Wednesday, 27 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 3, rek

Bismillaah
Lanjuttt dengan yang kemarin nihh

Dan ketika Nabi yang mulia shalallahu alaihi wasallam dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu"nya bagi orang mu’min yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya.

Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa’id bin Amir, bahkan kedua khalifah besar ini mau mendengar nasihat"nya dan memperhatikan pendapatnya.

Sebagai contoh, semasa awal kekhilafahan Umar, ia menemui Umar dan berkata, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan…"

Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu, baik orang" muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah

Maka Umar berkata, “Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa’id?!”

Ia menjawab, “Orang laki" sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang" yang Allah serahkan urusan umat Muhammad shallallahu alaihi wasalam kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia dan Allah.”

Beberapa saat setelah itu, Umar mengajak Sa’id untuk membantunya mengurus negeri" yang dikuasai kaum muslimin dan berkata, “Wahai Sa’id, aku menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh.”

Maka Said berkata, “Hai Umar! Aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah.”

Maka Umar marah dan berkata, “Celaka kalian, kalian menaruh urusan negara ini di atas pundakku (seorang diri), lalu kalian berlepas diri dariku!! Demi Allah aku tidak akan melepasmu.”

Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, “Kami akan memberi kamu gaji.”

Sa’id berkata, “Untuk apa gaji itu wahai Amirul Mu’minin? Karena pemberian untukku dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku.” Kemudian ia berangkat ke Himsh tanpa mengambil gajinya.

Lama berselang, suatu hari datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul Mu’minin (Umar bin Khattab radiyallahu anhu), maka Umar berkata kepada para utusan tersebut, “Tuliskan nama" orang fakir kalian dari negeri Himsh, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka”

Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, Fulan dan hingga tertulis nama Sa’id bin Amir….

Umar bertanya-tanya: “Siapa gerangan Sa’id bin Amir yang ini?.”

Mereka menjawab, “Gubernur kami.”

Umar sangat kaget, “Gubernurmu fakir?”

Mereka berkata, “Benar wahai Amirul Mu’minin, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.

Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya Amirul Mu’minin memberinya harta ini supaya ia dapat menutup kebutuhan hariannya.

Saat para utusan itu mendatangi Sa’id dengan membawa kantong, lalu Sa’id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia segera meletakkannya jauh dari dirinya seperti melihat benda yang menakutkan, dan berkata: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya) seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa wahai Sa’id?! Apakah Amirul Mu’minin meninggal dunia?"

Said menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apakah orang" muslim dalam bahaya?” Ia menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apa yang lebih besar dari itu?” Ia menjawab, “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.” Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu darinya.” -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang" dinar itu sama sekali- Ia berkata, “Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?” Istrinya menjawab, “Ya!” Lalu ia mengambil uang" dinar dan memasukkannya ke dalam kantong" kecil kemudian ia membagikannya kepada orang" muslim yang fakir.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

No comments:

Post a Comment