Saturday, 30 November 2013

quote #165, rek

Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar. Jika sabar itu ada pada seseorang, pasti ia tergolong orang yang dermawan
-Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu-

Friday, 29 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 5, rek

Bismillaah
Kisah terakhir tentang Sa'id bin 'Amir yaa

Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam setiap bulannya.” Umar berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?”

Sa’id sang Gubernur Hims menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul Mu’minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.

Kemudian Umar melanjutkan : “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Para wakil rakyat menjawab, “Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang" yang duduk di majelisnya.” Lalu Umar berkata, “Dan bagaimana mengenai ini wahai Sa’id?”

Maka Sa’id bin Amir menjawab, “Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang" Quraisy memotong" badannya sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?” maka Khubaib berkata, “Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri. Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya saat itu, kecuali aku khawatir bahwa Allah tidak mengampuni aku maka akupun jatuh pingsan setiap kali teringat peristiwa itu.

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.”

Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepada Sa’id bin Amir. Ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kita dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk meringankan pekerjaan kita”,

Sa’id berkata kepada istrinya, “Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?” Istrinya menjawab, “Apa itu?”

Said menjelaskan, “Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.” Istrinya berkata, “Apa itu?”, Ia menjawab, “Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik.” Istrinya berkata, “Benar, dan semoga engkau dibalas dengan kebaikan.”

Maka sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar" itu telah dibagi dalam kantong"kecil, Sa’id kemudian meminta salah seorang keluarganya, “Bagikanlah ini kepada jandanya fulan, dan kepada anak" yatimnya fulan, dan kepada orang" miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan

Mudah"an Allah meridhai Sa’id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orang-" yang mendahulukan (orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.

Subhanallah.

Untuk tambahan tentang biografi Sa’id bin Amr al-Jumahi, lihatlah: Al-Tahdzib:4/51, Ibnu ‘Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul auliya’:1/244, Tarih al-Islam:2/35, Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399

Baarakallahufiikum

Thursday, 28 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 4, rek

Bismillaah
Rangkaian kisah keempat dari kelima tentang Sa'id bin 'Amir yaa

Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin al-Khattab radiyallahu anhu, datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan negeri" Islam, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan ‘Al-Kuwaifah’ yaitu bentuk kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan pejabat" dan penguasa"nya. Ketika beliau singgah di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka Umar berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?”

Maka mereka mengadukan kepadanya empat keluhan tentang pemimpin mereka Sa’id bin Amir, yang masing" lebih besar dari yang lainnya. Umar kemudian mengumpulkan sang Gubernur, Sa’id bin Amir dia dengan sebagian dari mereka dalam suatu majelis, sementara itu Umar berdo’a kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena selama ini Umar selalu menaruh kepercayaan yang sangat besar kepada Sa’id bin Amir.

Dan ketika para wakil rakyat dan gubernurnya telah berkumpul di hadapan Umar, beliau berkata, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.” Maka Umar berkata, “Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa’id?.”

Maka Sa’id terdiam sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab… sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi terpaksa harus (membantu istriku) membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang".

Umar berkata, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Wakil rakyatnya menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak menerima tamu pada malam hari.” Umar berkata, “Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa’id?”

Sa’id menjawab, “Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga … aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari hanya untuk Allah Azza wa Jalla (ibadah / sholat malam.” Umar meneruskan, “Wahai para wakil rakyat, apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Wednesday, 27 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 3, rek

Bismillaah
Lanjuttt dengan yang kemarin nihh

Dan ketika Nabi yang mulia shalallahu alaihi wasallam dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu"nya bagi orang mu’min yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya.

Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa’id bin Amir, bahkan kedua khalifah besar ini mau mendengar nasihat"nya dan memperhatikan pendapatnya.

Sebagai contoh, semasa awal kekhilafahan Umar, ia menemui Umar dan berkata, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan…"

Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu, baik orang" muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah

Maka Umar berkata, “Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa’id?!”

Ia menjawab, “Orang laki" sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang" yang Allah serahkan urusan umat Muhammad shallallahu alaihi wasalam kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia dan Allah.”

Beberapa saat setelah itu, Umar mengajak Sa’id untuk membantunya mengurus negeri" yang dikuasai kaum muslimin dan berkata, “Wahai Sa’id, aku menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh.”

Maka Said berkata, “Hai Umar! Aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah.”

Maka Umar marah dan berkata, “Celaka kalian, kalian menaruh urusan negara ini di atas pundakku (seorang diri), lalu kalian berlepas diri dariku!! Demi Allah aku tidak akan melepasmu.”

Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, “Kami akan memberi kamu gaji.”

Sa’id berkata, “Untuk apa gaji itu wahai Amirul Mu’minin? Karena pemberian untukku dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku.” Kemudian ia berangkat ke Himsh tanpa mengambil gajinya.

Lama berselang, suatu hari datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul Mu’minin (Umar bin Khattab radiyallahu anhu), maka Umar berkata kepada para utusan tersebut, “Tuliskan nama" orang fakir kalian dari negeri Himsh, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka”

Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, Fulan dan hingga tertulis nama Sa’id bin Amir….

Umar bertanya-tanya: “Siapa gerangan Sa’id bin Amir yang ini?.”

Mereka menjawab, “Gubernur kami.”

Umar sangat kaget, “Gubernurmu fakir?”

Mereka berkata, “Benar wahai Amirul Mu’minin, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.

Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya Amirul Mu’minin memberinya harta ini supaya ia dapat menutup kebutuhan hariannya.

Saat para utusan itu mendatangi Sa’id dengan membawa kantong, lalu Sa’id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia segera meletakkannya jauh dari dirinya seperti melihat benda yang menakutkan, dan berkata: (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan dikembalikan kepada-Nya) seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa wahai Sa’id?! Apakah Amirul Mu’minin meninggal dunia?"

Said menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apakah orang" muslim dalam bahaya?” Ia menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apa yang lebih besar dari itu?” Ia menjawab, “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.” Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu darinya.” -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang" dinar itu sama sekali- Ia berkata, “Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?” Istrinya menjawab, “Ya!” Lalu ia mengambil uang" dinar dan memasukkannya ke dalam kantong" kecil kemudian ia membagikannya kepada orang" muslim yang fakir.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Tuesday, 26 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 2, rek

Bismillaah
Lanjut kisahnya Sa'id bin 'Amir yaaa

Orang" Quraisy telah kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian" setelahnya.

Akan tetapi anak muda Sa’id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka, Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan shalat dua raka’at dengan tenang di depan kayu salib, dan ia mendengar rintihan suaranya di telinganya, ketika Khubaib berdo’a untuk kebinasaan orang" Quraisy, maka ia takut kalau ia tersambar petir atau ketiban batu dari langit.

Khubaib telah mengajari Sa’id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Ia mengajarinya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah aqidah dan jihad di jalan aqidah itu hingga akhir hayat.

Ia mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemu’jizatan.

Dan ia mengajarinya sesuatu yang lain, yaitu bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit.

Semenjak itu Allah membukakan dada Sa’id bin Amir untuk Islam, lalu ia berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa" Quraisy, berhala" dan patung"mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.

Sa’id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan peperangan" setelahnya.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Monday, 25 November 2013

4 keluhan rakyat pada sa’id bin amir al-jumahi, sang gubernur zuhud dari negeri himsh, part 1, rek

Bismillaah

Sa’id bin Amir adalah salah seorang shahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya. Ia meninggalkan kenikmatan dan godaan dunia walaupun dengan kedudukannya sebagai seorang gubernur lazimnya mudah mendapatkan kemewahan dunia.

Adalah seorang anak muda Sa’id bin Amir Al-Jumahi salah satu dari beribu" orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan’im di luar kota Makkah, dalam rangka menghadiri panggilan pembesar" Quraisy (pada masa sebelum ditaklukkan kaum muslimin), untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin ‘Adiy, salah seorang sahabat Muhammad yang diculik oleh mereka.

Kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah, ia mendapatkan kedudukan yang lebih dari pada orang", sehingga ia dapat duduk berdampingan dengan pembesar" Quraisy, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang" yang mempunyai wibawa lainnya.

Dengan demikian ia dapat melihat dengan jelas tawanan Quraisy yang terikat dengan tali, suara gemuruh perempuan, anak" dan remaja senantiasa mendorong tawanan itu menuju arena kematian, karena kaum Quraisy ingin membalas Muhammad atas kematian orang"nya ketika perang Badar dengan cara membunuhnya.

Ketika rombongan yang garang ini dengan tawanannya, sampai di tempat yang telah disediakan, anak muda Sa’id bin Amir Al-Jumahi berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban, dan ia mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita" dan anak", Khubaib berkata, “Izinkan saya untuk shalat dua raka’at sebelum pembunuhanku ini jika kalian berkenan.”

Kemudian ia memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan shalat dua raka’at, alangkah bagusnya dan indahnya shalatnya itu…

Kemudian ia melihat, Khubaib menghadap pembesar" kaum dan berkata, “Demi Allah! Jika kalian tidak menyangka bahwa saya memperpanjang shalat karena takut mati, tentu saya telah memperbanyak shalat…”

Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, mereka memotong" Khubaib dalam keadaan hidup, mereka memotongnya sepotong demi sepotong, sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?”, maka ia menjawab- sementara darah mengucur dari badannya, “Demi Allah! Saya tidak suka bersenang-senang dan berkumpul bersama istri dan anak sedangkan Muhammad tertusuk duri”. Maka orang" melambaikan tangannya ke atas, dan teriakan mereka semakin keras, “Bunuh! Bunuh!”

Kemudian Sa’id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, “Ya Allah ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu serta janganlah Engkau tinggalkan satupun dari mereka”, kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Sunday, 24 November 2013

quote #164, rek

Posisi sabar bagi iman seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah badan. Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak sabar
-Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu-

Saturday, 23 November 2013

quote #163, rek

Allah tidak memberi suatu kenikmatan kepada salah seorang hambaNya kemudian Dia mencabutnya dari orang tersebut dan menggantinya dengan sabar, maka penggantinya itu lebih baik daripada apa yang dicabut darinya
-Umar bin Abdul Aziz rahimahullah-

Friday, 22 November 2013

mariyah maulah hujair terpesona dengan kemuliaan khubaib radhiyallahu anhu, part 2, rek

Bismillaah
Lanjut dengan postingan kemaren yaa

Mariyah pernah mengintip dari celah" pintu. Dia terperanjat. Khubaib sedang memegang setandan buah anggur, sementara saat itu bukan musim anggur. Tak ada sebiji anggur pun di Makkah waktu itu. Mariyah tersadar, itu semua rezeki dari Allah subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Mariyah bertanya pada Khubaib, “Wahai Khubaib, apakah engkau membutuhkan sesuatu?” “Tidak!” jawab Khubaib, “Hanya saja kuminta kepadamu tiga hal, jangan kau beri aku minum kecuali air dingin saja, jangan kau beri aku makanan dari sesuatu yang disembelih untuk berhala, dan kau beritahukan aku jika tiba saatnya mereka hendak membunuhku.” Mariyah menyanggupi.

Bulan" haram pun berlalu. Dekat sudah waktu yang mereka sepakati untuk membunuh Khubaib. Sesuai janjinya, Mariyah memberitahukan hal itu kepada Khubaib. Mendengar kabar itu, Khubaib tak sedikit pun terlihat gentar.

“Maukah kau pinjamkan padaku pisau, agar aku bisa membersihkan diri?” pinta Khubaib pada Mariyah. Mariyah memenuhi permintaannya. Dia menyuruh anak susuannya, Abu Husain, untuk menyerahkan pisau itu kepada sang tawanan. Abu Husain pun menurut.

Setelah anak kecil itu hilang dari pandangan matanya, Mariyah tertegun. “Apa yang baru saja kulakukan?” ujarnya dalam hati. “Aku menyuruh anakku membawa pisau itu kepadanya. Dia bisa dengan mudah membunuh anakku dengan pisau itu, lalu beralasan seorang balas seorang!”

Mariyah bergegas menyusul.

Sementara itu, si anak masuk menemui Khubaib sambil menyerahkan sebilah pisau yang dibawanya. Khubaib mengangkat anak itu dan mendudukkan di pangkuannya. Terdengar kelakar Khubaib, “Demi ayahku! Apa ibumu tidak khawatir aku akan membalas dendam dengan membiarkanmu datang membawa pisau, sementara mereka ingin membunuhku?”

Mariyah mendengar ucapan itu. “Wahai Khubaib, aku percaya kepadamu dengan keamanan dari Allah. Aku berikan pisau itu bukan untuk membunuh anakku!”

“Aku tidak akan membunuhnya,” jawab Khubaib, “Dan tidak halal dalam agama kami membalas dendam.”

Tenanglah Mariyah. Lalu Mariyah memberitahu Khubaib bahwa orang" akan mengeluarkannya dari tawanan besok untuk membunuhnya.

Keesokan harinya, Khubaib dikeluarkan dari tawanan dalam keadaan dirantai. Dia dibawa ke Tan’im, sekitar tiga mil dari Makkah ke arah Madinah. Di sana telah dipancangkan tonggak kayu untuk membunuhnya.

Sampai di sana, Khubaib meminta, “Maukah kalian melepaskan aku sebentar agar aku bisa shalat dua rakaat?” Mereka meluluskan permintaannya. Khubaib pun shalat dua rakaat dengan menyempurnakan shalatnya tanpa memperpanjangnya. Setelah itu, orang" itu pun membunuhnya.

Di kemudian hari, Mariyah maulah Hujair masuk Islam. Dia selalu mengenang peristiwa ini. Dialah yang menuturkan kemuliaan Khubaib selama berada dalam tawanan. Mariyah maulah Hujair, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya ….

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (2/225-226, 8/312-313)
Al-Isti’ab, Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/564-565)
Ath-Thabaqatul Kubra, Al-Imam Ibnu Sa’d (10/285-286)
Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Maghaz

Baarakallahufiikum

Thursday, 21 November 2013

mariyah maulah hujair terpesona dengan kemuliaan khubaib radhiyallahu anhu, part 1, rek

Bismillaah

Pribadi para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memang sangat mengesankan. Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala melandasi segalanya. Bahkan di saat" yang begitu mudah untuk melampiaskan dendam, ternyata itu pun tak dilakukannya. Seorang wanita yang saat itu masih belum memeluk Islam (musyrikah) menyaksikan kemuliaan pribadi seorang muslim shahabat Nabi yaitu Khubaib bin ‘Adi, yang ditawan di rumahnya. Dia tuturkan ketika dia telah menjadi seorang muslimah. Wanita itu bernama Mariyah (ada yang mengatakan namanya Mawiyah). Berikut ini kisahnya…

Tahun keempat hijriyah. Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam mengirimkan pasukan mata" untuk mencari berita tentang orang" musyrikin Quraisy. Mereka adalah para penghafal Al-Qur’an. Ternyata kabar tentang pasukan ini tercium oleh Bani Lihyan.

Bani Lihyan segera mengejar hingga berhasil mengepung para sahabat di tempat yang tinggi. Bani Lihyan mengatakan akan menjamin tidak akan membunuh mereka jika mereka mau turun. Namun pasukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini menolak. Kedua kubu pun bertempur hingga tinggallah tiga orang sahabat, Khubaib bin ‘Adi, Zaid bin Ad-Datsinah, dan seorang lagi lainnya. Yang terakhir ini pun akhirnya terbunuh.

Bani Lihyan membawa Khubaib dan Zaid ke Makkah lalu menjual mereka berdua. Khubaib dibeli oleh Bani Al-Harits. Mereka membeli Khubaib untuk menuntaskan dendam mereka karena Khubaiblah yang membunuh Al-Harits bin ‘Amir, ayah mereka, dalam perang Badr.

Namun saat itu adalah bulan haram. Dilarang menumpahkan darah di bulan" haram. Karena itu, untuk sementara waktu mereka menawan Khubaib bin ‘Adi dalam ruangan yang terkunci di rumah Mariyah, maulah Hujair bin Abi Ihab At-Tamimi.

Dalam tawanan, Khubaib biasa menunaikan sholat malam (tahajjud) dengan membaca surah" Al-Qur’an. Bila para wanita mendengar bacaannya, mereka menangis dan luluh hatinya...

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Wednesday, 20 November 2013

pentingnya mengenal asmaul husna, part 5, rek

Bismillaah
Ini rangkaian terakhir dari tulisan mengenal asmaul husna yaa

KESEPULUH: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitung (nama") tersebut, ia akan dimasukkan ke dalam surga.”

bahwa maknanya bukan hanya sekadar menjumlah dan menghafalkannya, melainkan juga mengetahui makna dan kandungannya sehingga tiada jalan bagi siapa saja yang ingin meraih keutamaan yang tersurat dalam hadits di atas, kecuali dengan mempelajari Al-Asma` Al-Husna sesuai dengan jalan yang benar dan pemahaman lurus.

KESEBELAS: ayat" yang menyebutkan nama-" dan sifat" Allah kedudukannya yang paling agung dalam Al-Qur`an Al-Karim melebihi ayat lain. Oleh karena itu, ayat yang paling agung adalah ayat Kursi -yang mengandung sejumlah sifat dan beberapa nama Allah- sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau,

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ { اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

“Wahai Abul Mundzir (Ubay), ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya (Ubay) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau (kembali) bertanya, “Wahai Abul Mundzir, ayat apa yang paling agung dari kitab Allah yang kamu hafal?” Saya menjawab, “Allahu La Ilaha Illa Huwal Hayyul Qayyûm [ayat Kursi],” maka beliau memukul dadaku seraya berkata, “Demi Allah, ilmu akan membahagiakanmu, wahai Abul Mundzir."

Demikian pula keberadaan dan keutamaan surah Al-Fatihah yang telah dikenal dan dimaklumi, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyifatkan surah Al-Fatihah,

هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ

“(Al-Fatihah) itu adalah seagung-agung surah dalam Al-Qur`an."

Juga keutamaan surah Al-Ikhlash yang mengandung nama" dan sifat" Allah. Salah satu keutamaannya tertera dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (surah Al-Ikhlash) itu senilai sepertiga Al-Qur`an.”

Keterangan di atas menunjukkan keagungan dan kemuliaan mempelajari nama" dan sifat"Allah ‘Azza wa Jalla.

Demikian beberapa hal yang menunjukkan pentingnya mempelajari Al-Asma` Al-Husna dan betapa perlunya seorang hamba untuk mendalaminya.

Perlu kami ingatkan pula bahwa pembahasan Al-Asma` Al-Husna bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah, bukan bersumber dari akal, perasaan, eksperimen, inspirasi, dan adat istiadat. Ini adalah kaidah dasar yang harus kami ingatkan dalam tulisan ini mengingat bahwa banyak di antara kaum muslimin yang tertipu dengan kepandaian sebagian orang, yang hanya berlari di belakang dunia atau terkungkung oleh hawa nafsu dan was-was syaithan, dengan membawakan kandungan dan manfaat Al-Asma` Al-Husna yang tidak pernah ditunjukkan oleh tuntunan Al-Qur`an dan Sunnah.

Semoga Allah memudahkan segala sebab kebaikan untuk kita semua dan menjauhkan kita semua dari segala kejelekan. Wallahu Ta’ala A’lam.

http://dzulqarnain.net/pentingnya-mengenal-al-asma-al-husna.html

Baarakallahufiikum

Tuesday, 19 November 2013

pentingnya mengenal asmaul husna, part 4, rek

Bismillaah
Lanjut sama postingan kemaren yaa

KEENAM: orang yang benar" mengenal Allah ‘Azza wa Jalla akan berdalil dengan sifat" dan perbuatan Allah terhadap segala sesuatu yang Dia perbuat dan segala sesuatu yang Dia syariatkan. Karena, seluruh perbuatan Allah adalah keadilan, keutamaan, dan hikmah, yang telah menjadi konsekuensi dari nama" dan sifat"-Nya. Oleh karena itu, tiada suatu apapun yang Dia syariatkan, kecuali sesuai dengan konsekuensi tersebut. Sehingga, segala hal yang Allah beritakan adalah sesuatu yang hak dan benar, sedang segala perintah dan larangan-Nya adalah keadilan dan hikmah.

Misalnya, seorang hamba memperhatikan Al-Qur`an dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada makhluk melalui lisan para rasul tentang nama-", sifat", dan perbuatan-Nya serta tentang keharusan menyucikan dan membesarkan Allah terhadap segala sesuatu yang tidak layak. Juga, ia memperhatikan bagaimana perbuatan Allah kepada para wali yang memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan kenikmatan yang mereka peroleh karena itu, ataupun ia memperhatikan bagaimana keadaan orang-orang yang menentang-Nya dan kebinasan akibat perbuatan mereka. Berdasarkan hal ini, orang-orang yang memahami nama" dan sifat"-Nya akan berdalilkan bahwa Allah adalah satu"-Nya Ilah yang berhak diibadahi, “Yang Maha mampu atas segala sesuatu”, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu”, “Yang siksaan-Nya keras”, “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”, “Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”, “Yang Maha melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki”, dan seterusnya berupa hal-hal yang menunjukkan rahmat, keadilan, keutamaan, dan hikmah Allah Jalla wa ‘Ala.

Apabila seorang hamba memperhatikan hal di atas, tidaklah diragukan bahwa hal tersebut akan menambah keyakinannya, memperkuat imannya, menyempurnakan tawakkalnya, dan semakin menambah penyerahan dirinya kepada Allah.

KETUJUH: mengenal Allah dan mempelajari nama" dan sifat"-Nya adalah perniagaan yang sangat menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah membuat jiwa menjadi tenang, hati menjadi tentram, dada menjadi lapang dan bersinar, merasakan keindahan surga Firdaus pada hari kiamat, melihat wajah Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, meraih keridhaan Allah, dan selamat dari kemurkaan dan siksaan-Nya. Insya Allah, keuntungan" tersebut akan lebih tampak lagi pada uraian Al-Asma` Al-Husna yang akan diterangkan dalam tulisan ini secara bersambung.

KEDELAPAN: berilmu tentang nama" dan sifat" Allah adalah penjaga dari ketergelinciran, pembuka pintu amalan shalih, pemacu untuk menyongsong segala ketaatan, penghardik dari dosa dan maksiat, pembersih jiwa dari sikap" tercela, penghibur pada masa musibah dan petaka, pengawal dalam menghadapi gangguan syaithan, penyeru kepada akhlak mulia dan fadhilah, serta lain sebagainya yang merupakan buah dan manfaat ilmu Al-Asma` Al-Husna.

KESEMBILAN: mempelajari nama" dan sifat" Allah adalah dasar pokok untuk mengetahui segala ilmu pengetahuan yang lain. Hal ini karena yang dipelajari -selain ilmu tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala- terbagi dua:

1) Makhluk" yang diadakan dan diciptakan oleh Allah Ta’ala.
2) Perintah" yang dengannya Allah memerintah makhluk, baik berupa perintah kauny maupun perintah syar’iy.

Sedangkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah bahwa mencipta dan memerintah hanyalah hak (Allah).” [Al-A’raf: 54]

Telah dimaklumi bahwa segala ciptaan dan perintah Allah adalah baik, dibangun di atas kemaslahatan, rahmat, dan kasih sayang untuk segenap makhluk. Seluruh hal tersebut adalah pengaruh dari kandungan Al-Asma` Al-Husna. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa penciptaan dan perintah bersumber dari Al-Asma` Al-Husna Allah Jalla Jalaluhu. Sebagaimana, segala sesuatu yang ada -selain Allah- adalah karena diadakan oleh Allah, sedang keberadaan selain-Nya adalah ikut kepada keberadaan-Nya, dan makhluk yang dicipta ikut kepada Yang Menciptakannya maka demikian pula ilmu tentang Allah adalah sumber segala ilmu yang lain. Oleh karena itu, berilmu tentang Al-Asma` Al-Husna adalah sumber ilmu pengetahuan yang lain.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Monday, 18 November 2013

pentingnya mengenal asmaul husna, part 3, rek

Bismillaah
Masih lanjut dengan postingan hari Jumat yaa

KELIMA: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama" dan sifat"-Nya serta mencintai timbulnya pengaruh nama" dan sifat"-Nya kepada makhluk. Tentunya hal ini merupakan bagian dari kesempurnaan Allah dengan nama" dan sifat"-Nya.

Di antara nama" Allah ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang Maha merahmati makhluk dengan berbagai nikmat. -Sebagai contoh-, perhatikanlah surah Ar-Rahman, dari awal hingga akhir surah, yang menunjukkan rahmat Allah yang maha luas. Pada awal surah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ. فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.

“(Allah) Yang Maha Merahmati, Yang telah mengajarkan Al-Qur`an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya agar pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk kepada-Nya. Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu secara adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu. Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk-(Nya). Di bumi itu ada buah"an dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji"an yang berkulit dan bunga" yang baunya harum. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” [Ar-Rahman: 1-13]

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Maka perhatikanlah bekas" rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar" (berkuasa) menghidupkan orang-" yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Ar-Rûm: 50]

Karena rahmat Allah, Allah mencintai hamba"-Nya yang mempunyai sifat merahmati makhluk lain sebagaimana yang ditunjukkan dalam nash" dalil yang sangat banyak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-‘Alim ‘Yang Maha Mengetahui’ dan Allah mencintai orang" yang berilmu sebagaimana dalam nash" dalil yang sangat banyak.

Allah adalah At-Tawwab ‘Maha Menerima Taubat’ dan Allah mencintai orang" yang bertaubat,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang" yang bertaubat dan menyukai orang" yang menyucikan diri.” [Al-Baqarah: 222]

Demikianlah seterusnya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Demikianlah keadaan nama-" Allah yang maha husna. Makhluk yang paling Dia cintai adalah siapa saja yang bersifat dengan konsekuensi dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Sedangkan, (makhluk) yang paling Dia benci adalah siapa saja yang bersifat dengan kebalikan dari (Al-Asma` Al-Husna itu). Oleh karena itu, (Allah) membenci orang kafir, zhalim, jahil, yang berhati keras, bakhil, penakut, hina, dan bejat. Sementara itu, (Allah) Subhanahu adalah Jamil ‘Maha indah, elok’, cinta kepada keindahan; Alim, cinta kepada ulama; Rahim, cinta kepada orang yang merahmati; Muhsin ‘Maha Memberi Kebaikan’, cinta kepada orang yang berbuat kebaikan; Syakûr ‘Maha Pembalas Jasa’, cinta kepada orang yang bersyukur; Shabûr ‘Yang Maha Sabar’ cinta kepada orang yang bersabar; Jawwad ‘Maha Dermawan’, cinta kepada orang" yang dermawan dan berbuat kebajikan; Sattar, cinta kepada As-Sitr; Qadir, mencela kelemahan -“dan mukmin yang kuat lebih Dia cintai daripada mukmin yang lemah”-; ‘Afûw ‘Maha Pemaaf’, cinta kepada sifat pemaaf; dan Witr ‘Yang Maha Satu’, cinta kepada yang witir. Setiap hal yang Allah cintai merupakan pengaruh dan konsekuensi dari nama" dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan, setiap hal yang Dia benci berasal dari apa" yang bertentangan dan berlawanan dengan (pengaruh dan konsekuensi dari nama" dan sifat"-Nya).”

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Sunday, 17 November 2013

quote #161, rek

Allah tidak memberikan kesabaran kecuali kepada hambaNya yang mulia di sisiNya
-Al Hasan Al Bashri rahimahullah-

Saturday, 16 November 2013

quote #160, rek

Sabar adalah salah satu kekayaan dari kekayaan yang baik
-Al Hasan Al Bashri rahimahullah-

Friday, 15 November 2013

pentingnya mengenal asmaul husna, part 2, rek

Bismillaah
masih lanjut dengan postingan kemaren yaa

KEEMPAT: sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadakan makhluk yang sebelumnya mereka tidaklah pernah terwujud dan tidak pernah tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla juga memudahkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi untuk mereka serta memberikan berbagai nikmat kepada mereka yang tidak mungkin bisa dijumlah dan dihitung. Seluruh hal tersebut adalah agar mereka mengenal Allah dan menyembah-Nya. Allah Jalla Sya`nuhu berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, seperti itu pula bumi. Perintah-Nya berlaku padanya agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar" meliputi segala sesuatu.” [Ath-Thalaq: 12]

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman pula,

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ. ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, patutkah kalian kafir terhadap Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan mengadakan sekutu" bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb alam semesta.’ Di bumi itu, Dia menciptakan gunung" yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan padanya Dia menentukan kadar makanan" (penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang" yang bertanya. Kemudian, Dia menuju langit, sedang langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’.” [Fushshilat: 9-11]

Allah ‘Azza Dzikruhu juga menyatakan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka tidak pula menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh.” [Adz-Dzariyat: 56-58]

Oleh karena itu, usaha seorang hamba dalam mengenal dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sesuai dengan maksud penciptaannya. Meninggalkan dan menelantarkan hal tersebut tergolong melalaikan maksud penciptaannya. Karena, sangatlah tidak layak seorang makhluk yang lemah yang telah mendapatkan berbagai macam keutamaan serta telah merasakan beraneka ragam karunia dan nikmat Allah, tetapi ia jahil terhadap Rabb-nya serta berpaling dari mengenal kebesaran, nama", dan sifat-sifat-Nya.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Thursday, 14 November 2013

pentingnya mengenal asmaul husna, part 1, rek

Bismillaah
Oleh Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi

Mengenal dan mempelajari nama" dan sifat" Allah sangatlah agung, penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya.

Keutamaan dan keagungan perihal mendalami ilmu Al-Asma` Al-Husna akan lebih jelas dengan memperhatikan beberapa keterangan berikut.

