Monday, 30 September 2013

niyahah, rek

Bismillaah
Apa maksud dari niyahah? Boleh tolong diperjelas?

JAWAB:
Niyahah adalah menangis meratap dengan suara yang keras, histeris terhadap musibah yang menimpa dirinya. Seseorang yang ditimpa musibah diperintahkan untuk sabar terhadap musibah yang menimpanya karena itu adalah ketentuan Allah Ta’ala. Seorang yang meratap, menangis, histeris ketika ditimpa musibah, berarti dia tidak sabar akan apa yang menimpanya dan tidak menerima ketentuan Allah atas dirinya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ayub)

Baarakallahufiikum

Sunday, 29 September 2013

quote #147, rek

Seseorang dianggap mencintai Allah apabila ia bersabar terhadap hal" yang dibenci-Nya
-Dzun Nuun rahimahullah-

Saturday, 28 September 2013

quote #146, rek

Ketahuilah, engkau tidak dianggap mencintai Rabbmu hingga engkau mencintai ketaatan kepada-Nya
-Al Hasan Al Bashri rahimahullah-

Thursday, 26 September 2013

undangan nikah orang Nashrani, rek

Bismillaah
Ana dapat undangan nikah dari temen yang Nasrani, acara pemberkatan (di gereja) ana tidak datang,dan acara resepsinya pun ana tidak datang. Bagaimana hukumnya jika di lain hari ana kunjung ke rumahnya dengan membawa kado pernikahannya? Apakah hal tersebut dibolehkan dalam Islam?

JAWAB:
Memberikan hadiah kepada seorang kafir adalah boleh sebagaimana Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu memberikan hadiah pakaian kepada kerabatnya yang masih kafir. Diniatkan dengan memberi hadiah ini adalah dalam rangka melunakkan hati mereka dan menunjukkan bagaimana indahnya Islam di dalam berinteraksi.

Hanya saja perlu diingat, tidak boleh memberikan hadiah dikarenakan hari" raya mereka karena ini adalah bentuk pengakuan dan keikutsertaan pada perayaan hari raya mereka yang pada hakekatnya adalah kebatilan. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ayub)

Baarakallahufiikum

Sunday, 22 September 2013

quote #145, rek

Janganlah sekali-kali seseorang meremehkan suatu faedah (ilmu) yang ia lihat atau dengar. Segeralah ia tulis dan sering" mengulang kembali
-Imam An Nawawi rahimahullah-

Saturday, 21 September 2013

quote #144, rek

Wahai saudaraku, hendaknya engkau memiliki pekerjaan dan penghasilan yang halal yang kamu peroleh dengan tanganmu
-Sufyan Ats Tsauri rahimahullah-

Sunday, 15 September 2013

quote #143, rek

Seorang mukmin menutupi aib (saudaranya) sekaligus menasehatinya, sedangkan seorang fajir menghancurkan kehormatan dan mencela
-Al Fudhail rahimahulah-

Saturday, 14 September 2013

quote #142, rek

Apabila para salaf hendak menasehati seseorang, mereka mengingatkannya secara diam"
-Ma'mar rahimahullah-

Thursday, 12 September 2013

istiwa' tidak sama dengan bersemayam, rek

Bismillaah
Mengartikan istiwa dengan bersemayam bagaimana?

JAWAB:
Dalam KKBI,
“se•ma•yam, ber•se•ma•yam v
1 hor duduk: baginda pun - di atas singgasana dikelilingi oleh para menteri dan hulubalang;
2 hor berkediaman; tinggal: Sultan Iskandar Muda pernah - di Kotaraja;
3 ki tersimpan; terpatri (dl hati): sudah lama cita-cita itu - dl hatinya; keyakinan yg - dl hati;

me•nye•ma•yam•kan v
1 mendudukkan (di atas takhta, singgasana);
2 membaringkan; menginapkan (jenazah): pihak keluarga akan membawa jenazah almarhum setelah -nya di rumah duka;

per•se•ma•yam•an n
1 tempat duduk;
2 tempat kediaman”

Tampak dari keterangan di atas bahwa bersemayam mengandung makna duduk. Makna ini tidak terdapat dalam makna istiwâ`. Para ulama, Ibnul Qayyim dan selainnya menyebutkan bahwa istiwâ` memiliki empat makna, (1) Al-Uluw (2) Al-Irtifâ’ (3) Ash-Sha`ûd (3) dan Al-Istiqrâr. Tidak ada makna duduk padanya. Karena itu, menafsirkan istiwâ` dengan bersemayam tidak tepat dan pembahasaan yang kurang detail dalam fiqih ilmu aqidah.

Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya, “Bagaimana pendapat syaikh yang mulia tentang orang yang mengatakan bahwa bahwa istiwâ` bermakna duduk, apakah hal ini dianggap takwil?” Beliau menjawab, “Ini adalah kebatilan karena tidak warid (baca tidak ada dalil) penafsirannya dengan duduk. Kita tidak menetapkan (untuk Allah) sesuatu apapun dari diri" kita.” [Syarah Lum’atul I’tiqâd hal. 305]

(Ustadz Dzulqarnain)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 11 September 2013

penyebutan gusti Allah, rek

Bismillaah
Bolehkah penyebutan "Gusti Allah" dalam do'a dan sebagainya?

JAWAB:
GUSTI kalimat yang sering kita dengar dari lisan" orangtua/kakek, nenek kita, khususnya orang" Jawa, tidak terlepas barat, tengah dan timur, dan disisi mereka kalimat GUSTI ini, adalah bentuk pengagungan mereka terhadap Allah Ta'ala, tetapi "Gusti" bukan termasuk nama"/sifat" bagi Allah, maka tentunya bagi kita untuk menghindari kalimat seperti ini, ditakutkan masuk kepada firman Allah:
 قوله تعالى:وأن تقولوا على الله مالا تعلمون 
Kalian berucap tentang Allah yang tidak kalian ketahui (Al-A'raf: 33)

Kaidah dalam hal ini adalah Bab dalam pengabaran lebih luas dari bab Al-Asma` wa Ash-Shifat. Disyaratkan dalam bab pengabaran bahwa pensifatan tersebut tidak mengandung makna yang jelek sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan selainnya.

Kaidah lainnya, bahwa dalam bab yang seperti ini walaupun terlihat ada keluasan, tapi para ulama selalu berusaha untuk menapaki apa yang datang dari para salaf.

Penggunaan Tuhan, insya Allah tidak masalah karena dalam penggunaan kebanyakan kita adalah bermakna pencipta dan selainnya dari makna rububiyah, walaupun kita harus membiasakan kaum muslimin dengan lafazh Rabb. Adapun gusti dan semisalnya, ana memandang penggunaannya dalam bab pengabaran kurang tepat, karena lafazh tersebut kurang jelas pengkhususannya dan pengagungannya kepada Allah. Wallahu A'lam.

(Ustadz Ahmad Niza dengan tambahan Ustadz Dzulqarnain)

Baarakallahufiikum

Sunday, 8 September 2013

quote #141, rek

Barangsiapa memberi nasehat kepada saudaranya secara berdua saja, itulah nasehat. Adapun memperingatkannya di depan khalayak ramai, itu adalah penghinaan
-Anonim-

Saturday, 7 September 2013

quote #140, rek

Tidaklah ada suatu perkara yang Allah perintahkan (kepada umat manusia) melainkan setan menebarkan dua jaring jeratnya: meremehkan dalam menjalankan perintah tersebut (tafrith & idha'ah) dan berlebih-lebihan padanya (ifrath & ghuluw)
-Ibnul Qoyyim rahimahullah-

Wednesday, 4 September 2013

menjadi makmum orang yang shalat sendiri, rek

Bismillaah
Misalnya ada laki" yang sudah mulai mengerjakan shalat, gimana caranya biar bisa berjamaah? Apakah dia boleh ditepuk oleh laki" lain yang sudah selesai mengerjakan sholat?

JAWAB:
Bila seorang lelaki sedang mengerjakan shalat, kemudian datang seorang makmum laki", si makmum cukup berdiri di samping kanan si laki" tadi (yang akan dijadikan sebagai imam) dan langsung ikut mengerjakan shalat dengan berdiri di sisi kanan si imam tanpa memberi isyarat karena keberadaannya yang berdiri disamping kanan si imam sudah cukup menunjukkan bahwa si makmum ingin ikut berjamaah.

Bila makmumnya berjumlah dua orang atau lebih, makmum tersebut boleh memberi isyarat dengan sentuhan pada bahu atau lengan si imam dan semisalnya agar diketahui bahwa ada yang ikut mengerjakan shalat bersama si imam itu.

Bila makmum yang datang adalah seorang perempuan, tidak mengapa bila dia ikut mengerjakan shalat di belakang imam laki-laki dengan menyentuh bahu atau lengan imam tersebut sebagai isyarat. Hal ini diperbolehkan jika perempuan tersebut adalah mahram bagi si imam.

Bila makmum perempuan bukanlah mahram bagi laki" yang sedang mengerjakan shalat, hendaknya perempuan tersebut mengerjakan shalat secara sendiri.

(Ustadz Haris)

Monday, 2 September 2013

menyikapi tradisi syirik, rek

Bismillaah
Bagaimana cara kita menempatkan diri di tengah" masyarakat yang masih kental tradisi melakukan kegiatan" syirik, syukuran dengan menyajikan makanan kemudian dibaca-baca diperuntukan untk para keluarga yang telah meninggal? Diwajibkan ziarah kubur terlebih dahulu sebelum bepergian jauh, memasuki lebaran, puasa. Bagaimana cara menyikapinya?

JAWAB:
Kita tempatkan diri kita seperti yang dilakukan Nabi kita shallallahu 'alaihi wasallah yang menjauh dari aktifitas masyarakat jahiliyah saat itu. Memang akan terasa keterasingan tersebut. Dan hendaknya kita bersabar dalam keadaan tersebut dan terus menuntut ilmu serta mengamalkannya. Wabillahit-taufiq.

(Ustadz Muhammad Yahya)

Sunday, 1 September 2013

quote #139, rek

Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras
-Ibnul Qoyyim rahimahullah-