahi perintah Allah, perintah rasul-Nya. 

Kamu harus bimbing mereka ketika itu, tidak boleh (membiarkan). Dan betul" kekuasaan itu ada di tanganmu untuk membimbing mereka.

Dan watak wanita, mereka itu minta dipimpin, tidak bisa dilepas. Apalagi memimpin, tidak bisa. Mereka minta dipimpin, cuma karena keangkuhan saja terkadang sok mau mimpin keluarganya, tidak akan bisa dan bertentangan dengan bawaan dia sebagai wanita, tabiatnya dipimpin.

Ilmu tentunya hal yang terbaik yang akan membimbing kita untuk itu. Bagaimana menyelesaikan setiap masalah dengan bijak. 

Tidak berarti kepemimpinan itu kamu menjadi orang yang otoriter dan keras, bukan! Tetapi tegas, betul" keputusanmu yang menjadi keputusan.
Makanya sering diarahkan, anak, istri, pentingnya ilmu dalam rumah tangga. Kepemimpinan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah dari suami, dari bapak, dengan bimbingan ilmu. Kalau dengan perasaan dan mengikuti hawa nafsu kita, rusak semuanya.

Makanya harus seimbang, bagaimana kamu belajar ilmu, anak dan istrimu pun harus diajari ilmu. Agar tidak selegenje, kamunya ngerti ilmu, kamu paham, harus begini dan harus begitu. Sementara ini tidak paham, kosong. Kamunya ingin begini, ini tidak paham kenapa harus begitu. Kamu bilang ini tidak boleh, dia tidak mengerti kenapa tidak boleh begitu, dia tidak mengerti ilmu. Makanya kewajiban kamu pula membimbing mereka, ngaji, belajar benar, membaca ilmu yang bermanfaat.

Selain itu juga, selain kepada istri, kepada anak lebih baik anak itu diberi pengertian sebagai orang tuanya. Dalam setiap hal bagaimana atas dasar kemauan dan pengertian dia, mau melakukan ini, mau meninggalkan itu. Sadarkan kalau ini jelek, harusnya ditinggalkan! Ini baik, harus dia lakukan! Mungkin di masa dia kecil, perlu sedikit paksaan, tapi semakin dia beranjak lebih dewasa, lebih dewasa, harus didewasakan.

Kalau orang arab, pepatah mereka mengatakan "kalau anak itu sudah semakin besar, anggap dia temanmu."
Jangan kamu anggap anak kamu yang bisa kamu doktrin, dan kamu atur.

"Ayo begini! Tidak boleh begini!"

Dia sudah dewasa, sudah punya perasaan, minta diorangkan. Kamu ajak duduk, kamu ajak ngomong dengan baik tentang masa depanmu. Ajak dia dewasa biar berpikir, ini ketaatan kepada Allah, yang menciptakan kamu Allah, ini haram dilarang, kejelekannya begini...

Diajak dewasa, ini jauh lebih manfaat. Kalau kamu paksa, mungkin di depan kamu dia mau melakukan, (kalau) kamu tidak ada? (apakah dia masih mau mekakukannya?)

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment