Sunday, 30 September 2012

quote #44, rek

Malu adalah memerhatikan nikmat" (Allah Azza Wa Jalla) dan menganggap dirinya kurang (mensyukuri nikmat" tersebut). Dari keduanya terlahir rasa malu
-Al Qasim Al Junaidi rahimahullah-

Saturday, 29 September 2012

quote #43, rek

Para ulama mengatakan bahwa malu hakikatnya adalah akhlak yang mengantarkan seseorang untuk meninggalkan kejelekan dan menghalanginya dari mengurangi hak" orang lain
-Imam An Nawawi rahimahullah-

Friday, 28 September 2012

sebab taubat, rek

Bismillaah
Perhatikanlah nasehat

“Wahai saudaraku, apakah engkau akan menunggu kehilangan empat atau lima teman"mu agar engkau bisa mengambil pelajaran darinya? Dan tahukah kamu, bahwa terkadang bukan engkau yang bertaubat karena sebab kematian teman"mu, melainkan engkaulah yang menjadi sebab pertaubatan teman"mu karena kematianmu di atas maksiat dan kerusakan.”

Baarakallahufiikum

Thursday, 27 September 2012

fitnah syubhat, rek

Bismillaah
Perhatikanlah nasehat!

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:
"Timbulnya fitnah syubhat itu disebabkan oleh tidak tajamnya pandangan hati dan minimnya ilmu agama. Terlebih lagi jika diiringi dengan niat awal yang keliru dan demi memuaskan hawa nafsu belaka. Dari sinilah terjadinya fitnah dan musibah terbesar

Fitnah syubhat ini akan bermuara pada kekufuran dan kemunafikan. Inilah fitnah yang menimpa orang-orang munafik dan ahli bid'ah sesuai dengan tingkat kebid'ahannya. Mereka melakukan bid'ah lantaran fitnah syubhat sehingga mereka tidak mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil, serta antara petunjuk dan kesesatan.

Hanya dengan mengikuti Rasulullah dan menjadikan beliau sebagai satu"nya rujukan dalam seluruh masalah agama, baik mengenai permasalahan yang kecil maupun yang besar, yang zhahir (lahir) maupun yang batin, mengenai 'aqidah maupun amaliah, dan mengenai hakikat maupun syari'at, niscaya kita akan selamat dari fitnah syubhat ini. Oleh karena itu, janganlah menjadikan beliau sebagai Rasul hanya dalam satu urusan agama saja, sementara mengenai urusan lainnya kita berpaling. Seharusnya kita menjadikan beliau sebagai Rasul dalam segala sesuatu yang dibutuhkan umat, baik dalam tataran ilmu ataupun amal yang hanya dapat dapat diterima dan diambil dari beliau. Seluruh petunjuk itu bermuara pada perkataan dan perbuatan Rasulullah, sedangkan segala sesuatu yang menyimpang darinya adalah sesat.

Baarakallahufiikum

Wednesday, 26 September 2012

jadi anak berbakti, rek

Bismillaah
Masih nyambung ama yang kemarin nih. Saya ini kan masih berusaha jadi anak yang berbakti ya. Ya postingan di bawah ini juga jadi nasehat kepada saya sendiri sih...

Ada setidaknya tiga persyaratan yang harus dipenuhi, agar seorang anak bisa disebut sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya:

Satu, lebih mengutamakan ridha dan kesenangan kedua orang tua daripada ridha diri sendiri, isteri, anak, dan seluruh manusia.

Dua, menaati orang tua dalam semua apa yang mereka perintahkan dan mereka larang baik sesuai dengan keinginan anak ataupun tidak sesuai dengan keinginan anak. Selama keduanya tidak memerintahkan untuk kemaksiatan kepada Allah.

Tiga, memberikan untuk kedua orang tua kita segala sesuatu yang kita ketahui bahwa hal tersebut disukai oleh keduanya sebelum keduanya meminta hal itu. Hal ini kita lakukan dengan penuh kerelaan dan kegembiraan dan selalu diiringi dengan kesadaran bahwa kita belum berbuat apa" meskipun seorang anak itu memberikan hidup dan hartanya untuk kedua orang tuanya.

Baarakallahufiikum

Tuesday, 25 September 2012

bakti kepada orangtua, rek

Bismillaah
Kalo lagi jauh dari rumah gini jadi pengen posting tentang apa" yang jadi bentuk bakti kepada kedua orangtua (well, saya juga masih belajar sih jadi anak yang berbakti) Here goes,

Pertama, tidak ada komentar yang tidak mengenakkan dikarenakan melihat atau tercium dari kedua orang tua kita sesuatu yang tidak enak. Akan tetapi memilih untuk tetap bersabar dan berharap pahala kepada Allah dengan hal tersebut, sebagaimana dulu keduanya bersabar terhadap bau" yang tidak enak yang muncul dari diri kita ketika kita masih kecil. Tidak ada rasa susah dan jemu terhadap orang tua sedikit pun.

Kedua, tidak menyusahkan kedua orang tua dengan ucapan yang menyakitkan.

Ketiga, mengucapkan ucapan yang lemah lembut kepada keduanya diiringi dengan sikap sopan santun yang menunjukkan penghormatan kepada keduanya. Tidak memanggil keduanya langsung dengan namanya, tidak bersuara keras di hadapan keduanya. Tidak menajamkan pandangan kepada keduanya (melotot) akan tetapi hendaknya pandangan kita kepadanya adalah pandangan penuh kelembutan dan ketawadhuan. Allah berfirman yang artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra' : 24)

Urwah mengatakan jika kedua orang tuamu melakukan sesuatu yang menimbulkan kemarahanmu, maka janganlah engkau menajamkan pandangan kepada keduanya. Karena tanda pertama kemarahan seseorang adalah pandangan tajam yang dia tujukan kepada orang yang dia marahi.

Keempat, berdoa memohon kepada Allah agar Allah menyayangi keduanya sebagai balasan kasih sayang keduanya terhadap kita.

Kelima, bersikap tawadhu’ dan merendahkan diri kepada keduanya, dengan menaati keduanya selama tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah serta sangat berkeinginan untuk memberikan apa yang diminta oleh keduanya sebagai wujud kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya.

Perintah Allah untuk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal" yang disukai oleh anak ataupun hal" yang tidak disukai oleh anak. Bahkan sampai" al-Qur’an memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang" yang kafir.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Lukman: 15)
Baarakallahufiikum

Monday, 24 September 2012

adab dalam majelis ilmu part 6, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang keenam adalah menutup setiap majelis dengan Doa Kaffaratul Majelis

Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang duduk di dalam suatu majelis dan di majelis itu terjadi banyak suara hiruk pikuk, kemudian sebelum bubar dari majelis itu ia mengucapkan, 
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ 
"Maha suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwasanya tiada yang berhak disembah selain engkau, aku memohon ampunanmu dan aku bertaubat kepada-Mu", melainkan Allah mengampuni apa yang terjadi di majlis itu baginya". (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan dishahihkan oleh Al- Albani)
Catatan Tambahan:
Perlu juga ditambahkan di sini, hendaknya para penuntut ilmu yang hadir di sebuah kajian atau daurah mematuhi peraturan yang dibuat oleh panitia demi kelancaran dan ketertiban acara kajian, seperti merekam pada tempat yang telah disediakan, tidak mengaktifkan HP, dll. Ini termasuk ke dalam bab ta'aawun, tolong menolong di dalam kebaikan. Allah berfirman,
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (Al Ma'idah: 2)
Baarakallahufiikum

Sunday, 23 September 2012

quote #42, rek

Orang yang tidak mengerti fiqih muamalah lalu melakukan bisnis, ia akan terjerumus pada riba, semakin terjerumus, semakin jauh terjerumus
-Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu-

Saturday, 22 September 2012

quote #41, rek

Jangan seorang pun berdagang di pasar Madinah kecuali yang mengerti fiqih muamalah, bila tidak, ia akan terjerumus ke dalam riba
-Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu-

Friday, 21 September 2012

adab dalam majelis ilmu part 5, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang kelima adalah tenang dan fokus dalam mendengarkan ceramah

Disebutkan dalam kitab Tadzkiratul Huffazh (1/242) dari Ahmad bin Sinan bahwasanya dulu di majelisnya Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah, tidak ada satu orang pun yang berbicara di dalam majelisnya, tidak ada satu orang pun yang meraut pena mereka, dan tidak ada satu orang pun yang berdiri. Seolah-olah di kepala mereka ada burung, atau seolah-olah mereka sedang berada dalam shalat.

Ini menunjukkan sikap yang tenang di dalam majelis ilmu, sehingga seorang bisa benar" fokus dan meraih faidah seoptimal mungkin.

Baarakallahufiikum

Thursday, 20 September 2012

adab dalam majelis ilmu part 4, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang keempat adalah berakhlaq yang baik dengan saudaranya yang berada di sekitarnya

Hendaknya seorang penuntut ilmu berakhlaq yang baik terhadap teman" dalam kajian tersebut. Seyogyanya dia berucap dan memperlakukan saudaranya dengan santun dan lemah lembut.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Dan bergaullah kepada manusia dengan akhlaq yang baik." (HR. At Tirmidzi, dari Abu Dzar dan Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, sanadnya hasan)
Baarakallahufiikum

Wednesday, 19 September 2012

adab dalam majelis ilmu part 3, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang ketiga adalah berlomba untuk berada di tempat terdepan

Dari Abu Waqid al-Harits bin 'Auf radhiyallahu 'anhu bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedang duduk dalam masjid beserta orang banyak. Lalu ada tiga orang yang datang.

Kedua orang itu berdiri di depan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Adapun yang pertama, setelah ia melihat ada tempat yang lapang dalam majelis itu dia terus duduk di situ, orang yang kedua duduk di belakang orang banyak, sedangkan orang ketiga terus menyingkir dan pergi.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai, beliau bersabda,

"Tidakkah engkau semua suka kalau saya memberitahukan perihal tiga orang? Adapun yang orang yang pertama (yang melihat ada tempat lapang terus duduk di situ), maka ia menempatkan dirinya kepada Allah, kemudian Allah memberikan tempat padanya. Adapun yang lainnya (yang duduk di belakang orang banyak), ia pemalu, maka Allah pun malu padanya, sedangkan yang seorang lagi (yang menyingkir dari majelis), ia memalingkan diri, maka Allah juga berpaling dari orang itu." (Muttafaqun 'alaih)
Namun apabila usahanya untuk duduk di depan itu akan mengganggu saudaranya yang lain dengan memaksa berdesak-desakan, maka hendaknya dia mengalah mencari tempat lain.

Baarakallahufiikum

Tuesday, 18 September 2012

adab dalam majelis ilmu part 2, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang kedua adalah tampil dengan penampilan yang baik

Hendaknya seorang penuntut ilmu tampil dengan penampilan yang bersih dan rapi, memakai minyak wangi sehingga tercium aroma yang menyegarkan dari dirinya. Di dalam hadits Jibril ketika beliau 'alaihissalam datang ke majelis Rasulullah digambarkan bahwa beliau datang dengan penampilan yang baik. Umar radhiyallahu 'anhu mengisahkan,
"Muncul di hadapan kami seorang laki" yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak bekas dari perjalanan jauh.." (HR. Muslim dari Umar radhiyallahu 'anhu)
Baarakallahufiikum

adab dalam majelis ilmu part 1, rek

Bismillaah
Adab dalam majelis ilmu yang pertama adalah mengikhlaskan niat

Menuntut ilmu adalah ibadah yang mulia. Agar ibadah tersebut diterima oleh Allah ta'ala dan berbuah pahala, maka hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga betul keikhlasan niatnya. Allah berfirman,
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama." (Al Bayyinah: 5)
Al Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya dengan apa seseorang meniatkan dirinya dalam menuntut ilmu? Maka beliau pun menjawab, "Hendaknya dia niatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari diri orang lain."

Baarakallahufiikum

Monday, 17 September 2012

penghalang terkabulnya doa, rek

Bismillaah
Sesungguhnya Allah mengabulkan doa" kita. Namun, kadang datang suatu masa di mana kita telah berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla sekian lama namun juga tidak dikabulkan olehNya...

Bisa saja hati kita mati karena sepuluh perkara...
  1. Kita mengenal Allah Azza Wa Jalla namun tidak menunaikan hakNya...
  2. Kita membaca Quran namun tidak mengamalkannya...
  3. Kita mengaku cinta kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam namun meninggalkan Sunnahnya...
  4. Kita mengaku musuhnya setan namun sepakat dengannya...
  5. Kita katakan kita pengen surga namun tidak beramal untuk itu...
  6. Kita katakan kita takut neraka namun menggadaikan diri" kita kepadanya...
  7. Kita katakan bahwa sesungguhnya kematian itu pasti terjadi namun kita tidak bersiap" untuknya...
  8. Kita sibuk dengan aib" saudara" kita dan mencampakkan aib" diri kita sendiri...
  9. Kita memakan nikmat Rabb kita namun tidak mensyukurinya...
  10. Kita mengubur mayat" di antara kita dan tidak mengambil pelajaran darinya...
(Al Hilyah, jilid 8. 15-16)
Baarakallahufiikum

Sunday, 16 September 2012

quote #40, rek

Tidaklah sepantasnya seseorang duduk dengan ahlul bid'ah atau bergaul dengannya, tidak pula punya hubungan dekat dengannya
-Al Imam Ahmad rahimahullah-

Saturday, 15 September 2012

quote #39, rek

Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid'ah, maka hati"lah darinya. Barangsiapa yang duduk bersama ahlul bid'ah dia tidak akan diberi hikmah. Aku menginginkan ada benteng dari besi yang memisahkan aku dengan ahlul bid'ah...
-Al Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah-

Friday, 14 September 2012

tata cara wudhu part 5, rek

Bismillaah
Kita memasuki tata cara wudhu bagian kelima yaitu mengusap kepala.

Karena ini dhahirnya mengusap, maka berbeda hukumnya dengan mencuci. Bila ada satu bagian yang tidak terkena air, maka tetap sah wudhunya. Ukuran kepala yang harus diusap adalah awal tumbuhnya rambut sampai tengkuk.

Perlu diperhatikan bahwa kedua telinga masuk ke dalam kepala. Seain itu, air yang dipakai untuk mengusap telinga ini masih satu air dengan air yang dipakai untuk mengusap kepala.

Bagi mereka yang memakai surban atau jilbab di mana keadaan saat itu susah untuk melepasnya, maka diperbolehkan mengusap di atas (sorbannya atau jilbabnya). Insyaallah ini adalah pendapat yang terkuat.

Baarakallahufiikum

Thursday, 13 September 2012

kesalahan dalam shalat part 7, rek

Bismillaah
Keknya sudah lama rasanya gak membahas kesalahan dalam shalat ya. Sekarang kita menginjak kesalahan dalam shalat bagian ketujuh yaitu menampakkan bahu dalam shalat secara tidak sengaja.

Well, untuk kasus ini silakan lihat postingan sebelumnya di tanggal 14 Agustus 2012. Hukumnya sama kok. Hanya saja di sini saya tambahin beberapa perkataan ulama. Here goes...

Al Qadhi rahimahullah berkata "Sungguh telah ternukil riwayat dari Ahmad yang menunjukkan bahwa perkara tersebut (menampakkan bahu dalam shalat) tidak termasuk syarat shalat dan dia telah mengambil pendapat itu dari riwayat Mutsanna dari Ahmad tentang orang yang shalat memakai sirwal (celana lebar) dan pakaiannya menutupi salah satu dari kedua bahunya, dan yang lainnya terbuka, “Dimakruhkan”. Lalu ditanyakan kepada beliau, “Dia disuruh mengulangi (sholatnya)?” Maka beliau tidak berpendapat wajibnya mengulangi shalat."

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata “Orang yang shalat, wajib meletakkan suatu pakaian di atas bahunya, jika dia mampu menutupinya. Ini adalah pendapat Ibnul Mundzir. Disebutkan dari Abu Ja’far (ia berkata), “Sesungguhnya shalat itu tidak memenuhi bagi siapa yang tidak menutupi kedua bahunya. Kebanyakan fuqaha berkata,“Yang demikian itu tidak wajib dan bukan menjadi syarat sahnya shalat. Ini pendapat Malik, as-Syafi’iy dan yang lainnya, sebab keduanya bukan aurat. Maka anggota badan yang lain diserupakan dengannya”. (Lihat Al-Mughni(1/618))

Baarakallahufiikum

Wednesday, 12 September 2012

sombong dengan ilmu part 4, rek

Bismillaah
Masih lanjut ama postingan kemaren nihh. Postingan terakhir dari seri sombong dengan ilmu...

Tidakkah kita pernah mendengar kisah seorang yang dilemparkan ke tengah" api neraka, keluar seluruh isi perutnya dan berputar-putar seperti keledai yang menggiling gandum? Siapakah ia?


Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Didatangkan seseorang pada hari kiamat, kemudian dilemparkan ke dalam api neraka hingga keluar seluruh isi perutnya dan berputar-putar seperti keledai yang sedang menggiling gandum. Maka penduduk neraka mengelilinginya seraya berkata: “Apa yang menimpamu wahai fulaan? Bukankah engkau menyuruh kam ipada yang baik dan mencegah kami dari yang mungkar?” Ia menjawab: “Sungguh aku memang menyuruh yang baik, tapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang yang mungkar, tapi aku justru mengerjakannya.” (HR. Bukhari Muslim)
Dengan kata lain, orang tersebut adalah seorang da’i yang berdakwah dengan ilmunya. Namun ia tidak mengamalkan apa yang telah diketahuinya.

Berkata Sa’id ibnu Jubair rahimahullaah : “Seseorang akan tetap disebut ulama (orang yang berilmu) selama dia belajar. Adapun jika dia berhenti mencari ilmu dan menganggap dirinya telah cukup, maka dia menjadi orang yang paling bodoh.” (Min Hadyi Salaf , hal. 77)

Berkata Ibnu Jama’ah rahimahullaah : “Janganlah seorang sombong menolak untuk mengambil faedah ilmu yang ia belum ketahui dari orang yang di bawahnya! Bahkan hendaklah ia bersungguh-sungguh mencari faedah ilmu, karena hikmah adalah milik seorang mukmin di manapun ia temui hendaklah ia mengambilnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi , Khatib Al-Baghdadi, melalui Min Hadyi Salaf , hal. 77)

Berkata murid dari Imam Syafi’i yang bernama Khumaidi rahimahullaah : “Aku menemani Imam Syafi’i dari Makkah ke Mesir. Maka aku mendapatkan faedah dari beliau masalah" fiqh, dan beliau mengambil faedah dariku ilmu hadits. Dan telah shahih riwayatnya bahwa para shahabat juga mengambil riwayat dari kalangan tabi’in.” (Tadzkiratu as-Sami’ wal Mutakallim , Ibnu Jama’ah, melalui Min Hadyi Salaf , hal. 77)

Berkata Waqi’, Sufyan ibnu Uyainah dan Abu ‘Abdillah Al-Bukhari rahimahumullaah : “Sungguh seorang ahli hadits tidak dikatakan sempurna atau seseorang tidak dikatakan berilmu, hingga ia mengambil dari orang yang di atasnya, dari yang sekelasnya dan juga dari yang di bawahnya.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi , Khatib Al-Baghdadi, melalui Min Hadyi Salaf , hal. 77)

Semoga kita termasuk golongan mereka yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya....
Baarakallahufiikum

Tuesday, 11 September 2012

sombong dengan ilmu part 3, rek

Bismillah
Masih lanjut dari postingan hari Senin kemarin nih...

Adab berkaitan erat dengan ilmu. Tidak ada adab tanpa ilmu dan tidak ada ilmu tanpa adab.

Berkata ‘Abdullah ibnul Mubarak rahimahullaah : “Hampir" adab itu merupakan dua pertiga ilmu.” (Sifatu Shafwah , Ibnul Jauzi, juz 4, hal. 120) Oleh karena itu para ulama mendidik anak" mereka dengan adab dan akhlaq terlebih dahulu sebelum mendapatkan ilmu.

Berkata Abu ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri rahimahullaah : “Mereka (para ulama) tidak mengirimkan anak"nya untuk mencari ilmu hingga mendidiknya dengan adab, akhlaq dan ibadah selama 20 tahun.” (Hilyatul Auliya , Abu Na’im Asbahani, juz 6, hal. 367 melalui Min Hadyi Salaf , Dr. Muhammad Zahrani, hal. 23)

Mereka membedakan antara pendidikan (tarbiyyah) dan pengajaran (ta’lim) . Yakni anak-anak mereka dididik, dilatih dengan akhlaq dan adab yang baik, baru kemudian mereka dikirim kepada para ulama. Dengan demikian ketika menimba ilmu, mereka dalam keadaan memiliki adab dan akhlaq yang baik serta jauh dari kesombongan. Hingga ilmu yang mereka dapatkan menjadi berkah.

Berkata Abu Zakariya Yahya bin Muhammad An-Anbari (w 344H): “Ilmu tanpa adab adalah seperti api tanpa kayu bakar. Sedangkan adab tanpa ilmu seperti badan tanpa ruh.” (Al-Jami li Akhlaqi ar-Rawi , Al-Baghdadi 1/80, melalui Min Hadyi Salaf , Dr. Muhammad Zahrani, hal. 24)

Muhammad bin Isa Az-Zajjaj rahimahullaah juga mengatakan: “Aku mendengar Abu Ashim berkata: ‘Barangsiapa yang mencari ilmu hadits, maka ia sedang mencari ilmu yang paling mulia di dunia ini. Maka seharusnyalah ia menjadi orang yang paling mulia akhlaqnya.’” (Al-Jami’ li Akhlaqi ar-Rawi , 1/78)

Lupakah kita kalau sesungguhnya ilmu yang kita punya akan ditanya tentang konsekuensi amalannya?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba hingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia diamalkan, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dikeluarkan, dan tentang badannya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi , Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Jami’ash-Shaghir)
*bersambung*

Baarakallahufiikum

Monday, 10 September 2012

sombong dengan ilmu part 2, rek

Bismillaah
Masih lanjut dari postingan Jumat kemarin nihh

Siapakah Abu Syibrin itu?
Abu Syibrin adalah orang yang baru mendapatkan ilmu pada jengkal pertama.Sedangkan para ulama menyatakan bahwa ilmu mempunyai 3 jengkal. Orang yang mencapai jengkal pertama menjadi sombong, pada jengkal kedua ia menjadi tawadhu’ (rendah hati), sedangkan pada jengkal ketiga ia akan merasa kalau dirinya belum tahu apa"...

Juga sering terjadi pada sebagian pencari ilmu penyakit sombong, merasa dirinya paling shalih dan menganggap orang lain semuanya di bawahnya. Kemudian merasa diri paling dekat dengan Allah dan dicintai-Nya, sedangkan yang lain dianggap orang-orang yang jauh dan tidak dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan biasanya, pada puncaknya dia merasa dosa"nya diampuni, sedangkan dosa orang lain tidak akan diampuni.

Diriwayatkan dalam hadits qudsi dari Jundub Al-Bajaly radhiyallaahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya ada seseorang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan.” Maka Allah berfirman: “Siapa yang lancang mengatakan atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan?! Sungguh Aku telah mengampuni fulan dan menggugurkan amal"mu.” (HR. Muslim)
Kisahnya secara rinci diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Sesungguhnya dahulu di kalangan Bani Israil ada dua orang yang bersaudara. Salah satunya seorang pendosa, sedangkan yang lainnya seorang yang rajin beribadah. Dan bahwasanya sang ahli ibadah selalu melihat saudaranya bergelimang dosa, maka ia berkata: “Kurangilah!” Pada suatu hari ia mendapatinya dalam keadaan berdosa, maka ia berkata: “Kurangilah!” Berkata si pendosa: “Biarkanlah antara aku dan Rabb-ku! Apakah engkau diutus untuk menjadi penjagaku?” Sang ahli ibadah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu!” atau: “Demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu kedalam surga!” Dicabutlah ruh kedua orang tersebut dan dikumpulkan di sisi Allah. Maka Allah berfirman kepada ahli ibadah: “Apakah engkau mengetahui tentang Aku? Ataukah engkau merasa memiliki apa yang ada di tangan-Ku?” Dan Allah berkata kepada si pendosa: “Pergilah engkau dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku!” Dan berkata kepada ahli ibadah: “Bawalah ia ke dalam neraka!” (HR. Ahmad dan Abu Dawud , Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir)
Tidaklah kaum khawarij mengkafirkan kaum muslimin , kecuali karena kesombongan. Mereka merasa tidak pernah berdosa, sehingga menganggap orang yang berdosa sebagai kafir. Tidaklah mereka menghalalkan darah kaum muslimin kecuali karena kesombongan. Dan tidaklah kaum mu’tazilah dan rasionalis (JIL) meremehkan ilmu fiqh dan hadits, kecuali karena kesombongan pula.

Berkata Al-Anasi rahimahullaah : “Hati"lah dari penyakit para pembesar yaitu kesombongan. Sesungguhnya kesombongan, bangga diri dan kedengkian adalah awal dari kemaksiatan yang Allah dimaksiati dengannya. Maka ketahuilah bahwa merasa tinggi di hadapan gurumu, itu adalah kesombongan, menolak faedah ilmu dari orang" yang di bawahmu adalah kesombongan dan tidak beramal dengan apa yang diketahui juga merupakan belumbang kesombongan dan tanda kalau dia akan terhalangi dari ilmu.” (Siyar , juz IV, hal. 80)

*bersambung*
Baarakallahufiikum

Sunday, 9 September 2012

quote #38, rek

Seseorang tidak akan pandai sampai mengambil ilmu dari orang yang di atasnya, atau selevel dengannya, juga dari orang yang lebih rendah darinya
-Al Imam Waki' rahimahullah-

Saturday, 8 September 2012

quote #37, rek

Allah Azza Wa Jalla merahmati seseorang yang membeberkan aibku secara sembunyi" antara aku dan dia saja. Karena nasehat di hadapan orang banyak adalah celaan.
-Mis'ar bin Kidam rahimahullah-

Friday, 7 September 2012

sombong dengan ilmu part 1, rek

Bismillaah
Seorang yang memiliki ilmu kadang terkena penyakit sombong dan bangga diri. Kalau ilmu yang dimiliki adalah ilmu" dunia, sangat mungkin ini terjadi. Namun yang aneh jika ia mempelajari ilmu agama, seharusnya makin bertambah ilmunya bertambah pula kebaikannya.

Ada pertanyaan di sana: “Untuk apakah ia belajar?” Karena niat itulah yang akan menjawab mengapa seorang bertambah ilmu agamanya, malah semakin menjadikannya sombong. Jika ia meniatkan belajarnya untuk beramal dengan ilmunya, maka semakin bertambah ilmunya ia akan semakin shalih. Namun sebaliknya jika ia belajar hanya ingin disebut sebagai alim ulama, atau belajar untuk mengalahkan seseorang, maka tidak akan berkah ilmunya dan tidak akan berbuah dengan amalan".

Ka’b bin Malik radhiyallaahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam :
“Barangsiapa yang mencari ilmu untuk mendapatkan sebutan sebagai ulama atau memperdaya orang" yang bodoh atau untuk memalingkan manusia kepadanya, maka atasnya api neraka.” (HR. Hakim , Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahihul Jami’ ash-Shaghir)
Berkata Abu Yusuf Al-Qadhi rahimahullaah : “Wahai kaumku, harapkanlah dengan ilmu kalian keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Sungguh tidaklah aku duduk di suatu majelis ilmu yang aku niatkan padanya tawadhu’, kecuali aku bangun dalam keadaan telah mendapat kemuliaan. Sebaliknya tidaklah aku duduk di satu majelis ilmu yang aku niatkan untuk mengalahkan mereka kecuali aku bangun dalam keadaan Allah bukakan aibku. Ilmu adalah salah satu ibadah dan taqarrub.” (Tadzkiratu As-Sami’ wal Mutakallim , Ibnu Jama’ah, melalui Min Hadyi Salaf , hal. 47)

Khatib Al-Baghdadi rahimahullaah meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu , berkata: “Ilmu menuntut amalan. Kalau ia disambut (diamalkan) ia akan menetap, namun kalau tidak dia akan pergi.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi , melalui Hilya Thalabil ‘Ilmi , hal. 13-14)

Dikatakan pula dalam sebuah syair: “Ilmu akan menjauh dari seorang yang sombong, seperti air bah menjauh dari tempat yang tinggi.”

Seringkali seorang yang baru mendapatkan sedikit ilmu terkena penyakit sombong, merasa dirinya sebagai ulama dan melihat orang lain sebagai orang" yang bodoh. Inilah yang dijuluki oleh para ulama dengan ‘Abu Syibrin .

Siapakah 'Abu Syibrin itu? Tunggu postingannya hari Senin besok...
Baarakallahufiikum

Thursday, 6 September 2012

fenomena hijabers, part 2, rek

Bismillaah
kok mirip sama kerudung" kaum Muslim sekarang yaa? Fenomena tasyabbuh kah? :serem

Baarakallahufiikum

Wednesday, 5 September 2012

fenomena hijabers, part 1, rek

Bismilaah
sekali" posting gambar ah. Well, gambar ini sudah beredar sejak beberapa bulan yang lalu sih. Tapi, keknya masih sejalan deh dengan keadaan sekarang. Here goes.



Baarakallahufiikum

Tuesday, 4 September 2012

tidur habis Shubuh, rek

Bismillaah
Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam kitabnya Zaadul Ma'aad, bahwasanya orang yang tidur di pagi hari akan terhalang dari mendapatkan rizki. Sebab waktu subuh merupakan waktu di mana makhluk mencari rizkinya, dan pada waktu tersebut Allah membagi rizki kepada para makhluk

Dan beliau menukil dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu bahwasanya dia melihat anaknya tidur di waktu pagi maka ia berkata kepada anaknya "Bangunlah engkau! Apakah kamu akan tidur sementara waktu pagi adalah waktu pembagian rezki??"

Menurut para salaf, tidur yang kurang baik adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut merupakan waktu untuk menuai pahala yang berlimpah. Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang" shalih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi merupakan waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barakah." (Madarijus Salikin)

Baarakallahufiikum

Monday, 3 September 2012

mencintai Allah, rek

Bismillaah
Al-Hasan rahimahullah berkata, “Ketahuilah, engkau tidak dianggap mencintai Rabbmu hingga engkau mencintai ketaatan kepada-Nya.”

Dzun Nun rahimahullah ditanya, “Kapankah aku dikatakan mencintai Rabbku?” Beliau menjawab, “Seseorang dianggap mencintai Allah apabila ia bersabar terhadap hal" yang dibenci-Nya.”

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi tidak menjaga batasan"-Nya, bukanlah orang yang jujur.”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hlm. 104, cet. Darul ‘Aqidah)
Baarakallahufiikum

Sunday, 2 September 2012

quote #36, rek

Tanda seorang pemberi nasehat yang menginginkan kebaikan bagi yang dinasehatinya adalah nasehat tersebut dilakukan tidak di hadapan orang lain. Tanda orang yang ingin menjelekkan (menjatuhkan) yang dinasehati adalah menasehatinya di hadapan banyak orang
-Ibnu Hibban rahimahullah-

Saturday, 1 September 2012

quote #35, rek

Seyogyanya, nasehat engkau sampaikan ketika sedang sendirian (tidak di hadapan orang banyak). Beda antara nasehat dengan menjatuhkan (kehormatan) orang lain adalah dalam masalah ini (dilakukan dengan tertutup atau di hadapan orang banyak)
-Ibnu Qudamah rahimahullah-