Monday, 11 November 2013

lebih baik shalat di masjid ahlussunnah, part 2, rek

Bismillaah
Masih lanjut dengan postingan hari jumat kemaren nihh

Dan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِي سُوْقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ

Shalat seseorang dengan berjama’ah melebihi dua puluh tujuh derajat dari shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya dan di pasarnya, demikian itu karena bila salah seorang diantara mereka berwudhu’ dengan menyempurnakan wudlu’nya, lalu mendatangi masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah, kecuali akan ditinggikan derajatnya dan dihapus kesalahannya, hingga ia masuk masjid, jika ia telah masuk masjid, maka ia dihitung dalam shalat selama ia tertahan oleh shalat, dan malaikat terus mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya yang ia pergunakan untuk shalat, malaikat akan berdoa: Ya Allah, rahmatilah dia, Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah maafkanlah dia, selama ia tidak mengganggu orang dan belum berhadats. (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, begitu menyenangkan jika mereka dapat menghadiri shalat di Masjid Ahlussunnah, jika tidak maka saya sarankan mereka untuk mendirikan Masjid untuk diri mereka sendiri yang pembangunannya tidak memberatkan dan tidak banyak pengeluaran sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Aku tidak memerintahkan membangun masjid yang mewah dan tinggi”.

Dari Anas radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berbangga" dengan masjid.” (Riwayat Imam Ahmad No. 11931)

Jadi yang disunnahkan adalah bahwa masjid cukup nyaman dan sederhana. Dan jika engkau mampu membangun masjid seperti masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka lakukanlah, jika engkau tidak mampu maka jangan membebani diri sendiri dan tidak mewah dalam membangun masjid yang dikhawatirkan menyelisihi sunnah, seperti hiasan" kaligrafi dan menara. Juga dengan apa yang mereka sebut al-Mihraab dan apa yang mereka pasang di empat sudut masjid dan apa yang mereka sebut ash-Shurufaat (serambi dan teras), hal ini tidak ditemukan di masjid Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ketika dibangun pada waktu itu. Demikian juga Mimbar yang meningkat lebih dari tiga langkah.

Wa Laa Illaaha illallaah, karena memang tidaklah datang kepadaku seseorang apakah dia berasal dari Eritrea atau dari Indonesia atau dari Sudan dan selain mereka dari negara" Islam kecuali bahwa ia mengeluh dari bahaya Ikhwaan al-Mufliseen (Persaudaraan yang Bangkrut) kepada Ahlus-Sunnah. Lalu saya katakan, Wallahul musta’an, sehingga mereka IM siap untuk melakukan bergabung dengan komunis dan dengan Mulhid (ateis) dan dengan sekuler dan dengan Ba’thists, dan dengan Naasirites dan dengan para Sufi dan dengan Syiah sementara mereka tidak mau kembali dengan Sunni kecuali ketika waktu pemilu semakin dekat, memang kemudian mereka berkata:

“Diamlah dalam membicarakan tentang kami dan kami akan tetap diam membicarakan tentang kalian”.

(Tuhfatul Mujib ‘Alaa Asilatil Haadhir wal Gharib, halaman 129-131)

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment