Friday, 22 November 2013

mariyah maulah hujair terpesona dengan kemuliaan khubaib radhiyallahu anhu, part 2, rek

Bismillaah
Lanjut dengan postingan kemaren yaa

Mariyah pernah mengintip dari celah" pintu. Dia terperanjat. Khubaib sedang memegang setandan buah anggur, sementara saat itu bukan musim anggur. Tak ada sebiji anggur pun di Makkah waktu itu. Mariyah tersadar, itu semua rezeki dari Allah subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Mariyah bertanya pada Khubaib, “Wahai Khubaib, apakah engkau membutuhkan sesuatu?” “Tidak!” jawab Khubaib, “Hanya saja kuminta kepadamu tiga hal, jangan kau beri aku minum kecuali air dingin saja, jangan kau beri aku makanan dari sesuatu yang disembelih untuk berhala, dan kau beritahukan aku jika tiba saatnya mereka hendak membunuhku.” Mariyah menyanggupi.

Bulan" haram pun berlalu. Dekat sudah waktu yang mereka sepakati untuk membunuh Khubaib. Sesuai janjinya, Mariyah memberitahukan hal itu kepada Khubaib. Mendengar kabar itu, Khubaib tak sedikit pun terlihat gentar.

“Maukah kau pinjamkan padaku pisau, agar aku bisa membersihkan diri?” pinta Khubaib pada Mariyah. Mariyah memenuhi permintaannya. Dia menyuruh anak susuannya, Abu Husain, untuk menyerahkan pisau itu kepada sang tawanan. Abu Husain pun menurut.

Setelah anak kecil itu hilang dari pandangan matanya, Mariyah tertegun. “Apa yang baru saja kulakukan?” ujarnya dalam hati. “Aku menyuruh anakku membawa pisau itu kepadanya. Dia bisa dengan mudah membunuh anakku dengan pisau itu, lalu beralasan seorang balas seorang!”

Mariyah bergegas menyusul.

Sementara itu, si anak masuk menemui Khubaib sambil menyerahkan sebilah pisau yang dibawanya. Khubaib mengangkat anak itu dan mendudukkan di pangkuannya. Terdengar kelakar Khubaib, “Demi ayahku! Apa ibumu tidak khawatir aku akan membalas dendam dengan membiarkanmu datang membawa pisau, sementara mereka ingin membunuhku?”

Mariyah mendengar ucapan itu. “Wahai Khubaib, aku percaya kepadamu dengan keamanan dari Allah. Aku berikan pisau itu bukan untuk membunuh anakku!”

“Aku tidak akan membunuhnya,” jawab Khubaib, “Dan tidak halal dalam agama kami membalas dendam.”

Tenanglah Mariyah. Lalu Mariyah memberitahu Khubaib bahwa orang" akan mengeluarkannya dari tawanan besok untuk membunuhnya.

Keesokan harinya, Khubaib dikeluarkan dari tawanan dalam keadaan dirantai. Dia dibawa ke Tan’im, sekitar tiga mil dari Makkah ke arah Madinah. Di sana telah dipancangkan tonggak kayu untuk membunuhnya.

Sampai di sana, Khubaib meminta, “Maukah kalian melepaskan aku sebentar agar aku bisa shalat dua rakaat?” Mereka meluluskan permintaannya. Khubaib pun shalat dua rakaat dengan menyempurnakan shalatnya tanpa memperpanjangnya. Setelah itu, orang" itu pun membunuhnya.

Di kemudian hari, Mariyah maulah Hujair masuk Islam. Dia selalu mengenang peristiwa ini. Dialah yang menuturkan kemuliaan Khubaib selama berada dalam tawanan. Mariyah maulah Hujair, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya ….

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (2/225-226, 8/312-313)
Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/564-565)
Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/285-286)
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghaz

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment