Friday, 29 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 5, rek

Bismillaah
Kisah terakhir tentang Sa'id bin 'Amir yaa

Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam setiap bulannya.” Umar berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?”

Sa’id sang Gubernur Hims menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul Mu’minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.

Kemudian Umar melanjutkan : “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Para wakil rakyat menjawab, “Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang" yang duduk di majelisnya.” Lalu Umar berkata, “Dan bagaimana mengenai ini wahai Sa’id?”

Maka Sa’id bin Amir menjawab, “Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang" Quraisy memotong" badannya sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?” maka Khubaib berkata, “Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri. Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya saat itu, kecuali aku khawatir bahwa Allah tidak mengampuni aku maka akupun jatuh pingsan setiap kali teringat peristiwa itu.

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.”

Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepada Sa’id bin Amir. Ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kita dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk meringankan pekerjaan kita”,

Sa’id berkata kepada istrinya, “Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?” Istrinya menjawab, “Apa itu?”

Said menjelaskan, “Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.” Istrinya berkata, “Apa itu?”, Ia menjawab, “Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik.” Istrinya berkata, “Benar, dan semoga engkau dibalas dengan kebaikan.”

Maka sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar" itu telah dibagi dalam kantong"kecil, Sa’id kemudian meminta salah seorang keluarganya, “Bagikanlah ini kepada jandanya fulan, dan kepada anak" yatimnya fulan, dan kepada orang" miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan

Mudah"an Allah meridhai Sa’id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orang-" yang mendahulukan (orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.

Subhanallah.

Untuk tambahan tentang biografi Sa’id bin Amr al-Jumahi, lihatlah: Al-Tahdzib:4/51, Ibnu ‘Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul auliya’:1/244, Tarih al-Islam:2/35, Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment