Thursday, 31 January 2013

shalat gak ngikut imam, rek

Bismillaah
Bulan ramadhan ini ana berniat melaksanakan ibadah umrah. Di Masjidil Haram shalat tarawihnya 23 rakaat dan insya Allah, ana berniat 8 rakaat setelah itu ana keluar dari jamaah untuk witir sendiri, pertanyaannya apakah hal ini benar? Karena ana tidak mengikuti imam sampai akhir, mohon nasehatnya...


JAWAB:
Boleh saja shalat hanya delapan rakaat, namun hal tersebut menyelisihi yang lebih afdhal. Afdhal kita shalat bersama imam hingga selesai, karena Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, "Seorang lelaki apabila shalat bersama imamnya hingga selesai, dihitung baginya shalat semalam suntuk."

(Dijawab oleh Ustadz Dzulqarnain)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 30 January 2013

bonus dari kantor, rek

Bismillaah
Ustadz, ana mau tanya bagaimana hukumnya bonus atau hadiah dari tempat kita bekerja yang diberikan apabila perusahaan mendapatkan keuntungan dalam 1 tahun. Jazaakumullah khair.

JAWAB :
Menerima bonus atau hadiah dari perusahaan tidak masalah sepanjang hal tersebut dari ketentuan dan dimaklumi dari perusahan atau pemiliknya.
(Ustadz Dzulqarnain As Sunusi)

Baarakallahufiikum

Tuesday, 29 January 2013

orang yang terkenal di langit, rek

Bismillaah
Imam al Hasan al Bashri berkata,
"Adakalanya seseorang sudah hafal Al Quran, sementara tetangganya tidak mengetahuinya. Adakalanya seseorang memiliki banyak pengetahuan, namun orang" tidak merasakannya. Adakalanya seseorang mendirikan shalat yang panjang, sementara di rumahnya ada beberapa orang tamu dan mereka tidak mengetahuinya. Kita mengenal beberapa orang yang melakukan amal shalih secara sembunyi" selagi di dunia, namun kemudian pengaruh amalnya itu selalu tampak sepeninggalnya…"
[Al Akhfiya' al Manhaj wa as Suluk, oleh Walid ibn Sa'id Bahakam]

Baarakallahufiikum

Monday, 28 January 2013

ciri" seorang wali Allah, rek

Bismillaah
Abul Abbas al 'Atha' rahimahullah berkata,
"Tanda" wali itu ada empat macam: Menjaga rahasia antara dirinya dengan Allah, menjaga amalan anggota tubuhnya antara dirinya dengan perintah Allah, sabar dalam menghadapi siksaan antara dirinya dengan makhluk Allah, dan bergaul bersama manusia dengan keragaman akal mereka."
[Shifat ash Shafwah, jilid 2, hal. 287]

Baarakallahufiikum

Sunday, 27 January 2013

quote #77, rek

Imam Malik rahimahullaah jika ingin pergi mengajar hadits, beliau wudhu seperti wudhunya orang yang ingin melaksanakan shalat, dan memakai pakaiannya yang paling baik, menyisir jenggotnya, dan ketika ditanyakan kepadanya tentang itu, beliau berkata:" Aku memuliakan hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
-Abi Salamah Al-Khuzzaa'i rahimahullaah-

Saturday, 26 January 2013

quote #76, rek

Belajar suatu ilmu hendaknya dilakukan dengan bertahap. Hal itu karena sesuatu, jika permulaannya mudah, ia akan menjadi menarik bagi orang" yang mempelajarinya. Jika itu yang terjadi, maka pelajaran pun akan diterima dengan mudah. Akhirnya, sedikit demi sedikit ilmunya akan bertambah.
-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah-

Friday, 25 January 2013

ceramah di antara tarawih, part 3, rek

Bismillaah
Apakah boleh bagi imam masjid dalam shalat tarawih untuk menyampaikan ceramah setiap selesai beberapa raka'at?

Jawaban :
Bisa boleh dan bisa tidak. Jika berupa peringatan, teguran, serta perintah dan larangan terhadap suatu perkara yang baru terjadi, maka ini adalah wajib. Adapun jika dijadikan sebagai kebiasaan yang teratur, maka ini menyelisihi sunnah.
(Silsilah Al Huda wa An Nur no. 656)

Beliau rahimahullah juga berkata :
Shalat malam di bulan Ramadhan disyariatkan untuk menambah taqarrub kepada Allah 'Azza Wa Jalla dengan bentuk shalat tarawih saja. Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa tidak boleh bagi kita untuk mencampur shalat tarawih dengan sesuatu dari ilmu, ta'lim, dan yang semisalnya. Yang seyogyanya dilakukan adalah shalat tarawih saja. Adapun ilmu, punya waktu tersendiri. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, tetapi melihat kepada maslahat hadirin. Ini hukum asalnya. Maksud saya dari penjelasan tadi bahwa orang yang membuat kebiasaan memberikan ta'lim atau ceramah kepada orang" dalam shalat tarawih di antara setiap empat raka'at misalnya, dan dia menjadikannya sebagai kebiasaan, maka itu adalah perkara yang dibuat-buat dalam agama ini, dan menyelisihi sunnah.
(Transkrip kaset Silsilah Al Huda wa An Nur no. 693, menit ke-28.)

Baarakallahufiikum

Thursday, 24 January 2013

ceramah di antara tarawih, part 2 rek

Bismillaah
Apa hukum menyampaikan ceramah di antara shalat Tarawih atau di pertengahannya, yang mana hal itu dilakukan terus-menerus?

Jawaban :
Adapun menyampaikan ceramah, hendaknya tidak dilakukan karena hal itu bukan termasuk petunjuk Salaf. Tetapi jika memang dibutuhkan atau imam shalat berkehendak, ceramah boleh disampaikan setelah Tarawih. Jika hal itu dimaksudkan sebagai bentuk ibadah, maka itu adalah bid'ah. Dan tanda bahwa amalan itu dia jadikan sebagai ibadah adalah terus menerus dilakukan setiap malam. Kemudian kita katakan : Wahai saudaraku, kenapa engkau berceramah kepada orang"? Kadang sebagian orang memiliki kesibukan sehingga mereka ingin bisa langsung pergi setelah selesai Tarawih agar bisa mendapatkan pahala yang disebutkan dalam sabda Rasul 'Alaihish Shalatu Was Salam :
"Barangsiapa yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai, maka akan dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk." 
Jika engkau suka bila ada ceramah, dan setengah dari jama'ah atau bahkan tiga perempat dari mereka juga suka bila ada ceramah, maka janganlah engkau menahan seperempat dari mereka karena tiga perempat dari mereka senang terhadap ceramah. Bukankah Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
"Jika salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaknya dia ringankan karena di belakangnya ada orang yang lemah, sakit, dan memiliki kepentingan."
Atau sebagaimana yang dikatakan oleh beliau 'Alaihish Shalatu Was Salam. Maksudnya, jangan mengukur orang lain dengan dirimu sendiri atau orang yang suka terhadap ceramah. Ukurlah orang lain dengan sesuatu yang tidak memberatkan mereka. Imamilah shalat tarawih mereka. Jika kalian telah selesai dari shalat tersebut, silahkan berikan ceramah yang engkau inginkan.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan rezeki kepada kami dan juga kalian berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Bergembiralah untuk mendapatkan kebaikan dengan datangnya kalian ke tempat ini, karena :
Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu (syar’i), Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga dengan upaya tersebut.” (HR. Muslim No. 2699 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap Dia limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, serta seluruh shahabat beliau.
(Liqa' Bab Al Maftuh 29/118)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 23 January 2013

ceramah di antara tarawih, part 1, rek

Bismillaah
Kami di Kuwait ada kebiasaan menyampaikan ceramah setelah raka'at keempat pada shalat Tarawih. Apakah hal tersebut diperbolehkan? Jika boleh, bagaimana bentuk ceramah ini?

Jawaban :
Saya berpandangan bahwa hendaknya hal tersebut tidak dilakukan, karena :

Pertama : hal tersebut bukan termasuk petunjuk Salaf.

Kedua : bahwa sebagian orang (yang datang ke masjid) kadang hanya ingin shalat Tarawih, setelah itu pulang ke rumah. Jadi jika diberi ceramah, maka bisa menghalangi keinginan mereka itu, membuat mereka bosan, dan merupakan bentuk pemaksaan bagi mereka untuk mendengarkan ceramah itu. Yang namanya ceramah, jika tidak diterima maka kejelekannya akan lebih banyak daripada manfaatnya.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Alihi Sallam dahulu menyelang-nyeling dalam menyampaikan ceramah kepada para shahabat beliau, tidak memberatkan mereka, dan tidak mengulang-ulangnya. Jadi menurut saya, meninggalkannya lebih utama. Jika imam memang ingin memberi ceramah kepada orang", hendaknya menjadikannya di bagian akhir, jika shalat telah selesai seluruhnya sehingga nantinya terserah mereka, tetap berada di masjid atau pergi.

(Liqa' Bab Al Maftuh 6/229)
Baarakallahufiikum

Tuesday, 22 January 2013

tidak puasa karena beratnya pekerjaan, part 2, rek

Bismillaah
Saya pernah mendengar seorang khatib dari imam" masjid pada Jum'at kedua di bulan Ramadhan yang diberkahi, membolehkan untuk tidak berpuasa bagi orang yang pekerjaannya memberatkannya, sementara dia tidak mempunyai sumber penghidupan selain pekerjaan itu. Pekerja itu harus memberi makan kepada satu orang miskin setiap hari di bulan Ramadhan. Jika diuangkan maka menjadi lima belas dirham. Ini yang mendorong saya untuk menulis pertanyaan ini. Apakah ada dalil yang shahih dari Al Kitab dan As Sunnah tentang hal tersebut?

Jawaban :
Seorang mukallaf tidak boleh untuk tidak berpuasa pada siang hari di bulan Ramadhan hanya karena dia bekerja. Tetapi jika (ketika sedang bekerja) dia mendapati kepayahan yang sangat, yang memaksanya untuk berbuka di siang hari, maka dia boleh berbuka dengan sesuatu yang bisa menghilangkan kepayahan tersebut. Kemudian dia menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa sampai terbenamnya matahari, dan dia berbuka kembali bersama orang". Dia harus mengqadha hari tersebut. Adapun fatwa yang engkau sebutkan, itu tidaklah benar.


Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau.

(Fatawa Al Lajnah Ad Daimah 1 [10/233], fatwa nomor 4157)
Baarakallahufiikum

Monday, 21 January 2013

wasiat khalifah Ali, rek

Bismillaah
Manusia ada tiga golongan: (1) Alim rabbani; (2) Orang yang belajar di atas jalan keselamatan; dan (3) Orang rendahan yang tidak tahu aturan, selalu mengikuti setiap penyeru, condong kemana pun angin bertiup, tidak bisa mengambil penerang dari cahaya ilmu, tidak pula berlindung kepada tiang yang kuat.

Ilmu lebih baik daripada harta karena ia akan menjagamu. Adapun harta, engkau yang menjaganya.

Ilmu akan bertambah dengan diamalkan sedangkan harta akan berkurang ketika dibelanjakan.

Mencintai orang yang berilmu adalah bagian agama. Ilmu membuat pemiliknya berada dalam ketaatan sepanjang hayatnya, pembicaraan yang baik setelah dia meninggal. Adapun harta, pengaruhnya akan hilang seiring dengan lenyapnya harta itu.

Para penjaga harta seakan-akan mati dalam hidupnya. Adapun orang berilmu akan tetap abadi sepanjang masa

[Min Washaya as-Salaf, hlm. 12—14]
Baarakallahufiikum

Sunday, 20 January 2013

quote #75, rek

Teman dudukku mempunyai tiga hak atasku: aku mengarahkan pandanganku kepadanya bila dia menghadap, aku memberikan tempat yang luas baginya di majelis bila dia duduk, dan aku memerhatikan dia bila dia berbicara
-Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma-

Saturday, 19 January 2013

quote #74, rek

Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu
-Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu-

Friday, 18 January 2013

tidak puasa karena beratnya pekerjaan, part 1, rek

Bismillaah
Terkait dengan orang" yang pekerjaan mereka melelahkan, yang tidak mendapati pekerjaan selain yang mereka geluti, apakah mereka diberi keringanan untuk tidak berpuasa seperti laki-laki dan perempuan yang sudah lanjut usia dan tidak mampu untuk berpuasa? Berilah faidah kepada kami, semoga Allah memberi pahala kepada Anda.

Jawaban :
Suatu pekerjaan tidaklah menjadikan seseorang boleh untuk tidak berpuasa walaupun pekerjaan itu berat. Kaum muslimin (di bulan Ramadhan) tetap bekerja di berbagai masa, dan tidak meninggalkan puasa karena pekerjaan. Sebab, pekerjaan bukanlah termasuk udzur yang disebutkan oleh Allah Jalla wa 'Ala yang menjadikan seseorang boleh untuk tidak berpuasa. Udzur" yang menjadikan seseorang boleh untuk tidak berpuasa terbatas jumlahnya, yaitu : bepergian, sakit, haid, nifas, pikun, penyakit kronis, demikian juga wanita hamil dan menyusui yang khawatir terhadap diri mereka atau anak mereka. Itulah udzur" yang disebutkan dalam banyak dalil yang menjadikan seseorang boleh untuk tidak berpuasa. Adapun pekerjaan, maka tidaklah menjadikan seseorang boleh untuk tidak berpuasa karena tidak adanya dalil yang menunjukkan akan hal itu. Seseorang yang bekerja wajib untuk tetap berpuasa bersama kaum muslimin. Jika kemudian pekerjaan itu terasa sangat berat baginya dan dia khawatir dirinya akan mati, dia boleh menyantap sesuatu yang bisa membuatnya tetap hidup. Tetapi sisa hari itu dia harus tetap menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa. Kemudian dia mengqadha hari tersebut pada hari lain (di luar Ramadhan). Adapun orang yang sejak awal tidak berpuasa karena pekerjaannya, maka ini bukanlah udzur yang syar'i.

(Al Muntaqa min Fatawa Asy Syaikh Al Fauzan, bab Ash Shiyam, pertanyaan ke-15)
Baarakallahufiikum

Thursday, 17 January 2013

bujukan dan rayuan kepada kebenaran, rek

Bismillaah
Imam Ahmad rahimahullah berkata:

Manusia membutuhkan bujuk rayuan dan sikap lemah lembut tanpa kekerasan saat mereka diajak kepada kebaikan kecuali seorang yang menentang (Al Haq) dan menampakkan kefasikan beserta kejelekannya secara terang"an. Maka wajib atasmu mencegahnya (dengan keras) dan mengumumkannya (di hadapan khalayak ramai), karena dahulu dikatakan bahwa tak ada kehormatan bagi seorang yang fasiq. Oleh sebab itu orang yang seperti ini tak ada kehormatan baginya.
(Al Amru bil Ma’ruf Wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal, halaman 47)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 16 January 2013

ketika diajak berdebat, rek

Bismilaah
Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullah berkata:

“Jika seseorang berkata: "Jika seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, lalu ada seseorang datang kepadanya bertanya tentang masalah agama, lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajaknya berdialog agar sampai kepadanya hujjah dan membantah pemikirannya?"

Maka katakan kepadanya: "Inilah yang kita dilarang dari melakukannya, dan inilah yang diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yang terdahulu."

Jika ada yang bertanya: "Lalu apa yang harus kami lakukan?"

Maka katakan kepadanya: "Jika orang yang menanyakan permasalahannya kepadamu adalah orang yang mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan, maka bimbinglah dia dengan cara yang terbaik dengan penjelasan. Bimbinglah dia dengan ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah, perkataan para sahabat dan ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu, maka inilah yang dibenci oleh para ulama, dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu."

Jika dia bertanya: "Apakah kita biarkan mereka berbicara dengan kebatilan dan kita mendiamkan mereka?"

Maka katakan kepadanya: "Diamnya engkau dari mereka dan engkau meninggalkan mereka dalam apa yang mereka bicarakan itu lebih besar pengaruhnya atas mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yang diucapkan oleh para ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin."

(Lammud Durr, Jamal Al-Haritsi hal. 160-162)
Baarakallahufiikum

Tuesday, 15 January 2013

i'tikaf bagi akhwat, rek

Bagaimana hukum beri'tikaf bagi akhwat? Mohon jawabannya.

JAWAB:
Boleh Insya Allah, selama bisa menjaga dari iktilath dan terhindar dari fitnah. Allahu a'lam

(Dijawab oleh Ustadz Ahmad Niza)

Monday, 14 January 2013

kemudahan untuk wanita hamil dan menyusui, rek

Apakah diperbolehkan bagi wanita hamil dan wanita menyusui untuk berbuka (tidak berpuasa)? Apakah wajib bagi keduanya untuk meng-qadha' (mengganti) puasanya atau ada kaffarah (penebus) dari puasa mereka?

Jawab :
Hukum wanita hamil dan wanita menyusui adalah seperti hukum orang yang sakit. Jika berat bagi mereka untuk berpuasa mereka disyariatkan untuk berbuka, dan mereka wajib meng-qadha' (mengganti) puasanya tersebut ketika mereka mampu untuk melakukannya, seperti halnya orang sakit.

Sebagian ahlul ilmi berpendapat bahwa memberi makan setiap hari satu orang miskin sudah mencukupi bagi mereka. Tapi ini adalah pendapat yang lemah. Yang benar adalah wajib bagi mereka untuk meng-qadha' puasanya berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Barang siapa yang sakit atau sedang di perjalanan maka (diganti puasanya) sejumlah hari dia berbuka di hari"yang lain"
Ini juga telah ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik Al Ka'by radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah meringankan dari musafir, puasa dan setengah sholat, serta dari seorang yang hamil dan menyusui, puasa." Diriwayatkan oleh imam yang lima.

(Tuhfatul Ikhwan Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah)
(Penerjemah: Ayub Abu Ayub)

Tambahan :
Ibu hamil & menyusui cukup membayar fidyahpun dibolehkan. Ini termasuk masalah ijtihadiyah yang kita harus berlapang dada dalam menyikapinya. Karena ada juga fatwa dari Ibnu Abbas riwayat At-Thabari dan Ibnu Umar riwayat Syafi'i dan Abdurrazzaq. Tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka berdua di kalangan sahabat hal tersebut. Wallaahu a'lam

(Ustadz Abdullah Sya'roni)
Baarakallahufiikum

Sunday, 13 January 2013

quote #73, rek

Orang yang mencintai dunia atau harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan) : Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan, dan penyesalan yang tiada akhirnya
-Ibnul Qoyyim rahimahullah-

Saturday, 12 January 2013

quote #72, rek

Salah satu dari tiga nafas kehidupan adalah teman yang shaleh. Engkau memberi faedah kepadanya dan dia pun memberi faedah kepadamu
-Muhammad bin Waasi' rahimahullah-

Friday, 11 January 2013

tentang wanita hamil dan puasa, rek

Bila pada bulan Ramadhan seorang wanita dalam keadaan hamil, lalu dia telah membayar fidyahnya, apakah masih berkewajiban untuk meng-qadha' puasanya? Sebab, saya dari (hamil) anak pertama cuma membayar fidyah saja, lalu bagaimana dengan hutang puasa yang lalu"?

JAWAB:
Masalah qadha' puasa khilaf di kalangan ulama, ana meyakini dengan pendapat Syaikh bin Baz rahimahullah dengan membayar puasa, untuk kasus ini, kalau dia meyakini bayar fidyah dahulunya, maka yang berlalu telah berlalu dengan fidyahnya.

(Dijawab oleh Ustadz Haris)
Baarakallahufiikum

Thursday, 10 January 2013

keringanan untuk ibu menyusui, rek

Mau tanya untuk ummi yang anaknya baru berusia 6 bulan dan belum makan/masih minum ASI, apakah harus berpuasa atau tidak?

Jawaban:
Lihat kemampuan saja. Kalau mampu dia untuk berpuasa maka berpuasa. Kalau dia khawatir akan dirinya atau anaknya dengan sebab dia berpuasa, boleh baginya untuk tidak berpuasa.

(Dijawab oleh Ustadz Ayub Abu Ayub)
Barakallahufiikum

Wednesday, 9 January 2013

mushaf di tablet, rek

Bagaimanakah adab membawa mushaf Al Qur'an dalam bentuk software semisal di ponsel atau tablet? Apakah sama dengan membawa mushaf Al Qur'an yang dicetak seperti ditempatkan di tempat yang baik, tidak dibawa ke toilet dll?

JAWAB:
Kalau mushaf Al-Qur`an tersebut dalam bentuk file atau software yang tersimpan dan tidak terbuka saat masuk WC, Insya Allah tidak mengapa.

(dijawab oleh Ustadz.Dzulqarnain)
Barakallahufiikum

Tuesday, 8 January 2013

pemberitahuan zakat, rek

Apakah ada keharusan memberitahukan zakat yang kita beri kepada si penerima dengan perkataan "ini zakat harta saya" atau yang semisalnya?

JAWAB:
Bila orang yang diberi telah diketahui sebagai penerima zakat (mustahiq), tidak masalah menyerahkan zakat tersebut tanpa penjelasan, karena kadang akan memberi kesedihan di hati orang yang menerimanya. Bila ada keraguan pada orang yang akan diberi, seharusnya diterangkan bahwa pemberian itu adalah zakat agar penyaluran zakat tepat pada tempatnya.

(dijawab oleh Ustadz Dzulqarnain)
Barakallahufiikum

Monday, 7 January 2013

bersentuhan dengan wanita, rek

Ustadz, bukankah ada juga pendapat yang mengatakan wudhu kita batal jika bersentuhan dengan wanita (Imam Syafi'i)? Apakah pendapat (dalil yang dikemukakan oleh) beliau tidak shahih? Mohon pencerahan.

JAWAB:
Dalil yang Imam Syafi’i rahimahullah gunakan adalah lebih shahih karena berupa ayat Al-Qur`an, yaitu firman Allah,
“Atau kalian telah menyentuh perempuan.” [An-Nisa`: 43, Al-Ma`idah: 6]
Hanya saja, pemahaman terhadap ayat yang kurang kuat karena Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma menafsirkan bahwa kata menyentuh adalah bermakna sentuhan khusus, yaitu hubungan suami-istri. Juga telah sah dalam beberapa riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencium istrinya, kemudian beliau keluar untuk mengerjakan shalat, tetapi tidak berwudhu.

(Dijawab oleh Ustadz Dzulqarnain)
Baarakallahufiikum

Sunday, 6 January 2013

quote #71, rek

Kami mempelajari Al-Qur`an dari kaum yang menyatakan bahwa (mereka) apabila mempelajari sepuluh ayat, tidak akan mempelajari ayat lainnya sebelum mereka mengetahui dan mengamalkan isinya.
-Abu Abdirrahman rahimahullah-

Saturday, 5 January 2013

quote #70, rek

Bacaan al-Qur`an yang dilantunkan oleh Al-Fudhail begitu syahdu, menarik tapi lambat dan lurus, seolah-olah beliau sedang berbicara kepada seseorang. Dan apabila beliau membaca ayat yang menyebut-nyebut Surga, beliau akan mengulang-ulang bacaannya.
-Ishaq bin Ibrahim rahimahullah-

Friday, 4 January 2013

zakat barang, rek

Apakah boleh zakat diberikan dalam bentuk barang yang bisa digunakan untuk mata pencahariannya?

JAWAB:
Zakat yang dikeluarkan dalam bentuk uang hendaknya diserahkan dalam bentuk uang. Orang yang berhak menerima zakat lebih berhak menentukan penggunaan zakat yang dia terima.

(Dijawab oleh Ustadz Dzulqarnain)
Baarakallahufiikum

Thursday, 3 January 2013

penghafal Quran, rek

Bismillaah
Dari Al-Musayyab bin Rafi`, dari Abdullah bin Mas`ud diriwayatkan bahwa beliau berkata,

"Seorang penghafal (ahli) Al-Qur`an, harus dikenal dengan qiyamul lail pada malam hari saat orang" sedang tidur, dan berpuasa pada siang hari di kala orang" tidak berpuasa, dengan kesedihannya di kala orang" bergembira, dengan tangisnya di saat orang" tertawa, dengan diamnya di kala orang" berbicara tidak karuan, dan dengan khusyu`nya di kala orang" bersikap congkak.

Seorang penghafal (ahli) Al-Qur`an juga harus menjadi orang yang mudah menangis, mudah bersedih (karena dosa"nya), berjiwa santun, bijaksana dan banyak diam. Seorang penghafal (ahli) Al-Qur`an, tidak layak bersikap congkak, teledor, suka berteriak, menjerit-jerit dan pemarah."

[Shifat ash-Shafwah, 1/413]
Baarakallahufiikum

Wednesday, 2 January 2013

cinta dunia, rek

Bismillaah
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Setiap orang yang lebih memilih dan mencintai dunia dari kalangan orang yang berilmu, pasti dia akan berkata tentang Allah Subhanahu Wa Ta'ala (Dzat, nama, sifat, perbuatan dan syariat-Nya) dengan ucapan yang tidak benar dalam fatwa", hukum, berita, dan konsekuensi"nya. Karena kebanyakan hukum" Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyelisihi keinginan" manusia. Lebih" bagi orang yang berambisi mendapatkan kedudukan atau jabatan, serta orang yang diperbudak oleh hawa nafsunya. Ambisi" mereka tidak akan terpenuhi kecuali dengan menyelisihi al-haq dan banyak menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim lebih mencintai kedudukan, jabatan, atau hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan terpenuhi kecuali dengan segala kebenaran yang bertentangan dengannya.

Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu akan membutakan mata hati, sehingga dia tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Atau, akan menyebabkan pandangannya terbalik, sehingga dia melihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit orang" yang berilmu bila mereka lebih memilih dunia dan hawa nafsunya.

[Al-Iqtidha, 1/114]
Baarakallahufiikum

Tuesday, 1 January 2013

tamak terhadap harta dan tahta, rek

Bismillaah
Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam berkata,

"Bila engkau mengarahkan pandanganmu ke tengah" kehidupan kaum muslimin, baik dahulu maupun sekarang, niscaya akan engkau dapati mayoritas orang yang menyimpang dari ash-shirathal mustaqim dikarenakan tamak terhadap harta dan tahta. Maka barangsiapa yang membukakan pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan sering berganti (prinsip), berubah warna dan menganggap ringan urusan agamanya."

[Bidayatul Inhiraf, hal. 141]
Baarakallahufiikum