Saturday, 31 January 2015

salah arah kiblat, rek

Bismillaah

Ditanyakan kepada Syaikh bin Baaz -rahimahullah-

Sekelompok orang sedang dalam perjalanan safar lalu datang waktu malam dan mereka berada di tengah padang sahara dan tiba waktu sholat. Kemudian mereka sholat berlawanan dengan arah kiblat dan tidak mengetahui kiblat yang sebenarnya. Dan setelah selesai sholat tampak pada mereka arah kiblat yang benar. Apakah mengulang sholat dalam keadaan seperti ini? Arahkanlah kami dalam permasalahan ini.

Beliau menjawab :

Yang wajib bagi setiap muslim ketika tiba waktu sholat dan dia dalam keadaan safar, untuk ia berupaya mencari arah kiblat dan berijtihad (bersungguh-sungguh) dalam mengetahui ciri-ciri dan tanda-tandanya. Apabila dia telah berijtihad kemudian sholat dan tampak baginya bahwa ia salah kiblat setelah selesai sholat, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk mengulang karena Allah Ta'ala berfirman :
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kadar kesanggupanmu."
 
(At Taghobun : 16).
 لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya." 
[Al Baqarah : 286]

    رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
" Yaa Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami apabila kami lupa atau tersalah."
[Al Baqarah :  286 ]

Adapun apabila ia berada di kota maka wajib baginya untuk bertanya kepada orang-orang yang mengetahui kiblat dan tidak berijtihad sendiri selama ia dalam kota.

Adapun ketika dalam perjalanan safar maka apabila ia telah berusaha kemudian sholat dan setelah sholat tampak baginya bahwa ia telah salah kiblat maka sholatnya sah (benar).

Dan apabila tampak baginya kesalahan di pertengahan sholatnya maka memutar badan ke arah kiblat sesuai dengan arah (kiblat) yang tampak baginya dan tidak mengulangnya dari awal. Wallahu waliyut taufiq.

Fatawa Nuurun 'alad Darb
www.binbaz.org.sa/mat/14764


Baarakallahufiikum

Friday, 30 January 2015

ceritakan nikmat Rabbmu, rek

Bismillaah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan adapun nikmat Rabbmu maka ceritakanlah.”
(adh-Dhuha: 11)

Apabila seseorang memiliki kekayaan yang digunakannya untuk hidup nyaman dan senang, apakah bersesuaian dengan apa yang dimaukan oleh ayat di atas?

Jawab:
Samahatusy Syaikh Ibnu Baz Rahimahullah menjawab,

Makna ayat tersebut adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam untuk menyebut" berbagai nikmat-Nya sehingga beliau bisa bersyukur kepada-Nya dengan ucapan sebagaimana beliau mensyukuri-Nya dengan amalan.

Menyebut-nyebut nikmat misalnya seorang muslim berkata, “Sungguh kita dalam keadaan baik, alhamdulillah.”
“Di sisi kita ada kebaikan yang banyak.”
“Kita beroleh nikmat yang sangat banyak, kita harus bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat tersebut.”

Ia tidak boleh berkata,
 “Kita orang miskin.”
“Kita tidak punya apa-apa….”, dsb.

Tidak pantas ia berkata demikian padahal ia mendapat kecukupan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semestinya, ia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyebut" berbagai nikmat-Nya. Ia harus mengakui kebaikan yang Dia berikan kepadanya.

Ia tidak boleh menyebut" kefakirannya, seperti mengatakan, “Kami tidak punya harta, tidak punya pakaian.”
“Tidak punya ini, tidak punya itu….”
Akan tetapi, ia harus menyebut nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diterimanya dan mensyukuri Rabbnya.

Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kenikmatan kepada hamba-Nya, Dia senang pengaruh nikmat tersebut terlihat pada si hamba, dalam pakaian yang dikenakan, makanan, dan minumannya. Jangan malah ia tampil sebagaimana penampilan seorang fakir (makan minumnya seperti seorang fakir). 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberinya harta dan melapangkan hidupnya, tidak semestinya pakaian dan makanannya seperti seorang fakir. Seharusnya ia menampakkan nikmat" Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dalam hal makanan, minuman, dan pakaiannya.

Akan tetapi, tidak boleh dipahami bahwa hal ini berarti membolehkan hidup berlebih-lebihan yang melampaui batas hingga mencapai ghuluw, sebagaimana tidak bolehnya israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (boros).

[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 4/118—119]

Baarakallahufiikum

Thursday, 29 January 2015

nasehat kepada anak kita, part 4, rek

Bismillaah

Tanamkanlah pada hati putra-putrimu KECINTAAN KEPADA NABI KITA MUHAMMAD Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ajarkanlah kepada mereka sirah (sejarah perjalanan hidup) Rasulullah, dan perintahkan mereka untuk berittiba (mengikuti) beliau. Dengan berittiba' kepada beliau, terwujud segala kebaikan dan hidayah.
  
Asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum

Wednesday, 28 January 2015

tentang tidur, part 2, rek

Bismillaah

قال العجيلي رحمه الله : النَّوْمُ عَلَى سَبْعَةِ أَقْسَامٍ نَوْمُ الْغَفْلَةِ وَنَوْمُ الشَّقَاوَةِ وَنَوْمُ اللَّعْنَةِ وَنَوْمُ الْعُقُوبَةِ وَنَوْمُ الرَّاحَةِ وَنَوْمُ الرَّحْمَةِ وَنَوْمُ الْحَسَرَاتِ أَمَّا نَوْمُ الْغَفْلَةِ فَالنَّوْمُ فِي مَجْلِسِ الذِّكْرِ وَنَوْمُ الشَّقَاوَةِ النَّوْمُ فِي وَقْتِ الصَّلَاةِ وَنَوْمُ اللَّعْنَةِ النَّوْمُ فِي وَقْتِ الصُّبْحِ وَنَوْمُ الْعُقُوبَةِ النَّوْمُ بَعْدَ الْفَجْرِ وَنَوْمُ الرَّاحَةِ النَّوْمُ قَبْلَ الظُّهْرِ وَنَوْمُ الرَّحْمَةِ النَّوْمُ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَنَوْمُ الْحَسَرَاتِ النَّوْمُ فِي لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ ا هـ

Berkata al-‘Ujaily rahimahullah:
"Tidur terbagi menjadi tujuh macam; Tidurnya orang lalai, tidurnya orang yang celaka, tidurnya orang yang dilaknat, tidurnya orang yang mendapat hukuman, tidurnya orang yang dalam keadaan lega, tidurnya orang yang mendapatkan rahmat dan tidurnya orang yang mendapatkan penyesalan.

Adapun;
a. Tidurnya orang lalai, yaitu tidur ketika berada di majelis dzikir (ilmu),
b. Tidurnya orang yang celaka, yaitu tidur di waktu shalat,
c. Tidurnya orang yang dilaknat, yaitu tidur pada waktu shalat shubuh,
d. Tidurnya orang yang mendapat hukuman, yaitu tidur seusai shalat shubuh,
e. Tidurnya orang yang dalam keadaan lega, yaitu tidur sebelum dzuhur,
f. Tidurnya orang yang mendapatkan rahmat, yaitu tidur setelah shalat isya,
g. Tidurnya orang yang mendapatkan penyesalan, yaitu tidur pada malam hari jumat.
[Futuhat al-Wahhab, 1/274]

Wahai saudaraku!
Dari apa yang telah kami sebutkan, semoga memberikan motivasi kepada kita dalam membagi dan memanfaatkan waktu sesuai dengan yang diridhai Allah ‘Azza wa Jalla. Janganlah kau sia"kan waktu untuk banyak tidur, apalagi engkau tidur di waktu yang dibenci untuk kita tidur padanya. Sesorang muslim yang cerdik adalah dia pandai dalam membagi waktu dan memanfaatkannya, karena waktu dan umur yang Allah berikan kepada kita, semua akan dimintai pertanggung jawabannya.

Semoga Allah memberikan kepada kita semua taufiq dan hidayah-Nya, untuk senantiasa semangat dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya. Barakallahu fikum.

Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 6 Rabiul Awal 1436/ 28 Desember 2014_di kota Ambon Manise.

Tuesday, 27 January 2015

nasehat kepada anak kita, part 3, rek

Bismillaah

Berseriuslah untuk menanamkan kepada putra-putrimu KEIMANAN KEPADA PARA RASUL.
Ajarkanlah kepada mereka sirah (sejarah perjalanan hidup) para rasul dan segala yang ada pada mereka berupa kebaikan, keshalihan, dakwah, dan perbaikan.  

asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah

Baarakallahufiikum

Monday, 26 January 2015

tentang tidur, part 1, rek

Bismillaah

Diantara hal yang penting untuk kita perhatikan adalah kebanyakan kaum muslimin yang telah diberikan taufiq oleh Allah untuk bisa menjalankan salah satu shalat yang paling berat dikerjakan oleh orang"g munafiq, yaitu shalat shubuh, ternyata setelah mereka mengerjakan shalat shubuh, kebanyakan mereka kembali ke tempat tidur mereka untuk melanjutkan tidur mereka yang terputus.

Ya subahanallah!
Jika selepas mengerjakan shalat shubuh mereka kembali tidur, maka sungguh mereka telah terhalangi dari kebaikan yang agung, seperti keutamaan dzikir pagi sore, rizqi, barakah, taklim pagi dan bahkan dengan itu mereka telah menyelesihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya, yang mana kebiasaan mereka seusai shalat shubuh mereka duduk" untuk berdzikir atau membaca al-Quran sampai matahari naik setinggi tombak,
sebagaimana hal ini dikabarkan Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya oleh Simak bin Harb:

أَأَنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: نَعَمْ كَثِيرًا، «كَانَ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ، أَوِ الْغَدَاةَ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ، وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ»

“Mungkin Anda pernah duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam? Dia menjawab; "Ya, dan hal itu pada banyak kesempatan, Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah beranjak dari tempat shalatnya ketika subuh atau pagi hari hingga matahari terbit, jika matahari terbit, maka beliau beranjak pergi. Para sahabat seringkali bercerita-cerita dan berkisah-kisah semasa jahiliyahnya, lantas mereka pun tertawa, namun beliau hanya tersenyum.”
[HR. Muslim]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengkabarkan bahwa keberkahan umat ini diberikan pada waktu pagi hari, beliau bersabda:

«اللهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»

Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada ummatku di waktu pagi mereka."
[HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani]

Berikut kami sampaikan beberapa perkataan para Salaf tentang makruhnya (dibencinya) tidur di pagi hari selepas shalat shubuh;

 عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ الزُّبَيْرُ يَنْهَى بَنِيْهِ عَنِ التَّصَبُّحِ (وَهُوَ النَّوْمُ فِي الصَّبَاحِ)

“Dari ‘Urwah bin Zuber, beliau berkata:
Dahulu az-Zuber melarang anak"nya dari at-Tashabbuh (yaitu tidur di pagi hari).”
[Mushannaf Ibnu Abi Syaebah no. 25442]

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ الْجَهْلِ النَّوْمُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ

Berkata ‘Ali radhiyallahu ‘anhu:
Diantara bentuk kejahilan adalah tidur di pagi hari.”
[Al-Adabusy Syar’iyyah: 3/162]

 إِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَأَى ابْنًا لَهُ نَائِمًا نَوْمَةَ الصُّبْحَةِ فَقَالَ لَهُ : قُمْ أَتَنَامُ فِي السَّاعَةِ الَّتِي تُقَسَّمُ فِيهَا الْأَرْزَاقُ

“Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas pernah melihat salah satu anaknya tidur di pagi hari, maka beliau mengatakan kepadanya: “Bangunlah, apakah engkau tidur di waktu yang mana padanya rizqi (Allah) sedang dibagi-bagikan!”.
[Al-Adabusy Syar’iyyah: 3/161]
Baarakallahufiikum

Sunday, 25 January 2015

wasiat imam syafi'i rahimahullah menjelang wafatnya beliau, rek

Bismillaah

Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Gambarkanlah akhirat dalam qalbumu, dan jadikanlah kematian antara kedua matamu. Janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapa-Nya kelak. Takutlah kepada-Nya, jauhilah segala hal yang Dia haramkan, dan laksanakanlah yang Dia wajibkan. Hendaknya engkau bersama Allah (merasa selalu di awasi oleh-Nya) di manapun engkau berada.

Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu, walaupun nikmat itu sedikit. Balaslah nikmat tersebut dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran.

Maafkanlah orang yang mendzalimimu, sambunglah silarurrahmi kepada orang yang memutusnya terhadapmu. Berbuat baiklah kepada siapapun kepada orang yang berbuat jelek kepadamu. Bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari api neraka dengan ketakwaan."

[Nasihat menjelang wafatnya Al Imam Asy Syafi'i رحمه الله kepada Al Imam Al-Muzany رحمه الله. Tarikh Dimasyqi karya Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Ibnu Asakir رحمه الله]

Disadur dari Majalah QUDWAH Edisi 3 Volume 01/1433H/2012M


Baarakallahufiikum

Saturday, 24 January 2015

hukum shalat dengan kain bernajis, rek

Bismillaah

Fadhilatus Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh.
Pertanyaan:
Koresponden AAM dari Riyadh mengatakan: kepada yang berkepentingan di program “Nuur ‘alad Darb”: Apabila seseorang sholat dalam di kainnya ada bagian yang najis apakah diulang sholatnya sekalipun lebih besar dari uang logam? Dan apakah dia boleh menunaikan sholatnya di waktu terlarang? Berikanlah faedah kepadaku semoga Alloh membalas Anda dengan kebaikan, dan Anda pun telah memberikan fatwa bagi kaum muslimin juga demikian.

Jawaban:
Apabila dia lupa mencucinya atau tidak tahu adanya najis kecuali setelah dia sholat maka tidak mengapa baginya, dan sholatnya shahih berdasarkan firman Alloh Ta’ala:
(رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ ) [سورة البقرة : 286]
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.”
[QS. Al-Baqarah: 286]

Dan berdasarkan firman-Nya:
(وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَٰكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ) [سورة اﻷحزاب : 5]
”Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu”
[QS. Al-Ahzaab: 5]

Maka apabila seseorang sholat sedangkan di kainnya ada najis atau di tubuhnya ada najis dan dia tidak mengetahuinya kecuali setelah sholat atau dia mengetahuinya kemudian dia lupa untuk mencucinya sebelum sholat maka sholatnya shahih dan tidak mengapa baginya.

Adapun jika dia mengetahuinya dan tidak lupa, akan tetapi dia remehkan hal itu kemudian sholat maka sesungguhnya sholatnya menurut pendapat yang kuat adalah batil dan wajib baginya untuk mencuci najisnya dan mengulang sholatnya dari baru lagi dan mengqodhonya; yakni di waktu kapan pun sekalipun di waktu terlarang; karena waktu terlarang bukanlah bersifat umum bagi setiap sholat, namun hal itu hanyalah bagi sholat" yang tidak memiliki sebab.
Silsilah fatawa nuur ‘alad darb, kaset no. 21
Alih Bahasa: Muhammad Sholehuddin Abu Abduh.

Baarakallahufiikum

Friday, 23 January 2015

penisbatan istri kepada suami, rek

Bismillaah

Pertanyaan ketiga :
Di sebagian negara banyak terjadi wanita muslimah menisbahkan namanya pada nama suami. Misalnya Zainab menikah dengan Zaid, apakah boleh dia menulis namanya 'Zainab Zaid', ataukah itu adat kebiasaan asing yang harus dijauhi?

Jawab :
Tidak boleh seseorang menisbahkan nama kepada selain orangtuanya,
Allah Ta'ala berfirman :
ﺍﺩﻋﻮﻫﻢ ﻟﺄﺑﺎﺉﻫﻢ ﻫﻮ ﺃﻗﺴﻄ ﻋﻨﺪﺍﻟﻠﻪ
"Panggillah mereka dengan (sebutan nama) bapak" mereka, hal itu lebih adil di sisi Allah".

Dan ada ancaman keras kepada orang yang menisbahkan nama kepada selain nama bapaknya.
Oleh karena itu tidak boleh wanita menisbahkan namanya dengan nama suami seperti kebiasaan kuffar dan orang-orang muslim yang tasyabbuh dengan mereka.

Ketua: Abdul Aziz bin Baz
Wakil ketua: Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota :
Abdullah bin Ghudayan
Sholeh Alfauzan
Bakr Abu Zaid

Diterjemahkan oleh Al Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali hafizhahallah
Sumber : Sahab.net

Baarakallahufiikum

Thursday, 22 January 2015

kesalahan pada istri, part 4, rek

Bismillaah

Kurang memperhatikan kedudukan suami dan status sosialnya.

Terkadang seorang suami mempunyai kedudukan ilmiyah dan sosial tertentu, yang mana banyak manusia membutuhkanya. Suaminya tersebut menemuinya, berusaha memecahkan permasalahannya, dan yang lainnya sedang  istrinya merasa sempit dengan banyaknya suaminya berhubungan dengan manusia. 

Terkadang suaminya tenggelam dalam membaca, atau menulis, atau mempersiapkan pelajarannya, atau pembahasannya, hal ini merupakan masalah bagi sang istri, dan dia merasa bosan dengan aktivitas suaminya tersebut. Terkadang suaminya mengangkat telpon dari orang yang bertanya kepadanya tentang permasalahan, dan suaminya berusaha memberikan jawaban dan arahan kepada penannya tersebut dengan sesuatu yang sesuai atau yang semisal itu dari konsekuensi kedudukan ilmiyah dan sosial sang suami.

Walaupun sang istri mempunyai hak atas suami mengkhususkan waktu untuknya bisa berdua, bercengkrama saling berkasih sayang. Namun bukan haknya seorang istri untuk mengingkari suaminya menegakkan kewajibannya yang merupakan tuntutan dari status ilmiyah dan sosial suami. Atau menampakkan kemarahan ketika suami melakukan hal yang membuat dirinya bahagia, dan tenang jiwanya.

Jika yang diinginkan oleh sang istri adalah mengotori kejernihan, kebahagian dan kemanisan ruhiyah yang dirasakan suami ketika suami mengajar, mengarahkan masyarakat atau membatu orang sungguh dia (sang istri) telah melakukan hal yang membuat suaminya tidak suka dengan suasana rumah yang mendorong suaminya mencari suasana yang membuat dirinya tenang, bahkan hal tersebut bisa membuat suaminya lari dari istrinya.

Namun hal ini bukan berarti  membolehkan sang suami lalai dari memenuhi hak istrinya bahkan wajib atasnya untuk memenuhi hak istrinya dan meminta maaf ketika ada hak istrinya yang belum terpenuhi dan mengingatkan istrinya tentang pahala keshabaran ketika ada haknya yang terkurangi.

Baarakallahufiikum

Wednesday, 21 January 2015

hukum isbal jika tidak dimaksudkan untuk sombong, rek

Bismillaah

Pertanyaan no. 214:
Apa hukum isbal (menurunkan pakaian di bawah mata kaki, seperti sarung, celana, dll) jika dimaksudkan karena sombong?
Dan bagaimana hukumnya jika tidak dimaksudkan untuk sombong?
Dan bagaimana cara menjawab orang yang berdalil dengan hadits Abu Bakar radhiyallahu anhu?

Jawab:
Isbal sarung (ataupun yang lainnya) jika dimaksudkan dengannya karena sombong maka hukumannya Allah tidak melihatnya di hari kiamat, tidak mengajaknya bicara, tidak mensucikannya, baginya adzab yang pedih.
Adapun jika tidak dimaksudkan dengannya karena sombong, maka hukumannya adalah akan diadzab apa yang dibawah mata kaki dengan neraka, dikarenakan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Ada tiga golongan yang Allah tidak mengajak bicara mereka pada hari kiamat, tidak pula melihat mereka, serta tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih (mereka itu adalah): musbil (orang yang melakukan isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, orang yang menjual dagangannya dengan sumpah palsu"

Dan beliau صلى الله عليه وسلم juga bersabda:
"Siapa yang menyeret kainnya karena sombong, Allah tidak melihatnya pada hari kiamat".
Maka ini untuk yang menyeret kainnya karena sombong.

Adapun yang tidak memaksudkannya karena sombong maka dalam shahih Bukhori dari sahabat Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Apa yang berada dibawah mata kaki dari sarung maka tempatnya di neraka.".

Dan itu tidak dikaitkan dengan kesombongan, maka tidak benar mengaitkannya dengan sombong berdasarkan hadits yang sebelumnya, dikarenakan sahabat Abu Sa'id Al-Khudry رضي الله عنه berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Sarung mu'min sampai setengah betis dan tidak mengapa atau dikatakan tidak ada dosa yang terletak antara setengah betis sampai mata kaki, dan apa yang dibawah itu maka tempatnya di neraka. Dan barangsiapa yang menyeret kain sarungnya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat."

Diriwayatkan oleh Malik, Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban dalam shahihnya, رحمهم الله mereka menyebutkannya dalam kitab "At-Targhib wat Tarhib", di dalam At-Targhib (pembahasan masalah) gamis (3/88).
Dikarenakan dua amalan yang berbeda, dan hukumannya juga berbeda, maka ketika berbeda dalam hal hukum, menyebabkan tercegah membawa yang mutlaq kepada muqayyad, maka ketika melazimkan hal yang demikian itu, itu merupakan kontradiksi.
Adapun orang berdalil dengan hadits Abu Bakar رضي الله عنه maka kita katakan: Tidak bisa engkau menjadikannya sebagai hujjah dari dua sisi:

Sisi pertama:
Bahwasanya Abu Bakar berkata: "Sesungguhnya salah satu sisi dari pakaianku selalu turun (melorot-pent), kecuali/akan tetapi aku (selalu) menjaganya agar tidak turun...", dan beliau رضي الله عنه tidak menurunkan bajunya karena keinginan/pilihan beliau, akan tetapi yang demikian itu karena memang turun (dengan sendirinya/tidak disengaja), bersamaan dengan itu beliau selalu berusaha menjaganya (agar tidak turun).

Akan tetapi orang" yang berbuat isbal dan yang mereka beranggapan bahwasanya mereka tidak memaksudkannya karena sombong, mereka memang sengaja menurunkannya, maka kita katakan kepada mereka: sesungguhnya maksudmu/kesengajaanmu menurunkan pakaianmu sampai kebawah mata kaki yang tidak engkau maksudkan karena sombong, hal yang demikian itu saja, maka itu membuatmu akan diadzab atas perbuatanmu dalam hal menurunkan itu saja, yaitu dengan neraka.

Dan (terlebih lagi) apabila engkau menyeret pakaianmu karena sombong maka engkau akan diadzab dengan yang lebih besar lagi daripada itu, yaitu Allah tidak akan mengajak bicara kepada kalian pada hari kiamat, tidak melihat kalian, dan tidak pula mensucikan kalian, serta bagi kalian adzab yang pedih.

Sisi kedua:
Bahwasanya Abu Bakar رضي الله عنه di tazkiyyah dan dipersaksikan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bukanlah termasuk orang yang melakukan hal tersebut karena sombong.

Maka apakah salah satu dari mereka (musbilun) mendapatkan tazkiyyah dan persaksian (seperti yang didapatkan oleh Abu Bakar رضي الله عنه ) tersebut?!
Akan tetapi syaithon membuka (jalan) kepada sebagian manusia untuk mengikuti hal yang mutasyabih/samar" dari nash"h kitab dan sunnah untuk membenarkan apa yang mereka perbuat. Dan Allah memberikan hidayah ke jalan yang lurus kepada siapa yang Dia kehendaki. 

Sumber:
"Fatawa  Arkanil Islam"
Asy Syaikh Al-Alamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه الله
Alih bahasa: Abdullah Waqii' Al-Jawy

Baarakallahufiikum

Tuesday, 20 January 2015

tergelincir dari kebenaran, rek

Bismillaah

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
Dan sungguh aku melihat banyak kaki yang tergelincir dari orang" yang menempuh perjalanan (yakni di atas agama).

Hal itu karena mereka beribadah kepada Allah di atas keinginan mereka terhadap Allah.

Seandainya mereka beribadah pada Allah di atas apa yang Allah inginkan atas diri" mereka, tentulah tidak akan menimpa mereka suatu apapun.
Majmu Fatawa 1/90

Monday, 19 January 2015

tentang anjing" neraka, rek

Bismillaah

Tanya:
Apakah anjing" neraka itu keluar dari Islam?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Muhammad Afifuddin As Sidawy

Kaum khawarij, barakallahufiikum, jumhur ulama berpendapat mereka bukan orang kafir. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu ketika ditanya, tatkala beliau membasmi dan memberantas kaum khawarij pada masa beliau. Ada yang tanya: 
"Apakah kafir mereka itu?"

Katanya sahabat Ali bin Abi Thalib:
"Justru mereka itu lari dari kekufuran"

Ditanya lagi:
"Siapa mereka kalau begitu?"

Dijawab mereka itu adalah teman" kita muslimin, namun memberontak kami.
Kecuali beberapa sekte khawarij tertentu yang dikafirkan oleh para ulama dikarenakan ekstrimnya pemahaman mereka


Baarakallahufiikum

Sunday, 18 January 2015

kesalahan pada istri, part 3, rek

Bismillaah

Mengkhabarkan Permasalahan Rumah Tangga Kepada Orang Lain

Sebagian istri ada yang kurang keshabarannya, sedikit saja terjadi perselisihan atau permasalahan dengan suaminya dengan segera  mengkhabarkan kepada kedua orang tuanya, saudaranya atau bahkan teman"nya. Perbuatan ini timbul karena kurangnya kesetiaan, ketergesa"an yang tercela dan hal yang menunjukkan kebodohan. Hal ini juga sebab yang akan merobohkan bangunan rumah tangga.

Sudah seharusnya justru seorang istri bersemangat agar tidak ada yang mencampuri urusan keluarga mereka siapapun orangnya. Jika yang dia beri tahu adalah orang" yang mencintainya maka akan membuat mereka sedih, jika yang dia beri tahu orang" yang  membencinya akan membuat mereka senang dengan musibah atau kesulitannya.
Seorang istri yang berakal lurus sudah seharusnya menyembunyikan permasalahan rumah tangganya walaupun kepada kedua orang tuanya apalagi selain mereka. Kecuali permasalahannya memuncak menjadi besar susah untuk diselesaikan oleh keduanya maka dia bisa mencari orang yang berilmu untuk menceritakan apa yang terjadi untuk mendapatkan solusi yang sesuai.

Baarakallahufiikum

Saturday, 17 January 2015

adab dalam duduk, rek

Bismillaah

Dalam rumah dambaan seorang muslim, penghuninya akan senantiasa menjaga adab" yang sesuai tuntunan agama Islam, sampai adab" dalam duduk . Di antara adab"nya adalah :

Berjabat tangan dengan orang yang duduk di majelis atau pertemuan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا مُسْلِمَيْنِ الْتَقَيَا فَأَخَذَ أَحَدُهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ ثُمَّ حَمِدَ اللَّهَ تَفَرَّقَا لَيْسَ بَيْنَهُمَا خَطِيئَةٌ
“Apabila dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan, kemudian memuji Allah Ta’ala lalu berpisah, hilanglah kesalahan dari keduanya.“
(Shahih, HR. Ahmad dan yang lainnya)


Duduk di tempat yang telah disediakan oleh tuan rumah.

Duduk sejajar dengan yang lainnya dan tidak duduk di tengah" majelis kecuali dalam keadaan tempatnya sempit atau yang semisalnya.

Tidak duduk di tengah" dua orang kecuali seizin mereka.

Mengakhiri majelis atau pertemuan dengan membaca do’a kaffaratul majelis.
سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
“Maha Suci Engkau, ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Engkau, aku minta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
(HR. Ashhaabus Sunan dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/153)

(Disalin dari buku Baitiy Jannatiy (Rumahku Surgaku) halaman 70-85, Penulis al-Ustadz Abul Hasan al-Wonogiriy)

Baarakallahufiikum

Friday, 16 January 2015

memakai baju model henbok, rek

Bismillaah

Ustadzah, apakah diperbolehkan memakai baju dengan model hanbok?  Yang baju ini di negara kufar Korea sana digunakan sebagai busana keagamaan...
Jazaakillahu khairan..

Dijawab oleh : Al Ustadzah Ummu Abdillah Zainab bintu Ali hafizhahallah

Bismillah, setelah jelas terlihat dalam gambar" tentang baju hanbok, juga setelah jelas diketahui bahwa baju hanbok adalah baju khusus yang dipakai dalam ritual agama kuffar, maka dengan ini ana ingin menasehatkan saudara sesama muslimah di manapun berada:

BERTAQWALAH kepada ALLAH TA'ALA antunna yang membuat/menjahit, menjual juga yang membeli jubah yang TASYABBUH dengan pakaian wanita kuffar ini...

Ketahuilah bahwa model jubah yang syar'i adalah longgar lebar warna gelap terutama hitam dan tanpa hiasan. Bagi penjahit dan penjual ,apa yang antunna cari? Kalau ingin rizqi yang halal dan barokah berjalanlah sesuai syar'i, jangan mencari rizqi dengan melanggar syari'at, tidak peduli halal haram juga syubhat, berhati"lah dan TAQWA kepada ALLAH.

Bagi antunna yang membeli dan memakainya, lepaskan baju" yang tasyabbuh dengan wanita kuffar, sederhanalah dalam berpakaian, contohlah para shahabiyah ketika keluar rumah mereka seperti gagak" hitam, menunjukkan pakaian mereka luas hitam tanpa ada hiasan.

Baarakallahufiikum

Thursday, 15 January 2015

hukum wudhu dalam kloset, rek

Bismillaah

Pertanyaan:
Apakah hukum orang yang wudhu di dalam kloset, apakah sah wudhunya?

Jawab:
Ibnu Baz Rahimahullah berkata:
Tidak mengapa wudhu di dalam kloset apabila (kondisinya) membutuhkan untuk (melakukan) hal itu, ia mengucapkan bismillah di awal wudhu, ia mengucapkan: "bismillah", karena membaca bismillah wajib menurut sebagian ulama dan sunnah mu'akkadah menurut mayoritas (ulama). Ia membacanya dan hukum makruh itu hilang, karena hukum makruh hilang ketika dibutuhkan untuk membaca bismillah, seseorang diperintahkan membaca bismillah diawal wudhu ia mengucapkan bismillah dan menyempurnakan wudhunya.

Adapun tasyahhud (doa setelah wudhu) diucapkan setelah keluar dari Hammam -yaitu tempat buang hajat-. Apabila selesai dari wudhunya ia keluar membaca tasyahhud di luar (kloset).

Adapun apabila Hammam sekedar untuk wudhu tidak untuk buang kotoran dan kencing maka tidak mengapa ia mengucapkannya (tasyahhud) di dalam karena bukan tempat untuk buang hajat.

[Majmu' Fatawa wa maqalat Mutanawwi'ah Jilid 10, Hal. 28]

Alih bahasa:
Abul Abbas Shaleh bin Zainal Abidin

Baarakallahufiikum

Wednesday, 14 January 2015

pembebanan shalat bagi anak", rek

Bismillaah

Fadhilatus Syaikh Ibnu Baaz rohimahulloh.

Pertanyaan:
Apakah baligh menjadi tolak ukur yaitu batasan yang mewajibkan setelahnya dibebankannya syari’at bagi anak" untuk menunaikan apa yang terlewatkannya dari sholat karena sebab tidur atau sebaliknya? 

🔏Jawaban:
Kapan seorang anak lelaki atau anak perempuan mencapai batas baligh maka wajib bagi keduanya sholat dan puasa Romadhon, haji dan umroh sesuai kemampuan, dan keduanya berdosa karena meninggalkan hal itu, dan karena melakukan kemaksiatan

Berdasarkan dalil" syar'i, dan beban syari’at dapat terjadi karena:
genap berusia 15 tahun,
atau keluarnya mani dengan syahwat di kala tidur ataupun terjaga,
dan tumbuhnya rambut halus di sekitar kemaluan,
dan ditambah menjadi 4 perkara bagi anak perempuan yaitu:
haidh. 

dan selama anak lelaki atau anak perempuan belum mengalami sedikitpun dari perkara" ini, maka keduanya tidak terbebani syari’at, akan tetapi keduanya diperintahkan untuk sholat karena sudah berusia 7 tahun, dan keduanya dipukul (dengan pukulan yang mendidik) karena sudah berusia 10 tahun, dan keduanya diperintahkan berpuasa Romadhon, dan keduanya diberi motivasi untuk mengerjakan kebaikan; baik berupa membaca Al-Qur’an, sholat sunnah, haji dan umroh, memperbanyak tasbih, tahlil, takbir dan tahmid, 

dan keduanya dilarang dari kemaksiatan; berdasarkan sabda Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam:
"Perintahkanlah anak" kalian sholat karena usia 7 tahun dan pukullah mereka karena (meninggalkan) nya karena usia 10 tahun, dan pisahkanlah diantara mereka dalam tempat tidur mereka"

Karena beliau shollallohu 'alaihi wa sallam:

"Beliau mengingkari al-Hasan bin Ali rodhiallohu 'anhuma makannya dari kurma sedekah dan beliau mengatakan kepadanya: tidakkah kamu tahu bahwasanya tidak halal bagi kita (memakan) sedekah dan beliau memerintahkannya untuk membuang kurma yang dia ambil dari sedekah"
Dan al-Hasan usianya ketika Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam wafat 7 tahun lewat beberapa bulan.
Majmu’ al-Fatawa Juz. 10 Hal. 371
(Fatwa tarbiyyatul awlad hal. 22-23)
 
 Baarakallahufiikum

Tuesday, 13 January 2015

memperpanjang sujud terakhir, rek

Bismillaah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin pernah ditanya:
“Apakah hukum memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat lainnya, di dalamnya seseorang berdo’a dan istighfar? Apakah shalat menjadi cacat jika seseorang memperpanjang sujud terakhir?”

Beliau rahimahullah menjawab:

Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya.

Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Baro’ bin ‘Azib, ia berkata:
“Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya).”
Inilah yang afdhol. Akan tetapi ada tempat do’a selain sujud yaitu setelah tasyahud (sebelum salam). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda
"Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdoa dengan doa apa saja”.
Maka berdoalah ketika itu sedikit atau pun lama setelah tasyahud akhir sebelum salam.

Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376

Baarakallahufiikum

Monday, 12 January 2015

lebih cepat dari aliran awan, rek

Bismillaah

Ibnul Qoyyim rahimahullaah berkata,
"Waktu seseorang itulah hakekat umurnya, dialah penentu kehidupan abadinya (di kemudian hari), apakah dalam kenikmatan abadi ataukah dalam kehidupan sengsara dalam adzab abadi yang pedih…

Waktu berlalu lebih cepat dari aliran awan.
Maka siapa saja yang waktunya dihabiskan untuk Allah dan karena Allah maka waktu itulah hakekat umur dan kehidupannya. 

Adapun selain itu (jika waktunya tidak dihabiskan untuk dan karena Allah) maka waktu tersebut pada hakekatnya bukanlah termasuk kehidupannya, akan tetapi kehidupannya laksana ibarat kehidupan hewan. Jika ia menghabiskan waktunya dalam kelalaian dan syahwat, serta angan"yang batil, dan waktu yang terbaiknya adalah yang ia gunakan untuk tidur dan nganggur maka MATINYA orang yang seperti ini lebih baik dari pada hidupnya"
Al Jawaab Al Kaafi hal 109

Baaraakallahufiikum

Sunday, 11 January 2015

tidak menyapa orang yang tidak shalat berjamaah, rek

Bismillaah

Apakah boleh tidak menyapa orang yang tidak menghadiri shalat jamaah? Apakah boleh melaksanakan shalat di rumah yang terletak di samping masjid dan tidak ikut berjamaah? Apakah ini dapat diterima atau tidak?

Jawaban:

Secara hukum asal, melaksanakan shalat wajib berjamaah di masjid hukumnya wajib bagi laki"...

Barangsiapa yang meninggalkan jamaah di masjid tanpa alasan yang jelas dan diterima syariat, maka bagi orang yang mengetahui hendaknya ia menasehatinya...

Jika ia tidak mau menerima nasehatnya, maka dibolehkan untuk tidak menyapa...

Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsil Ilmiyyah Wal Ifta'
Fatwa Nomor 6261

Baarakallahufiikum

Saturday, 10 January 2015

karakter sesuai dengan yang dikonsumsinya part 3, rek

Bismillaah

Ibnul Qoyyim rahimahullah melanjutkan...

Dan begitu pula keledai, sifat" keledai akan melekat pada diri mereka yang mengkonsumsinya. Maka Rasulullah melarang kita memakan daging keledai piaraan.

Disebabkan darah merupakan tempat mengalirnya syetan, maka Allah pun mengharamkannya...

Barangsiapa memperhatikan hikmah Allah pada makhluk"Nya dan syariatNya dan membandingkan antara keduanya, niscaya akan terbuka baginya ma'rifah asma Allah dan sifat"Nya...

At Tibyaan fi Aqsamil Quran 

Baarakallahufiikum

Friday, 9 January 2015

hukum menonton tv rodja, rek

Bismilllah

Tanya:
Apa hukum menonton TV Rodja?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Abu Karimah Askari hafizhahullah

TV hizbi, TV Rodja itu TV hizbi, menampilkan Muhammad Al Arifi, seorang hizbi tulen, penggantinya Salman Al Audah yang sudah semakin tua. 

Al Arifi yang sekarang banyak digandrungi para pemuda. Orang ini hizbi, dan disesatkan oleh para ulama, diantaranya Asy Syaikh Shalih Al Fauzan.

Dan orang-orang di dalamnya campur aduk dari para pendukung Ali Hasan Al Halabi, Abul Hasan Al Maghribi, dan para pendukung Ihya'ut Turots, macam-macam didalamnya.

Baarakallahufiikum

Thursday, 8 January 2015

nasehat kepada anak kita, part 2, rek

Bismillaah
Bersemangatlah dalam memberikan nama yang terbaik untuk putra-putrimu.
Berapa banyak nama itu berpengaruh terhadap anak, putra maupun putri.
Asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah
Baarakallahufiikum

Wednesday, 7 January 2015

sikap suami dalam menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga, rek

Bismillaah

Tanya:
Ana orang awam, bagaimana sikap suami yang baik atau bijak dalam menyelesaikan masalah keluarga?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Usamah Faishol Mahri hafizhahullah

Kalau secara umum, seperti Umar bin Khattab radhiyallahu anhu' katakan: "Hendaknya seorang suami kepada istrinya seperti anak kecil kepada ibunya".

Minta dimanja, bermesraan, dimanja oleh istri kamu, ma'ruf antara suami istri tentang itu.
Tetapi kata Umar (radhiyallahu anhu') jika keluarganya dalam menghadapi masalah, mereka betul-betul dapati suaminya seorang pemimpin. 

Artinya ada waktunya dimana kamu mesra dengan istri kamu, manja, minta kasih sayang. Adapula waktunya kamu harus tegas dalam memimpin, terutama itu perkara-perkara yang haram, yang dilarang oleh syariat, kemunkaran, menyalahi perintah Allah, perintah rasul-Nya. 

Kamu harus bimbing mereka ketika itu, tidak boleh (membiarkan). Dan betul" kekuasaan itu ada di tanganmu untuk membimbing mereka.

Dan watak wanita, mereka itu minta dipimpin, tidak bisa dilepas. Apalagi memimpin, tidak bisa. Mereka minta dipimpin, cuma karena keangkuhan saja terkadang sok mau mimpin keluarganya, tidak akan bisa dan bertentangan dengan bawaan dia sebagai wanita, tabiatnya dipimpin.

Ilmu tentunya hal yang terbaik yang akan membimbing kita untuk itu. Bagaimana menyelesaikan setiap masalah dengan bijak. 

Tidak berarti kepemimpinan itu kamu menjadi orang yang otoriter dan keras, bukan! Tetapi tegas, betul" keputusanmu yang menjadi keputusan.
Makanya sering diarahkan, anak, istri, pentingnya ilmu dalam rumah tangga. Kepemimpinan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah dari suami, dari bapak, dengan bimbingan ilmu. Kalau dengan perasaan dan mengikuti hawa nafsu kita, rusak semuanya.

Makanya harus seimbang, bagaimana kamu belajar ilmu, anak dan istrimu pun harus diajari ilmu. Agar tidak selegenje, kamunya ngerti ilmu, kamu paham, harus begini dan harus begitu. Sementara ini tidak paham, kosong. Kamunya ingin begini, ini tidak paham kenapa harus begitu. Kamu bilang ini tidak boleh, dia tidak mengerti kenapa tidak boleh begitu, dia tidak mengerti ilmu. Makanya kewajiban kamu pula membimbing mereka, ngaji, belajar benar, membaca ilmu yang bermanfaat.

Selain itu juga, selain kepada istri, kepada anak lebih baik anak itu diberi pengertian sebagai orang tuanya. Dalam setiap hal bagaimana atas dasar kemauan dan pengertian dia, mau melakukan ini, mau meninggalkan itu. Sadarkan kalau ini jelek, harusnya ditinggalkan! Ini baik, harus dia lakukan! Mungkin di masa dia kecil, perlu sedikit paksaan, tapi semakin dia beranjak lebih dewasa, lebih dewasa, harus didewasakan.

Kalau orang arab, pepatah mereka mengatakan "kalau anak itu sudah semakin besar, anggap dia temanmu."
Jangan kamu anggap anak kamu yang bisa kamu doktrin, dan kamu atur.

"Ayo begini! Tidak boleh begini!"

Dia sudah dewasa, sudah punya perasaan, minta diorangkan. Kamu ajak duduk, kamu ajak ngomong dengan baik tentang masa depanmu. Ajak dia dewasa biar berpikir, ini ketaatan kepada Allah, yang menciptakan kamu Allah, ini haram dilarang, kejelekannya begini...

Diajak dewasa, ini jauh lebih manfaat. Kalau kamu paksa, mungkin di depan kamu dia mau melakukan, (kalau) kamu tidak ada? (apakah dia masih mau mekakukannya?)

Baarakallahufiikum

Tuesday, 6 January 2015

antara belajar dan shalat jumat, rek


Bismillaah

Tanya:
Saya adalah salah seorang pelajar yang dikirim untuk menempuh pendidikan di Amerika Serikat, dan sesuatu yang diketahui bersama bahwa hari Jum’at adalah hari belajar, dan pada hari ini berbenturan antara jam pelajaran dengan shalat Jum’at yang ditegakkan di masjid di sebuah kota kecil, yaitu jam setengah dua.

Dan tidak memungkinkan bagiku untuk menggabungkan antara jam pelajaran dengan shalat Jum’at pada waktu yang bersamaan, dan perlu diketahui bahwa di sana tidak ada pengganti untuk pelajaran ini, dan ini merupakan pelajaran pokok dalam program ini.

Dan saya pernah memperoleh ijin dari guru mata pelajaran ini, akan tetapi dia mengatakan padaku, “Lain kali saya tidak akan mengijinkanmu, karena hal ini mempengaruhi tingkat belajarmu.” 

Apa yang harus saya lakukan? Berikanlah faedah kepadaku, mudah-mudahan Allah memberikan faedah kepadamu.

Jawab:
Saya berpendapat, apabila dia mendengar adzan maka wajib baginya untuk menghadiri shalat Jum’at berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
 (QS: Al-Jumuah Ayat: 9)

Apabila Allah Ta’ala memerintahkan untuk meninggalkan jual beli padahal jual beli terkadang termasuk kebutuhan yang sangat mendesak, ataupun menurut pendapat yang paling shahih merupakan kebutuhan manusia, demikian pula dalam kegiatan belajar ini, dia harus meninggalkannya kemudian menghadiri shalat Jum’at. 

Adapun apabila masjidnya jauh, maka ia tidak diharuskan mendatanginya apabila memberatkan baginya untuk mendatangi tempat shalat Jum’at.

Sumber:
Majmu’ Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 16/50-51

Alih bahasa:
Abdulaziz Bantul
Ma’had Ibnul Qoyyim, Balikpapan

Baarakallahufiikum

Monday, 5 January 2015

nasehat kepada anak kita, part 1, rek

Bismillaah
Seriuslah untuk menanamkan iman dan tauhid di hati putra-putrimu. Itu adalah kalimat thayyibah, pohon yang tertanam kuat dan berbuah lebat.

Asy-Syaikh Ahmad bin Qadzlan al-Mazru'i hafizhahullah
Baarakallahufiikum

Sunday, 4 January 2015

kesalahan yang dilakukan istri part 2, rek

Bismillaah

Kesalahan kedua:
Mengungkit" kebaikannya kepada suami. 

Ada sebagian istri yang melaksanakan tugasnya, melayani suaminya, mengurusnya bahkan mengurus kedua orang tuanya. Akan tetapi diikuti dengan sikap mengungkit" kebaikannya ini atau kebaikan yang lainnya yang dia lakukan untuk suaminya.

Sungguh mengungkit" kebaikan kita yang kita berikan kepada orang lain adalah perbuatan yang dilarang dalam agama lalu bagaimana jika dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Jelas lebih dilarang.  

Seorang istri seharusnya sadar, disamping ketaatannya dan pelayanannya merupakan sebuah keharusan bagi seorang istri untuk bersikap seperti itu atau kebaikan yang dia berikan itu untuk orang yang dia cintai bahkan orang yang juga berbuat baik kepadanya (yaitu suaminya) lalu kenapa dia mengungkit" apalagi hal itu perbuatan yang dilarang oleh agama.

Al Ustadz Abdullah Al Jakarty

Baarakallahufiikum

Saturday, 3 January 2015

lalu di manakah kita, rek

Bismillaah
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i  rahimahullaah berkata:
"Tidaklah kami akan menjual agama kami, tidak pula dakwah kami.
WALAUPUN KAMI DIBERI YAMAN SELURUHNYA.
Maka dakwah di sisi kami lebih mulia daripada jiwa raga, keluarga dan harta kami.
Dan kami siap untuk MAKAN WALAUPUN TANAH.
Kami tidak akan berkhianat dengan agama serta tanah air kami.
Dan kami tidak TALAWWUN (berwarna-warni). TALAWWUN tidaklah termasuk ciri Ahlussunnah."
 
Al-Baaits 'ala Syarhil Hawaadits halaman 57
Baarakallahufiikum

Friday, 2 January 2015

sejarah ringkas munculnya bid'ah maulid, rek

Bismillaah

Lihatlah, siapa yang membuat tradisi Peringatan Maulid Nabi pertama kali.... 
Apakah orang" shalihin?
Apakah generasi Salaf yang diridhai?

Fadhilatusy Syaikh al-'Allamah Muhammad Aman al-Jami rahimahullah berkata,
"Apabila kita merujuk kepada sejarah – sebatas ilmuku -; perayaan pertama yang terjadi adalah dengan nama Maulid Nabi. Kemudian diikuti dengan nama Maulid 'Ali bin Abi Thalib, kemudian maulid Fathimah – radhiyallahu 'anhuma – kemudian maulid al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu 'anhuma, kemudian maulid untuk para khalifah yang ada ketika itu

Kapan terjadi ini?
Pada masa Bani Fathimiyyin – yang lebih tepat mereka adalah Bani Ubaidiyyin - . Mereka (Ubadiyyun) adalah orang" yang hendak mengangkat diri mereka dan mengklaim bahwa diri mereka adalah Fathimiyyin, nisbah kepada Fathimah az-Zahra'. Mereka hendak menetapkan nasab palsu dan dibuat" itu kepada Ahlul Bait.

Di antara bentuk kepalsuaannya adalah mereka membuat perayaan" tersebut setiap tahun. Mereka merayakan 6 perayaan/hari besar tersebut, sebagai bentuk pengagungan dari mereka terhadap Ahlul Bait. Karena mereka faktanya bukanlah termasuk Ahlul Bait. Mereka menisbahkan diri dan berusaha menetapkan nasab tersebut.


Baarakallahufiikum

Thursday, 1 January 2015

tentang tempat usaha yang campur baur antara laki dan perempuan, rek

Bismillaah

Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry hafizhahullah

Pertanyaan:
Semoga Allah memberkahi Anda wahai syaikh kami. Di tempat kami di negeri timur Asia terdapat rumah-rumah makan yang kebiasaannya para pengunjungnya dari kalangan pria dan wanita sehingga seringnya terjadi ikhtilath dan sebagian kemungkaran. Maka apakah pemilik rumah-rumah makan tersebut berdosa atasnya dan apakah hal itu teranggap saling membantu dalam dosa dan permusuhan?

Jawaban:
Jika dia benar-benar seorang muslim maka tidak halal hal seperti ini baginya. Hendaknya dia berusaha memisah antara pria dengan wanita, dan tidak halal baginya untuk membiarkan mereka duduk di samping pria.
 
Adapun berkaitan dengan melarang maka saya kira hal itu tidak mudah baginya, karena negara-negara kafir mengharuskan, dan barangsiapa dari kaum Muslimin yang meniru mereka maka mereka akan mengharuskannya.

Tetapi hendaknya dia membuat tirai pembatas sebisa mungkin, dan jangan sampai misalnya dia membiarkan orang minum khamr, menari, dan hal yang sia-sia.

Jangan sampai dia membiarkan hal ini, walaupun hal itu membuatnya terpaksa harus menutup rumah makan tersebut. Dan hendaklah dia percaya dengan janji Allah:
وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah maka pasti Dia akan memberikan jalan keluar bagi kesulitannya dan akan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Baarakallahufiikum