PERTAMA: ilmu tentang nama" dan sifat" Allah adalah ilmu yang paling mulia dan paling utama, yang kedudukannya paling tinggi dan derajatnya paling agung. Tentunya hal ini sangat dimaklumi karena kemuliaan suatu ilmu pengetahuan bergantung kepada jenis pengetahuan yang dipelajari dalam ilmu itu. Sementara itu, telah dimaklumi pula bahwa tiada yang lebih mulia dan lebih utama daripada ilmu tentang nama" dan sifat" Allah yang terkandung dalam Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakr Ibnul ‘Araby rahimahullah berkata, “Kemuliaan sebuah ilmu bergantung kepada apa" yang diilmui padanya. Sementara itu, (mengenal Allah) Al-Bari adalah semulia" pengetahuan. Oleh karena itu, mengilmui nama"-Nya adalah ilmu yang paling mulia.”

Oleh karena itu, mempelajari dan mendalami makna Al-Asma` Al-Husna adalah amalan yang paling utama dan mulia.

KEDUA: mengenal Allah dan memahami nama" dan sifat"-Nya akan menambah kecintaan hamba kepada Rabb-nya, akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan dan membesarkan-Nya, lebih mengikhlaskan segala harapan dan tawakkal hanya kepada-Nya, serta membuat rasa takutnya terhadap Allah semakin mendalam. Tatkala pengetahuan dan pemahaman seorang hamba akan nama" dan sifat" Rabb-nya semakin kuat dan mendalam, akan semakin kuat pula tingkat penghambaannya kepada Allah, semakin tulus sikap berserah dirinya kepada syariat Allah, serta semakin tunduk kepada perintah Allah dan semakin jauh meninggalkan larangan-Nya.

KETIGA: mengenal Allah dengan nama" dan sifat"-Nya adalah dasar keimanan dan, dengan itu pula, iman akan semakin bertambah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’dy rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, mengimani dan mengenal Al-Asma` Al-Husna mencakup tiga jenis tauhid: tauhid rubûbiyyah, tauhid ulûhiyyah, dan tauhid Al-Asma` wa Ash-Shifat. Tiga jenis tauhid ini adalah perputaran dan ruh iman, serta pokok dan puncak (keimanan). Oleh karena itu, setiap kali pengetahuan hamba akan nama" dan sifat" Allah semakin bertambah, akan bertambah pula keimanan dan akan semakin kuat keyakinan (hamba) tersebut.”

Demikian pula sebaliknya, siapa saja yang pengetahuannya tentang nama" dan sifat" Allah kurang, kurang pula keimanannya.

Siapa saja yang mengenal Allah, ia akan mengenal segala sesuatu selain Allah. Namun, siapa saja yang kondisinya justru sebaliknya, perhatikanlah firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian seperti orang" yang lupa terhadap Allah maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang" fasik.” [Al-Hasyr: 19]

Cermatilah ayat di atas. Tatkala seseorang lupa terhadap Allah, Allah membuatnya lupa terhadap dirinya sendiri, lupa terhadap apa" yang merupakan kebaikannya, serta lupa terhadap sebab" keberuntungannya di dunia dan akhirat.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Wednesday, 13 November 2013

kisah rabi' bin khutsyam rahimahullah, rek

Bismillaah
Ada suatu kaum yang menyuruh kepada seorang wanita yang memiliki kecantikan yang luar biasa untuk menggoda Rabi’ bin Khutsyam, mereka akan memberikan upah 1000 dirham jika wanita tersebut dapat menaklukkan Rabi’ bin Khutsyam.

Wanita itu pun memakai pakaian yang paling indah, dan memakai parfum yang paling harum, kemudian ia menampilkan dirinya di hadapan Rabi’ ketika beliau keluar dari masjidnya. maka Rabi’ pun melihat wanita itu, keadaan wanita itu menimbulkan rasa takut dalam hati Rabi’, lalu wanita itu datang menghadap Rabi’ dalam keadaan tidak menutup wajahnya.

Rabi’ pun berkata padanya:
“Bagaimana keadaanmu andaikata penyakit demam menimpamu lalu menyebabkan berubah rupa dan kecantikanmu, seperti yang kulihat sekarang ini?”
“Bagaimana keadaanmu apabila malaikat maut menjemputmu lalu memutuskan urat jantungmu?”
“Bagaimana keadaanmu apabila suatu saat kamu ditanya oleh malaikat Mungkar dan Nakir?”

Mendadak wanita itu pun menjerit ketakutan dengan suara yang keras lalu jatuh pingsan. Demi Allah, setelah siuman wanita itu berubah menjadi wanita yang sangat tekun beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga di saat kematiannya seolah-olah wanita itu seperti batang pohon kurma yang terbakar.

(Dinukil dari Buku Mayat Mayat Cinta (Kisah Tragis Para Pemuja Cinta) Penerbit: tooBagus Publishing, Bandung. Cet I Hal 160)

Baarakallahufiikum

Tuesday, 12 November 2013

kisah mimpi baik yang luar biasa, rek

Bismillaah

Seseorang menceritakan:

Ayahku pernah meriwayatkan [cerita kepadaku] tentang seorang pria tua yang bermimpi. Dalam mimpinya, ia bertemu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di salah satu pasar ‘Unayzah, Itu adalah salah satu pasar yang mengarah ke majelis (tempat berkumpul) – tempat terkenal di ’Unayzah.

Selama pertemuan tersebut, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan sebuah lentera kepada orang tua tersebut.

Ketika orang tua [kemudian] bertanya tentang [arti] mimpinya, ia diberitahu bahwa ia akan memiliki seorang anak yang akan [tumbuh] menjadi baik (shalih) dan ia akan memiliki kedudukan yang tinggi di bidang ilmu ad dien (menjadi ulama)

Maka, seorang anak lahir dari orang tua tersebut, dan ia memberikan nama untuknya Shalih, dengan harapan bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan terkhusus untuk anak ini.

Tumbuhlah Shalih menjadi anak yang baik dan shalih, ia mencintai orang", dan mereka mencintainya juga. Ia rajin tilawah (membaca) Al-Qur’an, bangun di tengah malam untuk qiyamul lail, namun, ia bukanlah seorang penuntut ilmu.

Shalih kemudian menikah dan memiliki seorang putra, yang ia beri nama Muhammad, dia adalah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dan dalam kenyataannya -dan kami menganggapnya demikian- ia adalah lentera yang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah berikan orang tua tersebut [dalam mimpi].

Orang tua itu adalah kakek dari Syaikh Muhammad Ibnu Shalih Al ‘Utsaimin -semoga Allah mengampuni dosa"nya-.

Diriwayatkan oleh anak lelaki Syaikh, ‘Abdullah bin Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Baarakallahufiikum

Monday, 11 November 2013

lebih baik shalat di masjid ahlussunnah, part 2, rek

Bismillaah
Masih lanjut dengan postingan hari jumat kemaren nihh

Dan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِي سُوْقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيْدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيْهِ

Shalat seseorang dengan berjama’ah melebihi dua puluh tujuh derajat dari shalat seseorang yang dikerjakan di rumahnya dan di pasarnya, demikian itu karena bila salah seorang diantara mereka berwudhu’ dengan menyempurnakan wudlu’nya, lalu mendatangi masjid, dan tidak ada yang mendorongnya kecuali untuk shalat, maka tidaklah ia melangkah satu langkah, kecuali akan ditinggikan derajatnya dan dihapus kesalahannya, hingga ia masuk masjid, jika ia telah masuk masjid, maka ia dihitung dalam shalat selama ia tertahan oleh shalat, dan malaikat terus mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya yang ia pergunakan untuk shalat, malaikat akan berdoa: Ya Allah, rahmatilah dia, Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah maafkanlah dia, selama ia tidak mengganggu orang dan belum berhadats. (Riwayat Muslim)

Oleh karena itu, begitu menyenangkan jika mereka dapat menghadiri shalat di Masjid Ahlussunnah, jika tidak maka saya sarankan mereka untuk mendirikan Masjid untuk diri mereka sendiri yang pembangunannya tidak memberatkan dan tidak banyak pengeluaran sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Aku tidak memerintahkan membangun masjid yang mewah dan tinggi”.

Dari Anas radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

“Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia berbangga" dengan masjid.” (Riwayat Imam Ahmad No. 11931)

Jadi yang disunnahkan adalah bahwa masjid cukup nyaman dan sederhana. Dan jika engkau mampu membangun masjid seperti masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka lakukanlah, jika engkau tidak mampu maka jangan membebani diri sendiri dan tidak mewah dalam membangun masjid yang dikhawatirkan menyelisihi sunnah, seperti hiasan" kaligrafi dan menara. Juga dengan apa yang mereka sebut al-Mihraab dan apa yang mereka pasang di empat sudut masjid dan apa yang mereka sebut ash-Shurufaat (serambi dan teras), hal ini tidak ditemukan di masjid Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam ketika dibangun pada waktu itu. Demikian juga Mimbar yang meningkat lebih dari tiga langkah.

Wa Laa Illaaha illallaah, karena memang tidaklah datang kepadaku seseorang apakah dia berasal dari Eritrea atau dari Indonesia atau dari Sudan dan selain mereka dari negara" Islam kecuali bahwa ia mengeluh dari bahaya Ikhwaan al-Mufliseen (Persaudaraan yang Bangkrut) kepada Ahlus-Sunnah. Lalu saya katakan, Wallahul musta’an, sehingga mereka IM siap untuk melakukan bergabung dengan komunis dan dengan Mulhid (ateis) dan dengan sekuler dan dengan Ba’thists, dan dengan Naasirites dan dengan para Sufi dan dengan Syiah sementara mereka tidak mau kembali dengan Sunni kecuali ketika waktu pemilu semakin dekat, memang kemudian mereka berkata:

“Diamlah dalam membicarakan tentang kami dan kami akan tetap diam membicarakan tentang kalian”.

(Tuhfatul Mujib ‘Alaa Asilatil Haadhir wal Gharib, halaman 129-131)

Baarakallahufiikum

Sunday, 10 November 2013

quote #159, rek

Jangan ada dari kalian taklid kepada siapapun dalam perkara agama sehingga bila ia beriman (kamu) ikut beriman dan bila ia kafir (kamu) ikut pula kafir. Jika kamu ingin berteladan, ambillah contoh orang" yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah
-Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu-

Saturday, 9 November 2013

quote #158, rek

Sebab pertama hilangnya agama ini adalah ditinggalkannya As Sunnah (ajaran nabi). Agama ini akan hilang Sunnah demi Sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas
-Abdullah bin Ad Dailamy rahimahullah-

Friday, 8 November 2013

lebih baik shalat di masjid ahlussunnah, part 1, rek

Bismillaah
Oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i

Di dekat kami ada Masjid yang Imamnya adalah Ikhwani (kader ikhwanul Muslimin) yang mana ia menyelisihi sunnah dan ketika kami shalat di Masjid ini mereka mencela kami dan menghindar dari kami, jadi apakah kami tetap shalat di masjid ini dalam kondisi darurat, mengingat bahwa Masjid Ahlussunnah jauh?

JAWABAN:
Jika engkau mampu untuk pergi ke Masjid Ahlussunnah maka aku menyarankanmu dengan itu dan engkau akan mendapatkan pahala dengan mengerjakan shalat yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam dan juga engkau akan mendapatkan pahala dari ukhuwah islamiyah dengan saudara"mu Ahlussunnah, kebaikan yang banyak, serta akhlak yang baik. Karena memang ada hadits dalam Shahih Muslim dari Jaabir Bin Abdullah radhiyallahu ’anhu, yang mengatakan:

خَلَتْ الْبِقَاعُ حَوْلَ الْمَسْجِدِ فَأَرَادَ بَنُو سَلِمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا إِلَى قُرْبِ الْمَسْجِدِ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ إِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ الْمَسْجِدِ قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَرَدْنَا ذَلِكَ فَقَالَ يَا بَنِي سَلِمَةَ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثَارُكُمْ

“Di sekitar masjid ada beberapa bidang tanah yang masih kosong, maka Bani Salamah berinisiatif untuk pindah dekat masjid. Ketika berita ini sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda; “Rupanya telah sampai berita kepadaku bahwa kalian ingin pindah dekat masjid.” Mereka menjawab; “Benar wahai Rasulullah, kami memang ingin seperti itu.” Beliau lalu bersabda: “Wahai Bani Salamah, pertahankanlah rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat, pertahankanlah rumah kalian, sebab langkah kalian akan dicatat.” (Riwayat Muslim)

Artinya: Tinggal di rumahmu yang berada jauh dari Masjid sehingga langkah"mu dicatat untukmu.

-bersambung di hari Senin-

Baarakallahufiikum

Thursday, 7 November 2013

menjalani perawatan medis di saat waktu shalat, rek

Bismillaah
Oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i

Beberapa dari mereka yang sakit dijalankan operasi pada mereka di saat waktu shalat, dan setelah operasi selesai mereka masih berada dalam kondisi pembiusan sampai dua jam sementara waktu shalat terlewat. Jadi apa yang harus dilakukan?

JAWABAN:
Yang nampak jelas adalah bahwa ia diampuni / dimaafkan jika waktu shalat telah habis, namun jika masih ada waktu yang tersisa untuk shalat, hendaknya ia tetap menegakkan shalat dalam kondisi apapun yang mungkin baginya. Karena udzur (keringanan) tidaklah ditetapkan kecuali ia tertidur (terbius) dan lupa.

Makanya Nabi Sallallaahu ‘alaihi wa’ala aalihi wa sallam bersabda,

أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيْطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيْطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلاَةَ حَتَّى يَجِيْءَ وَقْتُ الصَّلاَةِ الْأُخْرَى، فَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِيْنَ تَنَبَّهَ لَهَا

“Sesungguhnya tertidur dari mengerjakan shalat bukanlah sikap tafrith (menyia-nyiakan). Hanyalah merupakan tafrith bila seseorang tidak mengerjakan shalat hingga datang waktu shalat yang lain (dalam keadaan ia terjaga dan tidak lupa). Maka siapa yang tertidur (atau lupa) sehingga belum mengerjakan shalat, hendaklah ia mengerjakannya ketika terjaga/ketika sadar/ingat.” (HR. Muslim no. 1560)

(Gharatul Ashritah ‘alaa Ahlij-Jahli was-Safsatah, Jilid 1, halaman 348)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 6 November 2013

hukum tentang wanita melihat laki-laki di televisi dan di jalanan, part 2, rek

Bismillaah
masih lanjut dengan postingan sebelumnya nihh

Sebagian ulama membolehkan untuk memandang laki" secara mutlak. Mereka berdalil dengan kisah Aisyah radhiallahu ‘anha yang melihat orang" Habasyah yang sedang bermain tombak (perang"an) di masjid sampai ia bosan dan berlalu.

وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ عَلَى بَابِ حُجْرَتِي وَالْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ بِحِرَابِهِمْ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِي بِرِدَائِهِ لِكَيْ أَنْظُرَ إِلَى لَعِبِهِمْ ثُمَّ يَقُومُ مِنْ أَجْلِي حَتَّى أَكُونَ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ فَاقْدِرُوا قَدْرَ الْجَارِيَةِ الْحَدِيثَةِ السِّنِّ حَرِيصَةً عَلَى اللَّهْوِ

“Demi Allah, Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di pintu kamarku, sementara orang" Habasyah sedang bermain tombak di masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menutupiku dengan kainnya agar aku dapat melihat permainan mereka. Kemudian beliau berdiri (agar aku lebih leluasa melihat), sampai saya sendiri yang berhenti (setelah bosan) melihatnya. Karena itu, berilah keleluasaan kepada anak" wanita untuk bermain.” (Riwayat Muslim no. 1481)

Imam Nawawi rahimahullahu menjawab dalil mereka ini bahwasanya peristiwa itu mungkin terjadi ketika Aisyah belum baligh.

Namun Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullahu membantahnya dengan mengatakan ucapan Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupinya dengan selendang beliau menunjukkan peristiwa ini terjadi setelah turunnya perintah hijab. (Dan Aisyah dihijabi oleh beliau menunjukkan bahwa Aisyah telah baligh).

Imam Nawawi rahimahullahu memberi kemungkinan yang lain, beliau mengatakan: Dimungkinkan Aisyah hanya memandang kepada permainan tombak mereka bukan memandang wajah" dan tubuh" mereka. Dan bila pandangan jatuh ke wajah dan tubuh mereka tanpa sengaja bisa segera dipalingkan ke arah lain saat itu juga. (Lihat Fathul Bari 2/445).

Dengan demikian, hendaklah seorang wanita memiliki rasa malu dan jangan membiarkan pandangan matanya jatuh kepada sesuatu yang tidak diperkenankan baginya, termasuk memandang laki-laki yang bukan mahramnya.

Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

(Nashihati Lin Nisa karya Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah hafizhahallah, putri Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu)

Baarakallahufiikum

Tuesday, 5 November 2013

hukum tentang wanita melihat laki-laki di televisi dan di jalanan, part 1, rek

Bismillaah
Oleh Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan" mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengabarkan terhadap apa yang mereka perbuat. Dan Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,” (An-Nur: 30-31)

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَة، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُُ، وَالنَّفُسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan mendapatkannya, tidak bisa terhindarkan. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), dan zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)

Ulama sepakat, sebagaimana dinukilkan Imam Nawawi rahimahullahu dalam Syarah Muslim bahwasanya memandang laki" dengan syahwat haram hukumnya.

-bersambung-

Baarakallahufiikum

Sunday, 3 November 2013

quote #157, rek

Tidaklah suatu kaum berbuat bid'ah dalam agama kecuali Allah akan mencabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya. Dan Sunnah itu tidak akan kembali kepda mereka sampai hari kiamat
-Abdullah bin 'Athiyah rahimahullah-

Saturday, 2 November 2013

quote #156, rek

Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah adalah keselamatan. Ilmu akan dicabut dengan segera. Tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedangkan hilangnya ilmu maka hilang pula semuanya
-Muhammad ibnu Syihab Az Zuhri rahimahullah-