Friday, 30 November 2012

jenis-jenis dai, rek

Bismillaah
Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “…Dikarenakan dai yang menyeru kepada Allah dibagi dua macam:

Pertama : Dai Illallah (yang menyeru/mengajak kepada Allah). Dai illallah Ta’ala, seseorang yang ikhlas yang ingin menghubungkan (mengajak) manusia kepada Allah Ta’ala.

Kedua : Dai yang mengajak kepada selain-Nya

Dai ini dibagi menjadi dua :

Dai yang mengajak kepada dirinya dan kepada pemikirannya yang menyimpang dan
Dai yang mengajak kepada al-haq (kebenaran) akan tetapi dengan tujuan agar dirinya diagungkan dan dihormati manusia.
(Al-Qaulul Mufiid ‘Ala Kitab At-Tauhid, Muhammad Shalih Al-Utsaimin : 84, dengan sedikit perubahan)

Baarakallahufiikum

Thursday, 29 November 2012

hukum gambar, part 2, rek

Bismillaah
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang mengambil gambar (makhluk hidup) dan memasukkannya ke dalam rumah dan melarang untuk membuat yang seperti itu.”
( HR. At-Tirmidzi no. 1749, kitab Al-Libas ‘An Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bab Ma Ja`a fish Shurah. Dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam Hukmu Tashwir, hal. 17)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 28 November 2012

hukum gambar, part 1, rek

Bismillaah
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang dari safar (bepergian jauh) sementara saat itu aku telah menutupi sahwahku dengan qiram (kain tipis berwarna-warni) yang berlukis/bergambar. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihatnya, beliau menyentakkannya hingga terlepas dari tempatnya seraya berkata:
“Manusia yang paling keras siksaan yang diterimanya pada hari kiamat nanti adalah mereka yang menandingi (membuat sesuatu yang menyerupai) ciptaan Allah.”
Kata 'Aisyah: “Maka kami pun memotong-motong qiram tersebut untuk dijadikan satu atau dua bantal.”
(HR. Al-Bukhari no. 5954, kitab Al-Libas, bab Ma Wuthi’a minat Tashawir dan Muslim no. 5494, kitab Al-Libas waz Zinah, bab Tahrimu Tashwiri Shuratil Hayawan)

Baarakallahufiikum

Tuesday, 27 November 2012

hukum shalat tarawih, rek

Bismillaah
Hukum shalat tarawih adalah mustahab (sunnah), sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan tentang sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
"Barangsiapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah Ta’ala, niscaya diampuni dosa yang telah lalu." (Muttafaqun ‘alaih)
"Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah shalat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukumnya mustahab (sunnah)." (Syarah Shahih Muslim, 6/282). Dan beliau menyatakan pula tentang kesepakatan para ulama tentang sunnahnya hukum shalat tarawih ini dalam Syarah Shahih Muslim (5/140) dan Al-Majmu’ (3/526).

Ketika Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menafsirkan qiyamu Ramadhan dengan shalat tarawih maka Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memperjelas kembali tentang hal tersebut:

"Maksudnya bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan hanya diperoleh dengan melaksanakan shalat tarawih saja (dan meniadakan amalan lainnya)." (Fathul Bari, 4/295)

Baarakallahufiikum

Monday, 26 November 2012

rusak, rek

Bismillaah

Kalau sesuatu sudah pecah/rusak, maka ilmu agama bisa memperbaikinya, namun jika agama sudah rusak, maka tidak ada yang bisa memperbaikinya...

Banyak sebagian manusia yang parasnya mungkin kurang di mata kita, namun dengan ilmu agama yang dimiliki justru kekurangannya bisa tertutupi bahkan menjadi istimewa

Baarakallahufiikum

Sunday, 25 November 2012

quote #59, rek

Membicarakan ahli bid’ah bukan termasuk perbuatan ghibah

-Sufyan bin Uyainah rahimahullah-

Saturday, 24 November 2012

quote #58, rek

Tidaklah tsabit (kuat) keislaman seseorang kecuali dengan menerima dan berserah diri (kepada kitab dan sunnah) dengan sepenuh hati

-Imam Ath Thahawi rahimahullah-

Friday, 23 November 2012

takut menikah karena sudah tidak perawan, rek

Bismillaah
Oleh: Al Ustadz Abu Muawiyah Hammad hafizhahullah

Tanya:
Bismillaah. Bagaimana dengan seorang akhwat yang tidak mau nikah karena takut tidak perawan lagi? Tolong nasehatnya.

Jawab:
Sebenarnya masalah ini cukup sederhana. Jika memang dia khawatir tidak perawan lagi, maka dia tinggal memeriksakan diri kepada ahlinya. Jika hasilnya dia masih perawan, maka masalahnya sudah tidak ada. Tapi jika dia terbukti bukan perawan lagi maka tentunya dia sendiri mengetahui apa sebabnya.

Jika ketidakperawanan itu terjadi karena keterpaksaan dia -misalnya pemerkosaan- maka hal itu tidaklah menghalanginya untuk menikah dengan pria yang baik, dengan syarat dia mengabarkan keadaan dirinya kepada calon suaminya. Jika tidak, maka itu sama saja dia telah menipu seorang muslim.

Jika ketidakperawanan itu terjadi karena keinginan sendiri -misalnya (maaf) perzinaan- maka dia tidak boleh menikah dengan pria muslim yang baik kecuali dengan dua syarat:
1. Dia telah bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan taubat yang nasuha.
2. Dia telah lepas dari iddah (masa tunggu). Jika dia positif hamil maka iddahnya hingga dia melahirkan. Jika tidak, maka iddahnya adalah sekali haid untuk menyatakan kosongnya rahim dari janin.

Bagaimanapun juga, pernikahan adalah sunnah para nabi dan rasul. Tidak sepantasnya seorang muslim terlebih lagi seorang muslimah untuk meninggalkannya hanya karena alasan diatas. Karena sebagaimana yang terlihat di atas, Islam selalu membawakan jalan keluar bagi mereka yang jujur ingin menjalankan syariatnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Akhwat Shalihah, vol. 8/1432/2010, hal. 87-88.


Baarakallahufiikum

Thursday, 22 November 2012

binatang yang diharamkan, rek

Bismillaah
Ada banyak faedah yang didapatkan ketika blogwalking. Salah satunya ya ilmu dalam gambar di bawah inih

Baarakallahufiikum

Wednesday, 21 November 2012

cacing, rek

Bismillaah
PERNAHKAH KITA BERFIKIR SEJENAK ?

Apakah yang akan diperbuat cacing terhadap wajah yang selama ini kita jaga kebersihannya?
Apakah yang akan diperbuat cacing terhadap isi perut kita?
Apakah yang akan diperbuat cacing di liang lahat?

Ketika tubuh kita telah ditanam di dalam bumi...
Cacing" itu berpesta pora menyantap daging kita setelah membusuknya...

Dan kita semua sedang menuju pertemuan dengan cacing"

Baarakallahufiikum

Tuesday, 20 November 2012

nasehat imam syafi'i kepada muridnya, part 2, rek

Bismillaah

Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`ân sebagai juru bicaramu dengan kejelasan dan jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Siapa yang sifatnya seperti ini, maka surga adalah tempat tinggalnya

Baarakallahufiikum

Monday, 19 November 2012

nasehat imam syafi'i kepada muridnya, part 1, rek

Bismillaah

Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah apa" yang Dia haramkan, laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah dimanapun engkau berada. Jangan sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah terhadapmu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzholimimu, sambunglah orang yang memutus silaturahmi kepadamu, berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan

Baarakallahufiikum

Sunday, 18 November 2012

quote #57, rek

Sesungguhnya ilmu itu bukanlah karena banyaknya riwayat dan kitab, sesungguhnya 'Alim (ulama) itu adalah siapa yang mengikuti ilmu dan sunnah walaupun sedikit ilmu dan kitabnya dan siapa yang menyelisihi kitab dan sunnah maka dia adalah ahlul bid'ah walaupun banyak ilmu dan kitabnya.

-Imam Al Barbahari rahimahullah-

Saturday, 17 November 2012

quote #56, rek

Empat perkara yang jika ada ada pada diri seseorang niscaya Allah Azza Wa Jalla akan menjaganya dari setan dan mengharamkannya dari api neraka, yaitu siapa saja yang bisa menguasai diri tatkala didera oleh keinginan, rasa takut, nafsu, syahwat, dan kemarahan.
-Al Hasan Al Bashri rahimahullah-

Friday, 16 November 2012

meninggalkan penyimpangan dan ketergelinciran ulama, part 2, rek

Bismillaah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“Sudah dimaklumi bahwa seseorang yang besar dalam hal ilmu dan agama dari kalangan para sahabat, para tabi’in, dan generasi setelah mereka sampai hari kiamat, baik dari kalangan ahlul bait atau selainnya, kadang" memiliki ijtihad yang didasari oleh prasangka semata. Hal itu tidak selayaknya untuk diikuti walaupun dia termasuk wali Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang bertakwa.

Ketika terjadi hal seperti ini, akan menjadi ujian bagi dua golongan:

1. Yang mengagungkan akan berusaha membenarkan hal itu dan mengikutinya.

2. Yang mencela menjadikan kesalahan itu sebagai alasan yang mencacati kewalian dan ketakwaannya.

Bahkan, menurut mereka, bisa jadi kebaikan dan keberadaannya sebagai calon penghuni surga juga batal. Mereka menganggap bahwa imannya telah rusak sehingga keluar dari agama. Kedua golongan ini sesat karena keliru dalam bersikap.”

(Minhajus Sunnah, 4/543)

Baarakallahufiikum

Thursday, 15 November 2012

meninggalkan penyimpangan dan ketergelinciran ulama, rek

Bismillaah

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Yang dikhawatirkan adalah bahwa ketergelinciran orang yang berilmu itu akan diikuti. Jika bukan karena taklid, ketergelincirannya tidak perlu dikhawatirkan berpengaruh terhadap orang lain (pengikutnya). Oleh karena itu, apabila sudah diketahui kesalahannya, ia tidak boleh diikuti dalam hal tersebut menurut KESEPAKATAN (IJMA') kaum muslimin. Mengikuti ketergelinciran tersebut berarti mengikuti kesalahannya dengan sengaja.” (I’lamul Muwaqqi’in, 2/192)

Baarakallahufiikum

Wednesday, 14 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 6, rek

Bismillaah

Keenam: mengenalkan
Jika seseorang dikenal dengan julukannya seperti “si juling”, “si pincang”, “si tuli”, atau “si buta” dan lain", maka boleh mengenalkan orang tersebut dengan julukan"nya. Namun tidak boleh menyebutkannya dengan maksud mengejek dan merendahkannya. Kalau memungkinkan untuk dikenalkan dengan selain itu, maka hal tersebut lebih baik.

Baarakallahufiikum

Tuesday, 13 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 5, rek

Bismillaah

Kelima: orang yang terang"an dalam berbuat kefasikan atau kebid’ahan
Seperti dia terang"an minum khamr, pemeras manusia, pencatut, merampas harta manusia dengan dhalim, melakukan perkara" yang bathil. Dalam hal ini boleh disebutkan kejelekan yang ia lakukan secara terang"an tersebut, namun diharamkan menyebutkan aib" lainnya, kecuali kalau ada alasan lain yang membolehkannya seperti yang telah disebutkan di muka.

Baarakallahufiikum

Monday, 12 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 4, rek

Bismillaah

Keempat: memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan dan kejahatan seseorang serta menasehati mereka dari bahayanya
Hal di atas ada beberapa sisi, di antaranya:
- Menjauhi perawi" hadits yang dlaif atau saksi" yang tidak terpercaya. Yang demikian diperbolehkan menurut kesepakatan kaum muslimin, bahkan hukumnya dapat menjadi wajib ketika diperlukan.
- Musyawarah dalam masalah pernikahan seseorang atau dalam hubungan dagang, penitipan barang atau muamalah" lainnya. Wajib bagi seorang yang diajak musyawarah untuk menerangkan keadaan sebenarnya dan tidak boleh menyembunyikan keadaannya, bahkan harus disebutkan kejelekan" dan aib" yang ada pada orang tersebut dengan niat menasehatinya.
- Jika seorang pencari ilmu fiqh mendatangi ahlul bid’ah (aliran sesat) atau orang yang fasiq untuk mengambil ilmu, sementara dikhawatirkan dia akan mendapatkan kejelekan, maka kita perlu menasehatinya dengan menjelaskan keadaan orang itu sebenarnya dengan syarat meniatkannya sebagai nasehat.

Namun ini yang sering disalahgunakan. Kadang" seorang yang berbicara seperti itu ternyata hanya karena dorongan hasad (iri dan dengki), sedangkan setan mengkaburkan terhadapnya dan menggambarkan seakan-akan itu adalah nasehat. Maka hendaklah kita memperhatikannya dengan jeli.
- Jika ada seorang yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan, tetapi dia tidak melaksanakannya dengan baik. Apakah karena memang ia tidak cocok untuk tugas itu atau dia adalah seorang yang fasik dan lalai, dan semisalnya. Wajib menyebutkan keadaan orang tersebut kepada orang yang berada di atasnya dalam hal kekuasaan, agar memecat dan menggantinya dengan orang yang lebih baik. Atau paling tidak diberitahu atasannya agar orang tersebut diperlakukan sebagaimana mestinya dan tidak tertipu dengan sikapnya yang seakan baik, atau agar atasannya berupaya membimbing dan menganjurkan agar orang tersebut istiqamah atau merubah perbuatannya.

Baarakallahufiikum

Sunday, 11 November 2012

quote #55, rek

(Kami memerangi manusia) dengan kesabaran. Tidaklah kami menjumpai suatu kaum (musuh) melainkan kami bersabar menghadapi mereka sebagaimana mereka bersabar menghadapi kami
-Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu-

Saturday, 10 November 2012

quote #54, rek

Tidaklah terpuji untuk menghafal di hadapan tetumbuhan, yang menghijau, atau di sungai, atau di tengah jalan, di tempat yang gaduh, karena hal" itu umumnya akan menghalangi kosongnya hati
-Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah-

Friday, 9 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 3, rek

Bismillaah

Ketiga: Meminta fatwa
Diperbolehkan berkata kepada seorang mufti (ulama yang berfatwa): “Ayahku berbuat dhalim kepadaku” atau “Saudaraku, suamiku atau fulan berbuat begini dan begitu kepadaku. Apakah yang demikian diperbolehkan? Dan bagaimana sikapku untuk menghindarinya dan kembali mendapatkan hak-hakku serta menghindari kedhaliman tersebut?”, atau kalimat yang semisalnya.

Jika hal ini diperlukan, maka yang demikian diperbolehkan. Namun yang lebih utama hendaknya mengucapkannya dengan samar, seperti perkataan: “Seseorang atau seorang suami berbuat demikian”. Karena dengan cara ini telah cukup untuk mencapai maksud dan tujuannya, tanpa perlu menyebutkan nama orang tertentu (ta’yin). Walaupun demikian menyebutkannya dengan ta’yin itu pun diperbolehkan

Baarakallahufiikum

Thursday, 8 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 2, rek

Bismillaah

Ghibah atau ngomongin orang ada yang diperbolehkan, menurut Imam An Nawawi rahimahullah...

Kedua: Meminta bantuan dalam mengingkari kemungkaran atau mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar
Untuk melakukan hal di atas, diperbolehkan untuk mengatakan kepada seorang yang diperkirakan dapat membantu menghilangkan kemungkaran: “Fulan berbuat begini dan begitu, tegurlah ia”, atau kalimat" semisalnya. Tujuannya adalah menghilangkan kemungkaran dan mengembalikannya pada jalan yang benar. Jika bukan itu tujuannya, maka hal ini diharamkan.

Baarakallahufiikum

Wednesday, 7 November 2012

ghibah yang diperbolehkan, part 1, rek

Bismillaah

Imam An Nawawi rahimahulah berkata: Ketahuilah bahwa ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar sesuai dengan syariat, yang hal itu tidak mungkin ditempuh kecuali dengan ghibah. Yang demikian terjadi dengan enam sebab

Pertama: mengadukan kedhaliman
Orang yang terdhalimi diperbolehkan untuk melaporkan perbuatan pelakunya kepada penguasa, hakim atau yang lainnya yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk memperlakukannya secara adil. Seperti seorang yang berkata: “Si fulan mendhalimi aku demikian dan demikian”.

Baarakallahufiikum

Tuesday, 6 November 2012

luput dari ibadah jumat, rek

Bismillaah

Apa yang harus dilakukan ketika seorang lelaki luput dari ibadah Jumat?

Shalat jumat adalah kewajiban dari Allah Azza Wa Jalla. Allah telah wajibkan ibadah ini atas hambanya. Jika seseorang luput dari shalat Jum’at karena suatu udzur maka haruslah ada dalil yang menunjukkan wajibnya shalat zhuhur (baginya). Dan di dalam hadits Ibnu Mas’ud.
“Dan barangsiapa yang luput darinya dua rakaat (Jum’at) maka hendaknya dia shalat empat rakaat (zhuhur)”
Ini adalah dalil bahwa orang yang luput dari Jum’at maka hendaknya dia shalat zhuhur.

Adapun yang disebutkan oleh ulama ahli furu’ (cabang" fiqh) tentang faidah" khilaf dalam masalah ini (yakni masalah luputnya dari shalat jumat), maka sama sekali tidak ada asalnya.

Ajwibah An-Nafi’ah an Asilah Lajnah Masjidil Jami’ah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ta’ala

Baarakallahufiikum

Monday, 5 November 2012

makna tawadhu', rek

Bismillaah

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Makna tawadhu’ adalah menerima kebenaran dengan tunduk kepadanya, menghina diri, patuh, dan masuk di bawah perbudakannya. Di mana kebenaran itulah yang mengatur dirinya, sebagaimana seorang raja mengatur kekuasaannya. Dengan inilah seorang hamba akan mendapatkan akhlak tawadhu’. Agar bisa bersikap demikian, seorang muslim membutuhkan ilmu, ikhlas, sabar, dan latihan yang terus-menerus, diiringi doa, serta senantiasa menjaga keselamatan hati dari penyakit"nya (ujub, riya, sum’ah sombong, hasad, dll).
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams : 9-10)
Baarakallahufiikum

Sunday, 4 November 2012

quote #53, rek

Tempat terbaik untuk menghafal adalah di dalam kamar, dan setiap tempat yang jauh dari hal" yang melalaikan
-Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah-

Saturday, 3 November 2012

quote #52, rek

Menghafal di malam hari lebih bermanfaat daripada di siang hari, dan menghafal ketika lapar lebih bermanfaat daripada menghafal dalam keadaan kenyang
-Al Khatib Al Baghdadi rahimahullah-

Friday, 2 November 2012

fesbuk dan twitter, rek

Bismillaah

Fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri tentang FACEBOOK dan TWITTER

Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, apa nasehat engkau kepada yang ikut dalam jaringan pertemanan seperti facebook atau twitter, mengingat banyaknya fitnah yang terjadi? Jazaakamullahu khairan.

Syaikh Ubaid Al-Jabiri menjawab:

Masalah ini adalah suatu bala' (fitnah/musibah) yang menimpa kebanyakan kaum muslimin, namun jika seseorang mampu untuk menjaga diri, kemudian dia tidak berhubungan (pertemanan) kecuali dengan orang yang telah dikenal sebagai ahlus sunnah yang mempunyai keutamaan dan ilmu, kemudian yang demikian itu juga dia tidak menerima (untuk diupload) tulisan" yang disebarkan kecuali dari ilmu yang bermanfaat, maka hal ini tidak mengapa. Adapun jika seseorang membuang waktu dan menyebarkan perkara" yang sia" dan kejelekan, membuat orang terus dalam keaadan seperti ini (kecanduan) tanpa ada perbaikan, maka hal tersebut adalah salah, terlebih lagi apabila dia memuat tulisan" ahlul bid'ah dan kagum dengannya, maka hal ini berbahaya bagi dia karena akan membuat pengkaburan baginya sehingga dia memandang suatu bid'ah merupkan bagian dari sunnah.

Al-Liqo' Al-Maftuh ke tiga, Daurah Asatidzah Jogja, 30 Juni 2012 !

Baarakallahufiikum

Thursday, 1 November 2012

hakikat khamr, rek

Bismillaah
"Khamar itu tak lebih dari sekedar air dan buah yang dicampur terus diolah, kenapa bisa haram?"

"Kalau segelas air saya siramkan ke wajahmu, apakah terasa sakit?"
"Tidak"
"Kalau aku mengambil segenggam pasir lalu aku lemparkan ke wajahmu apa terasa sakit?"
"Tidak juga"
"Sekarang, kalau segenggam semen aku pukulkan ke wajahmu apa terasa sakit?"
"Tentu tidak juga"
"Kemudian, sekarang aku campurkan air, pasir, dan semen. Kemudian aku cetak dan jemur dibawah terik dan mengering, lalu dengannya aku pukulkan ke wajahmu kira" bagaimana ?"
"Tentu sakit sekali, bahkan bisa jadi aku mati karenanya"

"Ya Begitulah hakikat khamar, kalau komposisinya dicampur kemudian diolah dan dijadikan khamar yang memabukkan tentulah akan menjadi haram"

(Kisah Iyas bin Mu'awiyah Al-Muzani seorang Tabi'in yang terkenal kecerdasannya)
Baarakallahufikum