Wednesday, 21 January 2015

hukum isbal jika tidak dimaksudkan untuk sombong, rek

Bismillaah

Pertanyaan no. 214:
Apa hukum isbal (menurunkan pakaian di bawah mata kaki, seperti sarung, celana, dll) jika dimaksudkan karena sombong?
Dan bagaimana hukumnya jika tidak dimaksudkan untuk sombong?
Dan bagaimana cara menjawab orang yang berdalil dengan hadits Abu Bakar radhiyallahu anhu?

Jawab:
Isbal sarung (ataupun yang lainnya) jika dimaksudkan dengannya karena sombong maka hukumannya Allah tidak melihatnya di hari kiamat, tidak mengajaknya bicara, tidak mensucikannya, baginya adzab yang pedih.
Adapun jika tidak dimaksudkan dengannya karena sombong, maka hukumannya adalah akan diadzab apa yang dibawah mata kaki dengan neraka, dikarenakan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Ada tiga golongan yang Allah tidak mengajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak pula melihat mereka, serta tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih (mereka itu adalah): musbil (orang yang melakukan isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu"

Dan beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
"Siapa yang menyeret kainnya karena sombong, Allah tidak melihatnya pada hari kiamat".
Maka ini untuk yang menyeret kainnya karena sombong.

Adapun yang tidak memaksudkannya karena sombong maka dalam shahih Bukhori dari sahabat Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Apa yang berada dibawah mata kaki dari sarung maka tempatnya di neraka.".

Dan itu tidak dikaitkan dengan kesombongan, maka tidak benar mengaitkannya dengan sombong berdasarkan hadits yang sebelumnya, dikarenakan sahabat Abu Sa'id Al-Khudry رضي الله عنه berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Sarung mu'min sampai setengah betis dan tidak mengapa atau dikatakan tidak ada dosa yang terletak antara setengah betis sampai mata kaki, dan apa yang dibawah itu maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret kain sarungnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."

Diriwayatkan oleh Malik, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dalam shahihnya, رحمهم الله mereka menyebutkannya dalam kitab "At-Targhib wat Tarhib", di dalam At-Targhib (pembahasan masalah) gamis (3/88).
Dikarenakan dua amalan yang berbeda, dan hukumannya juga berbeda, maka ketika berbeda dalam hal hukum, menyebabkan tercegah membawa yang mutlaq kepada muqayyad, maka ketika melazimkan hal yang demikian itu, itu merupakan kontradiksi.
Adapun orang berdalil dengan hadits Abu Bakar رضي الله عنه maka kita katakan: Tidak bisa engkau menjadikannya sebagai hujjah dari dua sisi:

Sisi pertama:
Bahwasanya Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya salah satu sisi dari pakaianku selalu turun (melorot-pent), kecuali/akan tetapi aku (selalu) menjaganya agar tidak turun...", dan beliau رضي الله عنه tidak menurunkan bajunya karena keinginan/pilihan beliau, akan tetapi yang demikian itu karena memang turun (dengan sendirinya/tidak disengaja), bersamaan dengan itu beliau selalu berusaha menjaganya (agar tidak turun).

Akan tetapi orang" yang berbuat isbal dan yang mereka beranggapan bahwasanya mereka tidak memaksudkannya karena sombong, mereka memang sengaja menurunkannya, maka kita katakan kepada mereka: sesungguhnya maksudmu/kesengajaanmu menurunkan pakaianmu sampai kebawah mata kaki yang tidak engkau maksudkan karena sombong, hal yang demikian itu saja, maka itu membuatmu akan diadzab atas perbuatanmu dalam hal menurunkan itu saja, yaitu dengan neraka.

Dan (terlebih lagi) apabila engkau menyeret pakaianmu karena sombong maka engkau akan diadzab dengan yang lebih besar lagi daripada itu, yaitu Allah tidak akan mengajak bicara kepada kalian pada hari kiamat, tidak melihat kalian, dan tidak pula mensucikan kalian, serta bagi kalian adzab yang pedih.

Sisi kedua:
Bahwasanya Abu Bakar رضي الله عنه di tazkiyyah dan dipersaksikan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bukanlah termasuk orang yang melakukan hal tersebut karena sombong.

Maka apakah salah satu dari mereka (musbilun) mendapatkan tazkiyyah dan persaksian (seperti yang didapatkan oleh Abu Bakar رضي الله عنه ) tersebut?!
Akan tetapi syaithon membuka (jalan) kepada sebagian manusia untuk mengikuti hal yang mutasyabih/samar" dari nash"h kitab dan sunnah untuk membenarkan apa yang mereka perbuat. Dan Allah memberikan hidayah ke jalan yang lurus kepada siapa yang Dia kehendaki. 

Sumber:
"Fatawa  Arkanil Islam"
Asy Syaikh Al-Alamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله
Alih bahasa: Abdullah Waqii' Al-Jawy

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment